Konferensi Pertama AGI Bahas Genetika Berkelanjutan untuk Cegah dan Obati Penyakit di Indonesia
Minggu, 01 Oktober 2023 - 22:22 WIB
loading...
A
A
A
Untuk itu, Kementerian Kesehatan turut mengembangkan Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) guna mengembangkan pengobatan yang lebih tepat bagi masyarakat.
Caranya, dengan mengandalkan teknologi pengumpulan informasi genetik (genom) dari manusia maupun patogen seperti virus dan bakteri atau bisa disebut Whole Genome Sequensing (WGS).
"Kenapa? Karena teknologi ini harus diimbangi dengan regulasi yang baik. Kalau tidak akan berakibat negatif karena ada unsur etik, legal, dan sebagainya," kata Lusia.
Sementara itu, dalam konferensi ini para ahli dari berbagai bidang, termasuk kesehatan genetika dan keberlanjutan pangan, dipertemukan untuk membahas kemajuan serta tantangan terkini di bidang genomik di Indonesia, baik dari perspektif teknologi maupun bisnis.
Saat ini AGI yang diinisiasi Dr. dr. Ivan R. Sini, SpOG, Adrian Lembong, drg. Adittya, MARS, Levana Sari, Prof. Hera Sundoyo, dan dr. Ariel Pradipta, Ph.D terus melakukan edukasi kepada masyarakat.
“Pada awalnya teknologi ini sangat susah, namun sekarang dengan kemajuan teknologi relatif lebih cepat,” ujar Lusia.
Adapun tujuan konferensi ini adalah untuk mempromosikan AGI dalam komunitas genom, sekaligus mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan menjajaki peluang yang ditimbulkan oleh genetika berkelanjutan di Indonesia.
"Bidang genetika telah merevolusi cara kita memahami kesehatan manusia dan produksi pangan. Dengan kemajuan teknologi dan alat genetika, kami telah mampu mengidentifikasi penanda genetik yang berkontribusi terhadap risiko penyakit dan memahami faktor genetik yang memengaruhi kualitas dan keamanan pangan. Namun, kemajuan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan praktik genetika dan dampaknya terhadap lingkungan," beber Ivan.
Caranya, dengan mengandalkan teknologi pengumpulan informasi genetik (genom) dari manusia maupun patogen seperti virus dan bakteri atau bisa disebut Whole Genome Sequensing (WGS).
"Kenapa? Karena teknologi ini harus diimbangi dengan regulasi yang baik. Kalau tidak akan berakibat negatif karena ada unsur etik, legal, dan sebagainya," kata Lusia.
Sementara itu, dalam konferensi ini para ahli dari berbagai bidang, termasuk kesehatan genetika dan keberlanjutan pangan, dipertemukan untuk membahas kemajuan serta tantangan terkini di bidang genomik di Indonesia, baik dari perspektif teknologi maupun bisnis.
Saat ini AGI yang diinisiasi Dr. dr. Ivan R. Sini, SpOG, Adrian Lembong, drg. Adittya, MARS, Levana Sari, Prof. Hera Sundoyo, dan dr. Ariel Pradipta, Ph.D terus melakukan edukasi kepada masyarakat.
“Pada awalnya teknologi ini sangat susah, namun sekarang dengan kemajuan teknologi relatif lebih cepat,” ujar Lusia.
Adapun tujuan konferensi ini adalah untuk mempromosikan AGI dalam komunitas genom, sekaligus mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan menjajaki peluang yang ditimbulkan oleh genetika berkelanjutan di Indonesia.
"Bidang genetika telah merevolusi cara kita memahami kesehatan manusia dan produksi pangan. Dengan kemajuan teknologi dan alat genetika, kami telah mampu mengidentifikasi penanda genetik yang berkontribusi terhadap risiko penyakit dan memahami faktor genetik yang memengaruhi kualitas dan keamanan pangan. Namun, kemajuan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan praktik genetika dan dampaknya terhadap lingkungan," beber Ivan.
Lihat Juga :