Film Niti Kaweruh, Kisah Perjuangan Masyarakat Tengger Bromo Hadapi Tantangan Pendidikan
Kamis, 05 Oktober 2023 - 12:59 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, jumlah anak yang bersekolah di ini semakin hari semakin sedikit. Pertumbuhan populasi yang melambat dan keenganan orangtua untuk menyekolahkan anaknya, membuat sekolah di puncak Gunung Bromo menjadi ‘sekolah kecil’. “Jika dibiarkan terus menerus, anak-anak suku Tengger di Desa Sariwani terancam hilang dari proses pembelajaran. Itu sama artinya, anak-anak ini akan kehilangan masa depan,” ujar Erix.
Masyarakat Desa Sariwani 2 dan pemerintah daerah menjawab tantangan ini dengan menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multigrade). Melalui pendekatan ini, keterbatasan guru dan siswa bisa diatasi. Penerapan pembelajaran kelas rangkap, memungkin guru memberikan pembelajaran yang lebih terfokus pada kebutuhan siswa. “Sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih berorientasi menolong siswa, daripada sekadar menuntaskan materi belajar. Seiring waktu pendekatan kelas rangkap ternyata sesuai dengan Kurikulum Merdeka,” ujar Erix.
Film "Niti Kaweruh" tidak hanya memikat dengan aspek sinematografi yang indah, tetapi juga dengan cerita humanis yang menyentuh. Rachmadi Widdiharto Direktur Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud Ristek RI, sangat terkesan dengan keberhasilan pelaksanaan metode kelas rangkap di Kabupaten Probolinggo.
Baca Juga : 15 Film Indonesia Bersaing di Busan International Film Festival 2023, Ini Daftarnya
"Film ini menggambarkan bagaimana transformasi pembelajaran, bagaimana mengedukasi masyarakat kita untuk tetap mengedepankan pendidikan dan kearifan lokal. Saya kira luar biasa menyaksikan bagaimana transformasi ini bisa dilakukan. Kita juga telah menyaksikan bagaimana INOVASI membuat semacam terobosan dengan multigrade teaching, “papar Rachmadi.
Lebih lanjut Rachmadi mengatakan jika dikaitkan dengan Kurikulum Merdeka , multigrade dapat memastikan keberlanjutan pembelajaran (learning continue) meskipun ada keterbatasan-keterbatasan. “Kalau kita coba kaitkan dengan Kurikulum Merdeka ini akan mengawal learning journey anak-anak kita,” ujarnya.
Masyarakat Desa Sariwani 2 dan pemerintah daerah menjawab tantangan ini dengan menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multigrade). Melalui pendekatan ini, keterbatasan guru dan siswa bisa diatasi. Penerapan pembelajaran kelas rangkap, memungkin guru memberikan pembelajaran yang lebih terfokus pada kebutuhan siswa. “Sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih berorientasi menolong siswa, daripada sekadar menuntaskan materi belajar. Seiring waktu pendekatan kelas rangkap ternyata sesuai dengan Kurikulum Merdeka,” ujar Erix.
Film "Niti Kaweruh" tidak hanya memikat dengan aspek sinematografi yang indah, tetapi juga dengan cerita humanis yang menyentuh. Rachmadi Widdiharto Direktur Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud Ristek RI, sangat terkesan dengan keberhasilan pelaksanaan metode kelas rangkap di Kabupaten Probolinggo.
Baca Juga : 15 Film Indonesia Bersaing di Busan International Film Festival 2023, Ini Daftarnya
"Film ini menggambarkan bagaimana transformasi pembelajaran, bagaimana mengedukasi masyarakat kita untuk tetap mengedepankan pendidikan dan kearifan lokal. Saya kira luar biasa menyaksikan bagaimana transformasi ini bisa dilakukan. Kita juga telah menyaksikan bagaimana INOVASI membuat semacam terobosan dengan multigrade teaching, “papar Rachmadi.
Lebih lanjut Rachmadi mengatakan jika dikaitkan dengan Kurikulum Merdeka , multigrade dapat memastikan keberlanjutan pembelajaran (learning continue) meskipun ada keterbatasan-keterbatasan. “Kalau kita coba kaitkan dengan Kurikulum Merdeka ini akan mengawal learning journey anak-anak kita,” ujarnya.
Lihat Juga :