Geger Kasus Bunuh Diri saat Live Instagram oleh Pria di Banyumas, Begini Pandangan Psikolog
Rabu, 26 Juli 2023 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Ramsland juga menyebut, alasan psikologi di balik bunuh diri di hadapan publik, seperti live-streaming, tidaklah mudah. Sama seperti ada segudang alasan untuk bunuh diri, alasan bunuh diri saat live-streaming juga beragam.
Baca Juga: Kasus Bunuh Diri pada Anak, Apa Pemicunya?
“Bayangkan seorang remaja yang merasa kehilangan secara emosional, hampir tidak terlihat dan menyaksikan ketenaran atau kenangan seorang remaja yang bunuh diri, mendapatkan perhatian di komunitas terdekat mereka serta banyak perhatian yang diperoleh dari media sosial. Inilah inti dari penularan,” tuturnya.
“Bunuh diri yang disiarkan langsung memiliki dampak negatif yang signifikan pada keluarga, remaja yang menonton siaran langsung, komunitas, dan siapa saja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri,” lanjutnya.
Ramsland menjelaskan, beberapa orang, terutama kalangan remaja memang rentan ingin menyiarkan langsung aksi bunuh diri mereka. Dia mengatakan populasi risiko tertinggi kemungkinan besar adalah siswa sekolah menengah, yang lebih terhubung ke media sosial.
Menurutnya, generasi yang lebih tua justru cenderung melihat media sosial dan streaming langsung sebagai pelanggaran privasi daripada generasi muda.
Menurut American Association of Suicidology, aksi bunuh diri paling umum terjadi pada orang berusia 45 hingga 64 tahun, yaitu 19,6 persen dari 100.000 orang pada 2015. Diikuti oleh orang berusia 65 tahun ke atas, dengan 16,6 persen dari 100.000 orang, dan kemudian mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun, dengan 12,5 persen dari 100.000 orang.
Kasus bunuh diri yang disiarkan secara langsung juga menyoroti pergumulan tentang cara menghadapinya di media sosial.
Baca Juga: Kasus Bunuh Diri pada Anak, Apa Pemicunya?
“Bayangkan seorang remaja yang merasa kehilangan secara emosional, hampir tidak terlihat dan menyaksikan ketenaran atau kenangan seorang remaja yang bunuh diri, mendapatkan perhatian di komunitas terdekat mereka serta banyak perhatian yang diperoleh dari media sosial. Inilah inti dari penularan,” tuturnya.
“Bunuh diri yang disiarkan langsung memiliki dampak negatif yang signifikan pada keluarga, remaja yang menonton siaran langsung, komunitas, dan siapa saja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri,” lanjutnya.
Ramsland menjelaskan, beberapa orang, terutama kalangan remaja memang rentan ingin menyiarkan langsung aksi bunuh diri mereka. Dia mengatakan populasi risiko tertinggi kemungkinan besar adalah siswa sekolah menengah, yang lebih terhubung ke media sosial.
Menurutnya, generasi yang lebih tua justru cenderung melihat media sosial dan streaming langsung sebagai pelanggaran privasi daripada generasi muda.
Menurut American Association of Suicidology, aksi bunuh diri paling umum terjadi pada orang berusia 45 hingga 64 tahun, yaitu 19,6 persen dari 100.000 orang pada 2015. Diikuti oleh orang berusia 65 tahun ke atas, dengan 16,6 persen dari 100.000 orang, dan kemudian mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun, dengan 12,5 persen dari 100.000 orang.
Kasus bunuh diri yang disiarkan secara langsung juga menyoroti pergumulan tentang cara menghadapinya di media sosial.
Lihat Juga :