9 Anime Ini Mengangkat Mental Breakdown dengan Cara Positif
Selasa, 02 Agustus 2022 - 20:40 WIB
Deku punya banyak contoh emotional breakdown besar-besaran dan kecil selama serial ini. Semuanya menarik dan terlihat nyata. Sementara tidak ada contoh spesifik yang dikutip di sini, kerapuhannya mempromosikan nilai positif ketika terkait kesehatan mental dan membahasnya.
Foto: Otosection
Gon berhenti mempedulikan hidupnya sendiri setelah mendengar kalau dia dibohongi terkait peluang menghidupkan kembali ibunya, Kite. Gon dikenal sebagai anak yang biasanya riang, bahagia, dan ceria. Tapi insiden itu mengubah Gon menjadi monster pembunuh yang kaku begitu sadar realitas situasinya.
Gon benar-benar menarik karena betapa relatable-nya emosi yang dia rasakan, meskipun situasi sebenarnya jauh dari relatable. Ini menunjukkan kepada penonton kalau tidak apa-apa berduka atas mereka yang sudah meninggal. Ini juga menunjukkan apa yang bisa dilakukan rasa sakit pada seseorang.
Foto: Twitter
One Piece adalah anime shounen dengan sejumlah contoh menormalkan dan memamerkan gangguan emosi dengan cara organik dan traumatis. Salah satu yang paling menyentuh adalah breakdown yang dialami Luffy menyusul kematian kakaknya, Portgas D Ace. Yang dialami Luffy ini relatable dengan banyak orang karena menunjukkan betapa samanya perasaan kehilangan, duka cita, dan pengalaman menghadapi kematian. Di serial ini, Luffy juga sering terlihat menangis tanpa peduli siapa yang melihatnya.
Adegan ini terjadi setelah Luffy selama berhari-hari tidak tidur dan mendorong tubuhnya hingga ke batasan yang tidak sehat. Semuanya atas nama untuk menyelamatkan Ace. Tapi, Luffy gagal di detik terakhir dan malahan memegang kakaknya di tangannya di saat Ace sekarat dan mengembuskan napas terakhir. Peristiwa ini melukainya selamanya dan membuatnya runtuh selama beberapa waktu. Luffy juga tidak menyembunyikan perasaannya saat itu. Kesedihannya adalah kesedihan asli yang akan dirasakan siapa pun dalam kondisi yang mirip atau sama.
Baca Juga: 10 Karakter Anime Terbaik Ini Bisa Memanggil Senjatanya
Foto: IMDb
Masalah mental bukanlah masalah kurang iman atau tidak kuat mental. Ini adalah masalah kejiwaan yang pemicunya pun banyak. Tidak semua orang punya level kekuatan mental yang sama. Banyak penderita masalah mental yang masih menyangkal kondisi buruk mental mereka akibat stigma yang ada di masyarakat. Kalau ini dibiarkan, akibatnya bisa fatal.
Kalau teman kalian punya masalah mental, damping mereka. Orang-orang seperti ini butuh didengarkan dan didampingi. Mereka tidak butuh dijustifikasi atau saran yang muluk-muluk, apalagi sampai adu nasib. Kalian tidak akan bisa berdiri di sepatu mereka karena kalian bukan mereka. Ini karena level mental kalian berbeda dengan para penderita masalah mental ini. Tips paling mudah: jadilah telinga yang baik. Itulah yang sangat mereka butuhkan.
Jika kalian punya masalah mental, segeralah mencari bantuan profesional. Jangan biarkan berlarut dan terseret dalam stigma. Masalah mental itu penting untuk segera ditangani. Pastikan punya support system yang baik. Berhati-hatilah supaya tidak terjerumus dalam toxic support system. Dan, jangan jadikan masalah kesehatan kalian sebagai alasan atau tameng ketika kalian melakukan sesuatu yang tidak baik.
2. Hunter x Hunter
Foto: Otosection
Gon berhenti mempedulikan hidupnya sendiri setelah mendengar kalau dia dibohongi terkait peluang menghidupkan kembali ibunya, Kite. Gon dikenal sebagai anak yang biasanya riang, bahagia, dan ceria. Tapi insiden itu mengubah Gon menjadi monster pembunuh yang kaku begitu sadar realitas situasinya.
Gon benar-benar menarik karena betapa relatable-nya emosi yang dia rasakan, meskipun situasi sebenarnya jauh dari relatable. Ini menunjukkan kepada penonton kalau tidak apa-apa berduka atas mereka yang sudah meninggal. Ini juga menunjukkan apa yang bisa dilakukan rasa sakit pada seseorang.
1. One Piece
Foto: Twitter
One Piece adalah anime shounen dengan sejumlah contoh menormalkan dan memamerkan gangguan emosi dengan cara organik dan traumatis. Salah satu yang paling menyentuh adalah breakdown yang dialami Luffy menyusul kematian kakaknya, Portgas D Ace. Yang dialami Luffy ini relatable dengan banyak orang karena menunjukkan betapa samanya perasaan kehilangan, duka cita, dan pengalaman menghadapi kematian. Di serial ini, Luffy juga sering terlihat menangis tanpa peduli siapa yang melihatnya.
Adegan ini terjadi setelah Luffy selama berhari-hari tidak tidur dan mendorong tubuhnya hingga ke batasan yang tidak sehat. Semuanya atas nama untuk menyelamatkan Ace. Tapi, Luffy gagal di detik terakhir dan malahan memegang kakaknya di tangannya di saat Ace sekarat dan mengembuskan napas terakhir. Peristiwa ini melukainya selamanya dan membuatnya runtuh selama beberapa waktu. Luffy juga tidak menyembunyikan perasaannya saat itu. Kesedihannya adalah kesedihan asli yang akan dirasakan siapa pun dalam kondisi yang mirip atau sama.
Baca Juga: 10 Karakter Anime Terbaik Ini Bisa Memanggil Senjatanya
Konklusi
Foto: IMDb
Masalah mental bukanlah masalah kurang iman atau tidak kuat mental. Ini adalah masalah kejiwaan yang pemicunya pun banyak. Tidak semua orang punya level kekuatan mental yang sama. Banyak penderita masalah mental yang masih menyangkal kondisi buruk mental mereka akibat stigma yang ada di masyarakat. Kalau ini dibiarkan, akibatnya bisa fatal.
Kalau teman kalian punya masalah mental, damping mereka. Orang-orang seperti ini butuh didengarkan dan didampingi. Mereka tidak butuh dijustifikasi atau saran yang muluk-muluk, apalagi sampai adu nasib. Kalian tidak akan bisa berdiri di sepatu mereka karena kalian bukan mereka. Ini karena level mental kalian berbeda dengan para penderita masalah mental ini. Tips paling mudah: jadilah telinga yang baik. Itulah yang sangat mereka butuhkan.
Jika kalian punya masalah mental, segeralah mencari bantuan profesional. Jangan biarkan berlarut dan terseret dalam stigma. Masalah mental itu penting untuk segera ditangani. Pastikan punya support system yang baik. Berhati-hatilah supaya tidak terjerumus dalam toxic support system. Dan, jangan jadikan masalah kesehatan kalian sebagai alasan atau tameng ketika kalian melakukan sesuatu yang tidak baik.
(alv)
Lihat Juga :