Beresiko Tingkatkan Penyakit Kronis, Jangan Sepelekan Kegemukan
Senin, 15 Juni 2020 - 11:51 WIB
Lima tahun ke depan angka ini diprediksi meningkat. Obesitas sentral telah lama terbukti berkaitan dengan munculnya berbagai masalah kesehatan. Dr Raissa menekankan bahwa obesitas termasuk penyakit kronis dan akibat yang ditimbulkan banyak, mulai otak hingga pembuluh darah, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, fatty liver, kanker jenis tertentu, osteoarthritis, sleep apnea. Sleep apnea atau henti napas saat tidur, misalnya, bisa menyebabkan kematian mendadak.
Obesitas termasuk penyakit tidak menular (PTM), di mana secara global kematian akibat PTM mencapai 36 juta jiwa/tahun. Sepuluh tahun mendatang bahkan diprediksi meningkat 17%.
Lantas, bagaimana mencegahnya? Intervensi nutrisi adalah jawabannya, mencakup stop merokok, makan makanan sehat, olahraga, dan hindari alkohol berlebihan. "Untuk mengetahui siapa yang berisiko terkena PTM bisa dilihat dari indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Lebih dari 80 cm (wanita) berisiko PTM, sedangkan pria lebih dari 90 cm," urainya. (Lihat videonya: Wisata Kebun Teh Puncak Bogor Mulai Dipenuhi Pengunjung)
Tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, fungsi hati dan ginjal, serta gejala klinis adalah parameter lain untuk menentukan apakah berisiko PTM. Dr Raissa menjelaskan, untuk sukses diet sebetulnya tidak sulit. Kuncinya terletak pada makanan, olahraga, gaya hidup sehat. Ketiganya tidaklah instan, tetapi harus diulang.
Diet bukan berarti tidak makan, tetapi mengurangi makan. Porsi kecil tapi sering, pilih piring yang kecil saja. Perhatikan jenis yang dimakan, waktunya, lokasi makan, dan bagaimana cara makanan tersebut diolah. Diketahui, kalori nasi putih adalah 200 kal, ayam goreng tepung 520 kal, ayam bakar 150 kal, gorengan persatuan 200 kal, dan es teh manis 100 kal per gelas.
Obesitas termasuk penyakit tidak menular (PTM), di mana secara global kematian akibat PTM mencapai 36 juta jiwa/tahun. Sepuluh tahun mendatang bahkan diprediksi meningkat 17%.
Lantas, bagaimana mencegahnya? Intervensi nutrisi adalah jawabannya, mencakup stop merokok, makan makanan sehat, olahraga, dan hindari alkohol berlebihan. "Untuk mengetahui siapa yang berisiko terkena PTM bisa dilihat dari indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Lebih dari 80 cm (wanita) berisiko PTM, sedangkan pria lebih dari 90 cm," urainya. (Lihat videonya: Wisata Kebun Teh Puncak Bogor Mulai Dipenuhi Pengunjung)
Tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, fungsi hati dan ginjal, serta gejala klinis adalah parameter lain untuk menentukan apakah berisiko PTM. Dr Raissa menjelaskan, untuk sukses diet sebetulnya tidak sulit. Kuncinya terletak pada makanan, olahraga, gaya hidup sehat. Ketiganya tidaklah instan, tetapi harus diulang.
Diet bukan berarti tidak makan, tetapi mengurangi makan. Porsi kecil tapi sering, pilih piring yang kecil saja. Perhatikan jenis yang dimakan, waktunya, lokasi makan, dan bagaimana cara makanan tersebut diolah. Diketahui, kalori nasi putih adalah 200 kal, ayam goreng tepung 520 kal, ayam bakar 150 kal, gorengan persatuan 200 kal, dan es teh manis 100 kal per gelas.
Lihat Juga :