Cegah Stunting, Begini Asupan Gizi dan Protein yang Tepat Bagi Anak
Jum'at, 10 Februari 2023 - 19:03 WIB
loading...
Media Briefing terkait pentingnya asupan Protein hewani dan zat besi untuk wujudkan generasi maju bebas stunting, di Lombok Barat, Jumat (10/2/2023). Foto: SINDOnews/Thomas Pulungan
A
A
A
LOMBOK - Masa 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai saat kehamilan hingga bayi berusia dua tahun, merupakan periode krusial dan rentan anak terkena stunting. Untuk itu, setiap orang tua perlu memahami asupan gizi dan nutrisi yang tepat buat si bayi.
Kurang gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan pada otak yang tidak dapat lagi diperbaiki. Si anak akan mengalami stunted dan membuat kurang berprestasi di sekolah. Bahkan dampaknya bisa sampai dewasa.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Universitas Indonesia (UI) dr Nurul Ratna Mutu Manikam, menjelaskan, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.
Selain bentuk fisik, anak dengan kondisi stunting berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan rentan terhadap penyakit. Untuk itu, orang tua penting memperhatikan asupan nutrisi yang tepat dengan gizi seimbang pada 1.000 hari pertama jehidupan (HPK).
Baca Juga: Cegah Stunting sejak Dini, Ahli Gizi Imbau Remaja Jaga Asupan Zat Gizi
“Asupan nutrisi yang tidak optimal, seperti rendahnya asupan protein hewani dan zat besi yang dapat menyebabkan anemia, menjadi salah satu faktor penyebab stunting pada anak," ujar dr Nurul saat Media Briefing terkait Pentingnya Asupan Protein Hewani dan Zat Besi untuk Wujudkan Generasi Maju Bebas Stunting, di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/2/2023).
Dokter Nurul mengingatkan, tubuh yang kekurangan asupan protein hewani dan zat besi dapat mengalami gangguan fungsi hormonal, regenerasi sel, sistem kekebalan tubuh, massa otot, fungsi kognitif, bahkan kemampuan motorik anak.
Oleh karena itu, bersama dengan asupan nutrisi yang tidak optimal, anemia menjadi salah satu faktor risiko terjadinya gangguan pertumbuhan (growth faltering) yang merupakan awal terjadinya stunting.
Apabila kondisi tersebut terus berlanjut maka dapatbberdampak serius pada kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Seperti terhambatnya pertumbuhan fisik yang dapat menyebabkan stunting.
Baca Juga: Asupan Gizi Turun Drastis selama Pandemi, Anak-Anak Indonesia Terancam Stunting
Menurut dr Nurul, Program Isi Piringku merupakan panduan gizi lengkap dan seimbang untuk sekali makan yang dapat mendukung pemenuhan asupan gizi harian anak. Agar dapat membantu pemenuhan nutrisi harian anak, makanan bergizi seimbang yang kaya dengan protein hewani, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal anak serta membantu mencegah dan mengatasi stunting.
Selain itu, penting juga untuk dilengkapi dengan kombinasi unik zat besi dan vitamin C yang bermanfaat meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat guna mendukung tumbuh kembang maksimal anak. Sehingga dengan penyerapan yang optimal dapat membantu meningkatkan pertumbuhan otak dan kemampuan belajar, pertumbuhan fisik, perkembangan motorik dan sensorik, serta daya tahan tubuh anak.
Terdapat banyak sumber makanan yang mengandung protein hewani dan zat besi dapat diperoleh dengan mudah dan murah, seperti pada daging merah, ayam, hati, ikan, telur, serta susu terfortifikasi. Bahkan banyak potensi pangan lokal di setiap daerah di Indonesia yang bisa menjadi sumber protein hewani.
Kurang gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan pada otak yang tidak dapat lagi diperbaiki. Si anak akan mengalami stunted dan membuat kurang berprestasi di sekolah. Bahkan dampaknya bisa sampai dewasa.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Universitas Indonesia (UI) dr Nurul Ratna Mutu Manikam, menjelaskan, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.
Selain bentuk fisik, anak dengan kondisi stunting berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan rentan terhadap penyakit. Untuk itu, orang tua penting memperhatikan asupan nutrisi yang tepat dengan gizi seimbang pada 1.000 hari pertama jehidupan (HPK).
Baca Juga: Cegah Stunting sejak Dini, Ahli Gizi Imbau Remaja Jaga Asupan Zat Gizi
“Asupan nutrisi yang tidak optimal, seperti rendahnya asupan protein hewani dan zat besi yang dapat menyebabkan anemia, menjadi salah satu faktor penyebab stunting pada anak," ujar dr Nurul saat Media Briefing terkait Pentingnya Asupan Protein Hewani dan Zat Besi untuk Wujudkan Generasi Maju Bebas Stunting, di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/2/2023).
Dokter Nurul mengingatkan, tubuh yang kekurangan asupan protein hewani dan zat besi dapat mengalami gangguan fungsi hormonal, regenerasi sel, sistem kekebalan tubuh, massa otot, fungsi kognitif, bahkan kemampuan motorik anak.
Oleh karena itu, bersama dengan asupan nutrisi yang tidak optimal, anemia menjadi salah satu faktor risiko terjadinya gangguan pertumbuhan (growth faltering) yang merupakan awal terjadinya stunting.
Apabila kondisi tersebut terus berlanjut maka dapatbberdampak serius pada kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Seperti terhambatnya pertumbuhan fisik yang dapat menyebabkan stunting.
Baca Juga: Asupan Gizi Turun Drastis selama Pandemi, Anak-Anak Indonesia Terancam Stunting
Menurut dr Nurul, Program Isi Piringku merupakan panduan gizi lengkap dan seimbang untuk sekali makan yang dapat mendukung pemenuhan asupan gizi harian anak. Agar dapat membantu pemenuhan nutrisi harian anak, makanan bergizi seimbang yang kaya dengan protein hewani, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal anak serta membantu mencegah dan mengatasi stunting.
Selain itu, penting juga untuk dilengkapi dengan kombinasi unik zat besi dan vitamin C yang bermanfaat meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat guna mendukung tumbuh kembang maksimal anak. Sehingga dengan penyerapan yang optimal dapat membantu meningkatkan pertumbuhan otak dan kemampuan belajar, pertumbuhan fisik, perkembangan motorik dan sensorik, serta daya tahan tubuh anak.
Terdapat banyak sumber makanan yang mengandung protein hewani dan zat besi dapat diperoleh dengan mudah dan murah, seperti pada daging merah, ayam, hati, ikan, telur, serta susu terfortifikasi. Bahkan banyak potensi pangan lokal di setiap daerah di Indonesia yang bisa menjadi sumber protein hewani.
Lihat Juga :