Ini Beda Gaya Berpuisi dari Masa ke Masa, dari Zaman Sanusi Pane hingga Fiersa Besari

Selasa, 28 April 2020 - 12:15 WIB
Angkatan pujangga baru merupakan nama majalah yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana pada 1933. Gaya berpuisi pada masa ini sedikit mengalami perubahan pada pola dan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih modern. Aliran berpuisi pada masa ini identik dengan aliran romansa. Penyair pada periode ini di antaranya Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Arminj Pane, J.E Tatengkeng, Hamka, dan Zuber Usman.

3. PUISI ANGKATAN 1945



Foto:Wikimedia.Commons

Puisi pada periode ini banyak dipengaruhi oleh penjajahan dan politik propaganda Jepang. Tokoh sentral pada periode ini siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar, sang pencipta “Si Binatang Jalang.” Puisi pada masa ini sudah menggunakan bahasa Indonesia yang modern dan cenderung mengekspersikan perjuangan bangsa di tengah penjajahan. Selain Chairil Anwar, tokoh penyair pada masa ini di antaranya Asrul Sani, Rivai Apin, dan Idrus.

4. PUISI ANGKATAN 1950



Foto: Pixabay

Dalam periode 1950-an, aliran puisi yang dianut oleh kebanyakan penyair pada masa itu adalah romansa dan naturalis. Gaya penulisan puisi pada periode ini umumnya menggunakan sajak-sajak yang indah dan kembali ke alam. Penulisan puisi pada periode ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan sastra dari Spanyol yang dibawa oleh Ramadhan KH.

5. PUISI ANGKATAN 1960-1980



Foto:Instagram:@damonosapardi

Periode 1960-1980 boleh dibilang sebagai masa keemasan bagi dunia puisi di Indonesia. Puisi pada periode ini mengandung banyak makna filosofis dan banyak beraliran naturalis dan ekspresionalis seperti pada puisi "Membaca Tanda-Tanda" karya Taufiq Ismail. Selain Taufiq Ismail, penyair pada periode ini antara lain Sapardi Djoko Damono dengan gaya puisi yang sederhana tapi penuh makna, dan Sutardji Colzoum Bachri yang membuat puisi seolah menjadi mantra.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!