CERMIN: Pulang adalah Perkara Rindu
Rabu, 21 Desember 2022 - 15:00 WIB
Saya membayangkan diri saya sebagai Haris yang trenyuh dengan sang kekasih yang butuh uang Rp35 juta agar bisa bebas dari pekerjaan yang dilakoninya. Saya membayangkan diri saya sebagai Haris yang tak punya waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri sebelum melakukan dosa. Tapi saya tahu dan bisa membayangkan bahwa Haris masih punya hati nurani.
Menjadi Maya pun sama sulitnya. Seorang perempuan muda dan cantik yang rela bekerja kasar di kapal. Rela menggosok toilet penuh karat berulang-ulang hingga bersih.
Baca Juga: 6 Film Korea dengan Rating Tertinggi Sepanjang Masa di MyDramaList
Hingga tiba saat ia tak punya pilihan untuk keluar dari batasan yang dijaganya secara sakral. Maya berkompromi dengan hidupnya, hanya untuk satu alasan: agar bisa pulang.
Karena pulang bisa jadi adalah perkara rindu. Saya pernah di posisi Maya ketika diberitahu adik saya sedang sakit keras dan tiket pesawat ke Makassar tak terjangkau. Perih rasanya ketika berada jauh di seberang lautan dari seseorang yang kita sayangi. Dan saya ikut menangis bersama Maya yang hanya bisa menahan kerinduannya diam-diam.
Foto: KlikFilm
Bagi Maya dan Haris, pulang tak lagi sederhana. Kadang seseorang memilih tak pulang karena merasa belum menggapai mimpi dan harapannya. Belum ada sesuatu yang bisa dibanggakannya ketika kembali ke rumah.
Pulang memang bisa mengobati rasa rindu, tapi ada yang lebih penting dari itu semua: keinginan untuk mewujudkan hidup yang lebih layak.
Maya dan Haris mengalahkan banyak hal dalam diri mereka. Dan kita memahami pilihan-pilihan yang mereka buat. Kita tak menghakimi tindakan-tindakan yang harus mereka lakukan. Mungkin kita juga akan seperti Maya dan Haris jika dihadapkan pada situasi yang sama.
Baca Juga: 6 Film Korea dengan Rating Tertinggi Sepanjang Masa di MyDramaList
Suara dari pelantang suara terdengar. Membunyikan lantunan puisi dari Jalaluddin Rumi, Saatnya Kita Pulang.
Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Menjadi Maya pun sama sulitnya. Seorang perempuan muda dan cantik yang rela bekerja kasar di kapal. Rela menggosok toilet penuh karat berulang-ulang hingga bersih.
Baca Juga: 6 Film Korea dengan Rating Tertinggi Sepanjang Masa di MyDramaList
Hingga tiba saat ia tak punya pilihan untuk keluar dari batasan yang dijaganya secara sakral. Maya berkompromi dengan hidupnya, hanya untuk satu alasan: agar bisa pulang.
Karena pulang bisa jadi adalah perkara rindu. Saya pernah di posisi Maya ketika diberitahu adik saya sedang sakit keras dan tiket pesawat ke Makassar tak terjangkau. Perih rasanya ketika berada jauh di seberang lautan dari seseorang yang kita sayangi. Dan saya ikut menangis bersama Maya yang hanya bisa menahan kerinduannya diam-diam.
Foto: KlikFilm
Bagi Maya dan Haris, pulang tak lagi sederhana. Kadang seseorang memilih tak pulang karena merasa belum menggapai mimpi dan harapannya. Belum ada sesuatu yang bisa dibanggakannya ketika kembali ke rumah.
Pulang memang bisa mengobati rasa rindu, tapi ada yang lebih penting dari itu semua: keinginan untuk mewujudkan hidup yang lebih layak.
Maya dan Haris mengalahkan banyak hal dalam diri mereka. Dan kita memahami pilihan-pilihan yang mereka buat. Kita tak menghakimi tindakan-tindakan yang harus mereka lakukan. Mungkin kita juga akan seperti Maya dan Haris jika dihadapkan pada situasi yang sama.
Baca Juga: 6 Film Korea dengan Rating Tertinggi Sepanjang Masa di MyDramaList
Suara dari pelantang suara terdengar. Membunyikan lantunan puisi dari Jalaluddin Rumi, Saatnya Kita Pulang.
Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Lihat Juga :