CERMIN: Lupakan Sambo, Selamat Datang Samiadji

Sabtu, 20 Agustus 2022 - 07:14 WIB
Sementara teroris menghabiskan waktu, biaya, dan energi luar biasa untuk menegakkan perjuangan atas nama …. entahlah. Juga rela mengorbankan nyawa siapa pun yang menghalangi aksi teror yang dilakukan.



Foto: Maxima Pictures

Dari mana datangnya teror? Bisa jadi dari kesalahpahaman. Bisa saja dari ketidaktahuan. Juga bisa datang dari kebencian. Atau dari rasa waswas yang berlebihan. Dalam situasi tak terduga, kesemua unsur bisa bersatu dan menghasilkan sintesis berupa teror.

Sebuah perilaku yang membenarkan melakukan apa pun untuk mencapai yang diinginkan. Kebenaran tak lagi benar dan kesalahan hanya tampak semacam omong kosong.

Tapi teror juga konon datang dari agama. Lucretius, penyair dan pemikir Romawi, menggambarkan agama [religio] sebagai monster.

….. di seluruh negeri,

hidup manusia rusak terlindas

di bawah beban berat agama,

yang menampakkan kepalanya,

dari Lapis langit,

mengancam manusia yang fana

dengan wajah yang menakutkan

Teror dan agama seharusnya tak pernah dibicarakan dalam satu kalimat yang sama. Yang satu adalah antagonis bagi yang lain. Yang lain melukai, satunya menyayangi. Yang lain membunuh, satunya memaafkan. Dunia yang terbalik membuat keduanya sering dikaitkan satu dengan yang lain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!