CERMIN: Perjalanan Membawamu
Sabtu, 16 Juli 2022 - 18:16 WIB
Foto: Mahakarya Pictures
Indonesia yang pada masa lalu sering dijuluki Mooi Indie memang masih punya banyak kejutan di sana-sini yang menunggu untuk ditemukan oleh sineas atau kreator konten. Kita punya lansekap pegunungan yang membius, pemandangan samudera yang membuat kita menahan napas. Juga alam pedesaan di banyak tempat dengan segala keasriannya.
Film bergenre road movie memang punya potensi lebih besar untuk menguak semua itu. Seiring kamera berjalan, mata kita juga ikut menelusuri perjalanan yang dilakukan para karakter di dalamnya, mencermati tempat demi tempat yang disinggahi oleh para karakter dan cara mereka beradaptasi dengan masing-masing lingkungan tersebut.
Dalam Perjalanan Pertama, kita berkenalan dengan Tan dan Yahya. Seorang kakek dengan cucu yang masih berusia 10 tahun. Seorang kakek dengan masa lalu tertutup rapat dan seorang bocah dengan rasa ingin tahu yang besar. Seorang kakek yang menutup diri kepada dunia dengan seorang bocah yang justru baru memulai perjalanannya kepada dunia.
Ada satu masa saat kita mungkin adalah Tan, yang kecewa dengan apa yang kita lakukan pada masa lalu. Merasa berdosa di masa lalu dan melakukan penebusan dosa dengan caranya sendiri.
Dan kita bisa saja adalah Yahya. Yang ingin tahu segala rahasia yang tertutup rapat soal asal usul kita. Yang selalu merasa terpenjara dengan ketidaktahuan itu. Dan yang ingin agar sang kakek bisa berhenti memberinya cerita fiksi tentang siapa dirinya sebenarnya.
Foto:Mahakarya Pictures
Bagi sebagian orang, masa lalu adalah momok. Bagi sebagian orang, masa lalu adalah penjara. Bagi Tan, ia ingin menghapus masa lalu itu. Ia ingin menguburnya dan memulai hidup baru.
Namun masa lalu tak pernah bisa dihapus dan dikubur begitu saja. Ada saatnya ia kembali hadir, bukan untuk melukai masa depan, namun justru untuk mengingatkan bahwa masa depan ada karena masa lalu.
Bagi Yahya, ia tak punya masa lalu. Justru karena tak punya masa lalu itu, hidupnya terasa tak jelas. Ia mengalami krisis identitas karena tak tahu siapa ayah dan ibunya. Ia mencoba menatap masa depan tanpa pernah tahu masa lalu seperti apa yang pernah dialaminya.
Lihat Juga :