Stroke dan Jantung Sumbang Kematian Terbesar di Indonesia, Ayo Terapkan Gaya Hidup Sehat!

Rabu, 16 November 2022 - 23:43 WIB
Kepala RSPAU dr Suhardi Hardjolukito Marsekal Pertama TNI dr Mukti Arja Berlian pada webinar Kenali Risiko Meninggal Mendadak Akibat Serangan Jantung & Stroke, Senin (14/11/2022). Foto/Istimewa
JAKARTA - Masyarakat diminta menerapkan gaya hidup sehat menyusul tingginya angka kematian akibat penyakit stroke dan jantung. Di Indonesia, kedua penyakit tersebut menempati urutan teratas penyebab kematian.

Asisten Personel Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Elianto Susetio mengajak masyarakat khususnya prajurit TNI bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Di antaranya berhenti merokok, berhenti makan makanan berlemak, berhenti konsumsi alkohol, dan rajin olahraga minimal tiga kali seminggu.



“Saya mengimbau seluruh personel TNI AU untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat, utamanya Fasilitas Kesehatan milik TNI AU. Dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai prajurit TNI secara optimal. Kesehatan adalah konsep paling berharga yang dimiliki setiap insan manusia sehingga menjaga kesehatan bukan lagi suatu kewajiban melainkan sudah menjadi suatu kebutuhan,” kata Elianto dalam webinar “Kenali Risiko Meninggal Mendadak Akibat Serangan Jantung & Stroke”, belum lama ini.

Menurut dia, penyakit jantung serta stroke dapat menyerang siapa dan kapan saja. Data terbaru dari WHO menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner dan stroke masih menduduki peringkat pertama dan kedua penyebab kematian utama di dunia. Adapun jumlah kematian akibat penyakit jantung secara global mencapai 18,6 juta orang setiap tahun. Angka kematian tersebut terus meningkat menjadi 20,5 juta orang pada 2020. Diperkirakan sebanyak 24.2 juta orang akan meninggal karena penyakit jantung pada 2030.

“Sementara di Indonesia penyakit jantung dan stroke juga menduduki peringkat pertama dan menjadi penyebab kematian paling tinggi dan menyedot BPJS hingga Rp10 triliun,” katanya.

Berdasarkan laporan perhimpunan dokter spesialis kardiovaskuler Indonesia, penyakit jantung tidak hanya ditemukan pada usia tua, namun tren menunjukkan peningkatan usia penyakit jantung pada usia yang lebih muda. Hal itu sebagai akibat dari peningkatan preferensi obesitas, darah tinggi, merokok, dan kolesterol tinggi di usia muda. Terdapat peningkatan prevalensi serangan jantung pada usia kurang dari 40 tahun sebanyak 2% setiap tahun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!