5 Serial Anime Seinen Paling Overrated sampai Sekarang

Jum'at, 21 Oktober 2022 - 08:02 WIB
Foto: ComicBook.com

Dua anak SMA, Kei Kurono dan Masaru Kato, berusaha menyelamatkan seorang gelandangan dari rel kereta ketika mereka ditabrak subway yang melintas. Mereka terbangun dan menemukan diri mereka terjebak di sebuah apartemen bersama sejumlah “tamu” aneh. Di ujung apartemen itu ada sebuah bola hitam besar yang disebut Gantz.

Lubang itu akhirnya terbuka. Penghuni kamar itu ditugasi memburu berbagai alien dengan mengenakan kostum dan senjata. Satu-satunya pilihan mereka adalah membunuh atau terbunuh. Tapi, kalau seorang peserta bisa mencapai skor 100, mereka bisa memilih senjata kuat, menghidupkan orang yang mati saat misi Gantz atau kembali ke kehidupan normal.

Gantz sering disebut brutal, mengerikan, dan bahkan sadis. Ini bukan hanya karena kekerasan eksplisitnya. Serial ini tidak memberi ampun pada karakter apa pun, mau sudah tua, gelandangan, atau anak-anak. Kekerasan dan penghinaan disampaikan secara langsung.

Terutama Kei Kishimoto, yang di satu titik pernah diperlakukan sebagai hewan peliharaan dan diserang banyak kubu. Sementara Gantz dimaksudkan untuk mengomentari keburukan dan brutalitas masyarakat modern, kekerasan fisik dan seksual ekstremnya tidak bisa menutupi kekurangan kedalaman, faktanya, itu hanya mengemukakannya lebih lanjut.

3. Elfen Lied — 2004



Foto: IMDb

Ketika Lucy, jenis manusia khusus diciptakan sebagai eksperimen ilmiah, kabur dari tahanan, dia menciptakan kekacauan berdarah. Dia kemudian ditemukan mahasiswa yang sepupuan, Kouta dan Yuta. Kedua orang itu merawat Lucy, tanpa tahu latar belakangnya atau luka kepalanya telah membuatnya mengalami kepribadian ganda. Berubah di antara anak polos dan pembunuh berdarah dinginn dengan kemampuan telekinesis, Lucy jelas bukan seperti yang pertama terlihat. Kouta dan Yuka pun terseret ke pertarungan hidup dan mati melawan konspirasi pemerintah.

Elfen Lied disebut dalam oleh sebagian orang dan gila oleh yang lain. Yang jelas, serial itu berusaha menarik penonton dengan cara mengombinasikan gore berdarah-darah dengan harem. Perubahan iramanya begitu kasar sehingga nyaris cukup mengalihkan penonton dari menyadari betapa twist cerita itu nyaman.

Sementara, setiap karakter ceweknya jadi koleksi trope seksual, dari obyektifikasi kekanak-kanakan Lucy sampai tsundere Yuka, yang digambarkan sangat pencemburu dan posesif. Elfen Lied sering dipuji karena rangkaian opening-nya yang artistik, dan itu adalah bagian terbaik dari serial ini. Tapi, konten aslinya meninggalkan banyak yang diinginkan.

2. Tokyo Ghoul — 2014–18



Foto: CBR
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!