Review RUN BOY RUN: Positif Berpenyakit
Rabu, 20 September 2023 - 13:26 WIB
loading...
A
A
A
Tak banyak yang berani blak-blakan menempatkan pengidap HIV ke dalam posisi orang yang putus asa seperti yang dilakukan film ini kepada Ario. Film tak berniat mendramatisasi penyakit tersebut. Tidak bermaksud menjadikannya semacam momok hebat yang harus dikalahkan. Film tidak bermanis-manis mengatakan hidup memang tidak adil dan mereka pantas untuk bertangis-tangis. Tidak.
Malahan film ingin meniupkan semangat kepada mereka. Ario adalah perwakilan dari semangat yang kecil. Sedangkan ayahnya - diperankan penuh komitmen oleh Chicco Jerikho - adalah pengaruh positif yang membawa gagasan film pendek yang dibuat dengan kompeten ini.
Tidak satupun adegan yang dirancang untuk membuat kita merasa iba kepada Ario. Ketika dia menangis kita tidak menunduk memandangnya. Melainkan, mengikuti sang ayah, kita duduk bersamanya.
![Review RUN BOY RUN: Positif Berpenyakit]()
Foto: Ziva Film
Adegan di saat ayah Ario melihat ibu warung membuang gelas sisa kopi yang tadi ia minum hanya memperlihatkan kenyataan bahwa memang reaksi itulah yang bakal diterima oleh pengidap, tetapi bukan berarti harus menanggapinya dengan bersedih hati.
Adegan kejar-kejaran pun tak pernah terasa intens dan membawa kita larut untuk menyemangati Ario supaya berhasil kabur. Film seperti tampak sengaja selalu salah dalam menampilkan jarak. Ketika Ario kabur naik kapal, kamera tidak merekam dengan wide.
Kita tidak diperlihatkan seberapa jauh jarak antara Ario dengan ayahnya di pinggir dermaga kecil, supaya kita tidak merasa lega dan merasa bebas walaupun Ario mengangkat tangan lega setinggi-tingginya. Saat mereka umpet-umpetan di hutan bakau, kamera justru merekam dengan wide shot, supaya tidak terasa intensitas.
Malahan film ingin meniupkan semangat kepada mereka. Ario adalah perwakilan dari semangat yang kecil. Sedangkan ayahnya - diperankan penuh komitmen oleh Chicco Jerikho - adalah pengaruh positif yang membawa gagasan film pendek yang dibuat dengan kompeten ini.
Tidak satupun adegan yang dirancang untuk membuat kita merasa iba kepada Ario. Ketika dia menangis kita tidak menunduk memandangnya. Melainkan, mengikuti sang ayah, kita duduk bersamanya.

Foto: Ziva Film
Adegan di saat ayah Ario melihat ibu warung membuang gelas sisa kopi yang tadi ia minum hanya memperlihatkan kenyataan bahwa memang reaksi itulah yang bakal diterima oleh pengidap, tetapi bukan berarti harus menanggapinya dengan bersedih hati.
Adegan kejar-kejaran pun tak pernah terasa intens dan membawa kita larut untuk menyemangati Ario supaya berhasil kabur. Film seperti tampak sengaja selalu salah dalam menampilkan jarak. Ketika Ario kabur naik kapal, kamera tidak merekam dengan wide.
Kita tidak diperlihatkan seberapa jauh jarak antara Ario dengan ayahnya di pinggir dermaga kecil, supaya kita tidak merasa lega dan merasa bebas walaupun Ario mengangkat tangan lega setinggi-tingginya. Saat mereka umpet-umpetan di hutan bakau, kamera justru merekam dengan wide shot, supaya tidak terasa intensitas.
Lihat Juga :