Review Film The Equalizer 3: Pelan, tapi Brutal dan Kejam
Rabu, 30 Agustus 2023 - 11:14 WIB
loading...
A
A
A
Selama melakukan aksinya, Robert tidak pernah memperlihatkan emosi. Mukanya tetap lempeng, tanpa senyum, seringai, atau apa pun, kecuali memang diperlukan. Dia bisa tersenyum ramah ketika berbaur di tengah area publik. Tapi, dia akan memberikan pandangan tajam yang dingin ketika melihat orang jahat.
Sama seperti film sebelumnya, The Equalizer 3 masih menggantungkan bobot aksinya pada tindak tanduk Robert McCall. Aura dingin dan kejam Robert masih mengasyikkan untuk dinikmati. Belum lagi, dia sulit ditebak. Tiba-tiba datang dan menyerang. Serangan kejutannya ini kadang bisa menimbulkan jump scare.
![Review Film The Equalizer 3: Pelan, tapi Brutal dan Kejam]()
Foto: The Hollywood Reporter
Sayangnya, dalam durasi kurang dari 2 jam, The Equalizer 3 tidak memberikan banyak aksi dar der dor atau bak bik buk yang bertubi-tubi. Dalam satu jam pertama, film ini sibuk membangun cerita. Bahkan, aksi kejam Robert pun dikisahkan di luar layar sehingga jadi kurang asyik.
Pembangunan cerita dan konfliknya pun lumayan lama. Penonton harus menebak-nebak sendiri apa yang selanjutnya terjadi. Pada awalnya, orang akan menyangka kalau konflik akan berasal dari tempat yang ditinggali Robert untuk sementara waktu. Tapi, faktanya, dia malah berhadapan dengan mafia.
Antagonis di film ini sebenarnya kurang meyakinkan. Jadi ketika Robert datang dan menghadapi mereka, rasanya, mereka tidak memberikan perlawanan berarti. Robert bahkan keluar dari konfliknya dengan mafia itu dalam kondisi tanpa tergores sedikit pun.
![Review Film The Equalizer 3: Pelan, tapi Brutal dan Kejam]()
Foto: USA Today
Departemen antagonisnya yang kurang kejam, meski berusaha mengintimidasi, membuat film ini jadi kurang seru. Robert tidak punya lawan sebanding dalam melakukan aksi kejamnya. Padahal, sebagai penutup seharusnya sutradaranya, Antoine Fuqua, memilih penjahat yang lebih baik lagi.
Sama seperti film sebelumnya, The Equalizer 3 masih menggantungkan bobot aksinya pada tindak tanduk Robert McCall. Aura dingin dan kejam Robert masih mengasyikkan untuk dinikmati. Belum lagi, dia sulit ditebak. Tiba-tiba datang dan menyerang. Serangan kejutannya ini kadang bisa menimbulkan jump scare.

Foto: The Hollywood Reporter
Sayangnya, dalam durasi kurang dari 2 jam, The Equalizer 3 tidak memberikan banyak aksi dar der dor atau bak bik buk yang bertubi-tubi. Dalam satu jam pertama, film ini sibuk membangun cerita. Bahkan, aksi kejam Robert pun dikisahkan di luar layar sehingga jadi kurang asyik.
Pembangunan cerita dan konfliknya pun lumayan lama. Penonton harus menebak-nebak sendiri apa yang selanjutnya terjadi. Pada awalnya, orang akan menyangka kalau konflik akan berasal dari tempat yang ditinggali Robert untuk sementara waktu. Tapi, faktanya, dia malah berhadapan dengan mafia.
Antagonis di film ini sebenarnya kurang meyakinkan. Jadi ketika Robert datang dan menghadapi mereka, rasanya, mereka tidak memberikan perlawanan berarti. Robert bahkan keluar dari konfliknya dengan mafia itu dalam kondisi tanpa tergores sedikit pun.

Foto: USA Today
Departemen antagonisnya yang kurang kejam, meski berusaha mengintimidasi, membuat film ini jadi kurang seru. Robert tidak punya lawan sebanding dalam melakukan aksi kejamnya. Padahal, sebagai penutup seharusnya sutradaranya, Antoine Fuqua, memilih penjahat yang lebih baik lagi.
Lihat Juga :