Film Wish I Were Born From a Blanket, Jiwa Cilik Rapuh dalam Rumah Gaduh

Jum'at, 24 Desember 2021 - 15:42 WIB
Hubungan beracun mematikan siapa pun yang ada di dalamnya. Ungkapan “stay together for the kids” bagi pasutri yang terus menyakiti, tapi seolah enggan berpisah karena ingin anak mereka tidak menjadi anak "broken home” dengan pengasuhan terpisah, adalah sebuah fenomena konyol yang masih banyak terjadi di mana-mana. Berani keluar dan menyudahi lingkaran setan seperti yang dilakukan Lala sepatutnya dilakukan oleh Ayah dan Ibu.

“Broken home” tidak melulu tergambar dari anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Dua rumah jauh lebih baik dari satu medan perang. Anak berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dan tulus, dari orang-orang yang sudah damai dengan dirinya, terlepas apakah pengasuhan dilakukan di bawah satu atap atau tidak.

Baca Juga: 5 Drama Korea 2021 yang Paling Mengecewakan Penonton, ada yang Menghina Indonesia

Terlintas dalam benak, apakah Lala dewasa akan menjadi skeptis dengan pernikahan? Atau justru ia akan bertekad memiliki rumah tangga yang lebih baik dari orang tuanya?

Masyarakat dan lingkungan nantinya yang akan mengarahkan ke mana keputusan Lala bermuara. Stigma perceraian sebagai sebuah kenistaan adalah bom waktu yang membawa anak-anak yang terluka ini ke dalam kesesatan. Sebuah pekerjaan rumah besar bagi negeri yang penuh penghakiman dan standar moral yang tidak simpatik.

Winda Reds

Penikmat film dari komunitas KamAksara
(ita)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!