Gizi Buruk Masih Terjadi, Termasuk di Kawasan Penyangga Ibu Kota Ini
Minggu, 19 Juli 2020 - 08:19 WIB
loading...
A
A
A
Masalahnya, masih banyak calon ibu maupun ibu muda yang belum teredukasi tentang stunting.
“Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya 2 kg, tapi orangtuanya masih ngotot anaknya baik-baik saja,” ujar Aktivis Kesehatan Anak Yuli Supriati.
Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa, Tangerang, beberapa waktu lalu, ia mendapati sebanyak 36 anak usia di bawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun.
Di Desa Cileleus, Tigaraksa, Tangerang, Yuli bertemu Mutia dan Tegar, dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Tegar berusia 2 tahun dengan berat badan hanya 7 kg. Padahal, untuk anak normal, di usia dua tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki.
“Ketika bayi dikasih ASI, tapi orangtua kerja, anaknya dirawat oleh saya. Kalau pas lagi ada (uang), dibelikan susu kaleng, sering juga diutangin di agen,” ujar Amah, nenek yang merawat Mutia.
“Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya 2 kg, tapi orangtuanya masih ngotot anaknya baik-baik saja,” ujar Aktivis Kesehatan Anak Yuli Supriati.
Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa, Tangerang, beberapa waktu lalu, ia mendapati sebanyak 36 anak usia di bawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun.
Di Desa Cileleus, Tigaraksa, Tangerang, Yuli bertemu Mutia dan Tegar, dua balita penerima program pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Tegar berusia 2 tahun dengan berat badan hanya 7 kg. Padahal, untuk anak normal, di usia dua tahun seharusnya memiliki berat badan 14 kg untuk perempuan dan 15 kg untuk laki-laki.
“Ketika bayi dikasih ASI, tapi orangtua kerja, anaknya dirawat oleh saya. Kalau pas lagi ada (uang), dibelikan susu kaleng, sering juga diutangin di agen,” ujar Amah, nenek yang merawat Mutia.
Lihat Juga :