Cegah Stunting, Begini Asupan Gizi dan Protein yang Tepat Bagi Anak
Jum'at, 10 Februari 2023 - 19:03 WIB
loading...
A
A
A
Di Lombok misalnya, memiliki beragam pangan potensial yang cukup terkait dengan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Di antaranya berbagai pangan laut seperti ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang mudah ditemukan masyarakat.
Bahkan Nyale (cacing laut) ternyata kaya protein hewani hingga sebanyak 43,84%. Sedangkan telur ayam mengandung 12,2% dan susu sapi sekitar 3,5%, serta memiliki kadar zat besi yang cukup tinggi mencapai 857 ppm sangat tinggi bila dibandingkan dengan hewan darat (80 ppm).
"Selain pangan lokal yang kaya protein untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, dapat juga dilengkapi dengan susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan kombinasi zat besi dan vitamin C agar si kecil dapat tumbuh optimal,” tutup dr Nurul.
Dokter Spesialis Anak Ananta Fittonia Benvenuto menyebutkan, selama ini masih terdapat kesalahan paradigma orang tua dalam pemenuhan gizi di dua tahun pertama anak. Untuk mencegah stunting, anak seharusnya diperbanyak asupan protein hewani, bukan sayur-sayuran.
"Saya sendiri melihat masyarakat pasien anak-anak itu lebih banyak diminta untuk makan sayur, padahal sayur itu enggak begitu penting untuk anak usia dua tahun pertam. Justru protein hewani yang diutamakan, sayur-sayuran boleh, tapi hanya untuk mengenal," tegasnya.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan kurang gizi kronis serta infeksi berulang. Kondisi ini biasanya ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar. Jika tidak ditangani dengan tepat, kata dia, kondisi stunting pada anak dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik.
Penting untuk dipahami bahwa penyebab utama permasalahan gizi adalah asupan gizi yang tidak optimal. Asupan protein hewani dan zat besi menjadi salah satu elemen kunci dalam optimalisasi masa 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk untuk pencegahan stunting.
Namun tidak hanya itu, selain status gizi yang buruk, terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan masih tingginya angka stunting di Indonesia. Lingkungan yang tidak higienis, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, serta infeksi penyakit juga bisa mengakibatkan stunting pada anak.
Untuk itu, selain asupan makan yang bergizi seimbang kaya protein hewani, stunting juga bisa dipengaruhi pola asuh, sanitasi serta juga budaya atau kebiasaan masyarakat setempat. Terlebih lagi bagi anak-anak yang tinggal di daerah yang rentan terpapar infeksi seperti di TPA yang merupakan sumber utama polusi tanah, udara, sumber air dangkal dan sanitasi.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri membeberkan, studi menunjukkan bahwa stunting menurunkan jumlah penghasilan saat dewasa sebesar 20%, sehingga dapat disimpulkan bahwa masalah kurang gizi menyebabkan kemiskinan.
Ia menjelaskan, otak mulai berkembang sejak masa embryo. Pada saat lahir baru sekitar 25% otak orang dewasa, usia 2 tahun mencapai 70 - 80% otak orang dewasa, dan baru setelah usia 5 tahun otak berkembang hampir sama dengan orang dewasa.
Menurut Fikri, berdasarkan hasil laporan rutin, prevalansi stunting di NTB terus mengalami penurunan. Rata-rata penurunan 2,5 persen per tahun.
"Provinsi NTB terus berkomitmen untuk mengupayakan percepatan penurunan stunting. Upaya tersebut telah memberikan hasil positif, dimana berdasarkan Sigiziterpadu (e-PPGBM) telah menunjukkan penurunan angka stunting di NTB pada 2022 menjadi 16,86%," katanya.
Bahkan Nyale (cacing laut) ternyata kaya protein hewani hingga sebanyak 43,84%. Sedangkan telur ayam mengandung 12,2% dan susu sapi sekitar 3,5%, serta memiliki kadar zat besi yang cukup tinggi mencapai 857 ppm sangat tinggi bila dibandingkan dengan hewan darat (80 ppm).
"Selain pangan lokal yang kaya protein untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, dapat juga dilengkapi dengan susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan kombinasi zat besi dan vitamin C agar si kecil dapat tumbuh optimal,” tutup dr Nurul.
Dokter Spesialis Anak Ananta Fittonia Benvenuto menyebutkan, selama ini masih terdapat kesalahan paradigma orang tua dalam pemenuhan gizi di dua tahun pertama anak. Untuk mencegah stunting, anak seharusnya diperbanyak asupan protein hewani, bukan sayur-sayuran.
"Saya sendiri melihat masyarakat pasien anak-anak itu lebih banyak diminta untuk makan sayur, padahal sayur itu enggak begitu penting untuk anak usia dua tahun pertam. Justru protein hewani yang diutamakan, sayur-sayuran boleh, tapi hanya untuk mengenal," tegasnya.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan kurang gizi kronis serta infeksi berulang. Kondisi ini biasanya ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar. Jika tidak ditangani dengan tepat, kata dia, kondisi stunting pada anak dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik.
Penting untuk dipahami bahwa penyebab utama permasalahan gizi adalah asupan gizi yang tidak optimal. Asupan protein hewani dan zat besi menjadi salah satu elemen kunci dalam optimalisasi masa 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk untuk pencegahan stunting.
Namun tidak hanya itu, selain status gizi yang buruk, terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan masih tingginya angka stunting di Indonesia. Lingkungan yang tidak higienis, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, serta infeksi penyakit juga bisa mengakibatkan stunting pada anak.
Untuk itu, selain asupan makan yang bergizi seimbang kaya protein hewani, stunting juga bisa dipengaruhi pola asuh, sanitasi serta juga budaya atau kebiasaan masyarakat setempat. Terlebih lagi bagi anak-anak yang tinggal di daerah yang rentan terpapar infeksi seperti di TPA yang merupakan sumber utama polusi tanah, udara, sumber air dangkal dan sanitasi.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri membeberkan, studi menunjukkan bahwa stunting menurunkan jumlah penghasilan saat dewasa sebesar 20%, sehingga dapat disimpulkan bahwa masalah kurang gizi menyebabkan kemiskinan.
Ia menjelaskan, otak mulai berkembang sejak masa embryo. Pada saat lahir baru sekitar 25% otak orang dewasa, usia 2 tahun mencapai 70 - 80% otak orang dewasa, dan baru setelah usia 5 tahun otak berkembang hampir sama dengan orang dewasa.
Menurut Fikri, berdasarkan hasil laporan rutin, prevalansi stunting di NTB terus mengalami penurunan. Rata-rata penurunan 2,5 persen per tahun.
"Provinsi NTB terus berkomitmen untuk mengupayakan percepatan penurunan stunting. Upaya tersebut telah memberikan hasil positif, dimana berdasarkan Sigiziterpadu (e-PPGBM) telah menunjukkan penurunan angka stunting di NTB pada 2022 menjadi 16,86%," katanya.
Lihat Juga :