Ini Kata Mereka yang sudah Nonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness
Kamis, 05 Mei 2022 - 07:17 WIB
“Itu adalah titik lemah besar di film yang kuat ini. Sekuel ini memperkenalkan informasi yang cukup bagi kemajuan masa depan MCU sementara menceritakan cerita yang relatif close-ended, tapi, yang membuat Doctor Strange 2 berbeda adalah estetika dan elemen horornya, yang membuat orang akan senang karena Raimi memutuskan untuk menukanginya,” papar dia.
Ross Bonaime dari Collider melihat kalau Doctor Strange in the Multiverse of Madness punya jalan berbeda dengan sejumlah serial dan film di MCU sebelumnya, seperti Moon Knight, Loki, Shang-Chi, dan Black Widow. Film dan serial itu sebelumnya hanya berfokus pada satu bagian spesifik dari semesta besar itu. Menurut Ross, sekuel Doctor Strange itui berusaha menyatukan benang-benang yang berjuntai dan memperlihatkan skala serta kemungkinan dunia itu. Sayang, film itu tidak bisa menyeimbangkan banyak piring itu secara efektif.
“Sementara sifat interkoneksi MCU pernah menjadi kekuatan semesta itu, sekarang, itu nyaris mencekik apa yang berusaha dilakukan Raimi di film ini. Sebagai film yang menyoroti bakat Raimi sebagai sutradara cerita superhero dan dongeng horror, Doctor Strange berhasil. Tapi, sebagai kepingan yang lebih besar di Marvel Cinematic Universe yang selalu meluas, Multiverse of Madness mulai memperlihatkan retakan dalam usaha untuk terus membangun dan menaikkan apa yang muncul sebelumnya,” ujar dia.
David Ehrlich dari IndieWire memberikan bocoran tipis kalau Doctor Strange 2 menampilkan sebuah adegan yang membuat seorang anak di belakangnya berteriak. “Itu adalah momen sempurna di sebuah film tentang kehilangan dan hal-hal yang kita temukan untuk menggantinya—sebuah film tentang orang-orang patah hati yang mencari kekuatan untuk bertahan tanpa hal yang yang membuat mereka menjadi diri mereka, di sebuah franchise yang akhirnya mulai menemukan cara untuk meakukannya dengan tepat,” tulisnya.
“The Multiverse of Madness itu berisik, panik, dan kadang agak kacau, tapi ini tidak pernah kurang menghibur. Penggemar setia MCU akan menyoraki sejumlah referensi; yang suka Raimi akan memuji rasa Raimi-nya; dan kami duga mereka, penonton yang yang bingung dan tidak siap setidaknya akan menghargai cara film ini menghidupkan 100% judulnya,” kata Dan Jolin dari Empire.
Owen Gleiberman dari Variety memuji cara Sam Raimi menyutradarai film ini. Doctor Strange in the Multiverse of Madness adalah film superhero pertamanya dalam 9 tahun sejak dia merilis Oz the Great and Poweful. Menurut dia, di sejumlah adegan, penonton akan merasakan semangat yang bersahabat dan bakat imajinatif yang berubah yang dia tunjukkan dalam dua film Spider-Man pertamanya.
“Menyenangkan melihatnya menampilkan Illuminati sebagai semacam tim superhero realitas miring, atau atau menggelar duel dengan nada musik yang sebenarnya (adegan di mana musik Night on Bald Mountain Danny Elfman-bertemu-doom-rock unggul). Penampilan Olsen membangkitkan api opera bahkan ketika dia ditampilkan sebagai ibu tanpa alas kaki yang berlumuran darah Carrie White,” ujar dia.
Ross Bonaime dari Collider melihat kalau Doctor Strange in the Multiverse of Madness punya jalan berbeda dengan sejumlah serial dan film di MCU sebelumnya, seperti Moon Knight, Loki, Shang-Chi, dan Black Widow. Film dan serial itu sebelumnya hanya berfokus pada satu bagian spesifik dari semesta besar itu. Menurut Ross, sekuel Doctor Strange itui berusaha menyatukan benang-benang yang berjuntai dan memperlihatkan skala serta kemungkinan dunia itu. Sayang, film itu tidak bisa menyeimbangkan banyak piring itu secara efektif.
“Sementara sifat interkoneksi MCU pernah menjadi kekuatan semesta itu, sekarang, itu nyaris mencekik apa yang berusaha dilakukan Raimi di film ini. Sebagai film yang menyoroti bakat Raimi sebagai sutradara cerita superhero dan dongeng horror, Doctor Strange berhasil. Tapi, sebagai kepingan yang lebih besar di Marvel Cinematic Universe yang selalu meluas, Multiverse of Madness mulai memperlihatkan retakan dalam usaha untuk terus membangun dan menaikkan apa yang muncul sebelumnya,” ujar dia.
David Ehrlich dari IndieWire memberikan bocoran tipis kalau Doctor Strange 2 menampilkan sebuah adegan yang membuat seorang anak di belakangnya berteriak. “Itu adalah momen sempurna di sebuah film tentang kehilangan dan hal-hal yang kita temukan untuk menggantinya—sebuah film tentang orang-orang patah hati yang mencari kekuatan untuk bertahan tanpa hal yang yang membuat mereka menjadi diri mereka, di sebuah franchise yang akhirnya mulai menemukan cara untuk meakukannya dengan tepat,” tulisnya.
“The Multiverse of Madness itu berisik, panik, dan kadang agak kacau, tapi ini tidak pernah kurang menghibur. Penggemar setia MCU akan menyoraki sejumlah referensi; yang suka Raimi akan memuji rasa Raimi-nya; dan kami duga mereka, penonton yang yang bingung dan tidak siap setidaknya akan menghargai cara film ini menghidupkan 100% judulnya,” kata Dan Jolin dari Empire.
Owen Gleiberman dari Variety memuji cara Sam Raimi menyutradarai film ini. Doctor Strange in the Multiverse of Madness adalah film superhero pertamanya dalam 9 tahun sejak dia merilis Oz the Great and Poweful. Menurut dia, di sejumlah adegan, penonton akan merasakan semangat yang bersahabat dan bakat imajinatif yang berubah yang dia tunjukkan dalam dua film Spider-Man pertamanya.
“Menyenangkan melihatnya menampilkan Illuminati sebagai semacam tim superhero realitas miring, atau atau menggelar duel dengan nada musik yang sebenarnya (adegan di mana musik Night on Bald Mountain Danny Elfman-bertemu-doom-rock unggul). Penampilan Olsen membangkitkan api opera bahkan ketika dia ditampilkan sebagai ibu tanpa alas kaki yang berlumuran darah Carrie White,” ujar dia.
Lihat Juga :