CERMIN: Budi Pekerti, Luluk Nuril, Prani, dan Cyberbullying
Sabtu, 04 November 2023 - 08:52 WIB
loading...
A
A
A
Kita juga tahu dari data yang dipublikasikan Microsoft tahun 2021, Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan di dunia maya paling rendah di Asia Tenggara. Pada akhirnya Prani mengalami apa yang dialami oleh Luluk, bahkan jauh lebih brutal.
Profesinya sebagai guru BK justru menjadi titik lemah dari peristiwa itu. Sikapnya yang membentak si pengunjung tersebut dianggap tak mencerminkan sejatinya seorang guru. Kita lupa, Prani sedang tak mengenakan bajunya sebagai guru. Dalam peristiwa itu, Prani adalah seorang manusia biasa yang juga bisa marah kala melihat seseorang yang bisa seenaknya saja melupakan etika antre di ruang publik.
Sosok Prani mengingatkan saya pada Topaz, karakter yang dimainkan pelawak, S Bagio, dalam filmSang Guru (1981). Topaz digambarkan sebagai guru yang miskin, tapi sangat jujur dan hidupnya lurus. Siswa-siswanya selalu terpesona kala Topaz mengajar soal budi pekerti dan selalu menekankan pada kejujuran.
![CERMIN: Budi Pekerti, Luluk Nuril, Prani, dan Cyberbullying]()
Foto: Rekata Studio
Topaz bentrok dengan kepala sekolah tempatnya mengajar karena salah satu orang tua siswa protes keras dengan nilai rapor anaknya yang semuanya merah. Topaz tak ingin berkompromi sedikit pun. Seperti Prani yang juga bingung soal letak kesalahannya di mana.
“Ibu itu salah apa? Ibu mau minta maaf apa?” Muklas yang menjadi perwakilan generasi Z tahu betul bahwa soal benar atau salah tak lagi penting. “Salah atau benar itu cuma perkara siapa yang paling banyak ngomong!”
Tiga tahun lalu, Filipina merilis sebuah film mengesankan berjudulJohn Denver Trending. Kisahnya tentang seorang remaja bernama John Denver yang dituduh mencuri iPad oleh teman sekelasnya yang berujung pada sebuah perkelahian.
Peristiwa tersebut menjadi viral yang memberi tekanan besar pada John. Tak ada seorang pun yang percaya padanya bahwa ia tak mencuri iPad tersebut. Kisah ini berakhir dengan tragis dan membuat kita semakin paham betapa berbahayanya kamera dan media sosial di tangan mereka yang tak paham soal literasi digital.
Budi Pekertimemberi efek serupa sepertiJohn Denver Trending. Kita sadar bahwa kehausan kita soal viralitas akhirnya menjadi senjata yang memangsa kita sendiri. Ketika kita begitu mudah menghakimi orang yang tak kita kenal di media sosial, apa sesungguhnya yang kita dapatkan?
Profesinya sebagai guru BK justru menjadi titik lemah dari peristiwa itu. Sikapnya yang membentak si pengunjung tersebut dianggap tak mencerminkan sejatinya seorang guru. Kita lupa, Prani sedang tak mengenakan bajunya sebagai guru. Dalam peristiwa itu, Prani adalah seorang manusia biasa yang juga bisa marah kala melihat seseorang yang bisa seenaknya saja melupakan etika antre di ruang publik.
Sosok Prani mengingatkan saya pada Topaz, karakter yang dimainkan pelawak, S Bagio, dalam filmSang Guru (1981). Topaz digambarkan sebagai guru yang miskin, tapi sangat jujur dan hidupnya lurus. Siswa-siswanya selalu terpesona kala Topaz mengajar soal budi pekerti dan selalu menekankan pada kejujuran.

Foto: Rekata Studio
Topaz bentrok dengan kepala sekolah tempatnya mengajar karena salah satu orang tua siswa protes keras dengan nilai rapor anaknya yang semuanya merah. Topaz tak ingin berkompromi sedikit pun. Seperti Prani yang juga bingung soal letak kesalahannya di mana.
“Ibu itu salah apa? Ibu mau minta maaf apa?” Muklas yang menjadi perwakilan generasi Z tahu betul bahwa soal benar atau salah tak lagi penting. “Salah atau benar itu cuma perkara siapa yang paling banyak ngomong!”
Tiga tahun lalu, Filipina merilis sebuah film mengesankan berjudulJohn Denver Trending. Kisahnya tentang seorang remaja bernama John Denver yang dituduh mencuri iPad oleh teman sekelasnya yang berujung pada sebuah perkelahian.
Peristiwa tersebut menjadi viral yang memberi tekanan besar pada John. Tak ada seorang pun yang percaya padanya bahwa ia tak mencuri iPad tersebut. Kisah ini berakhir dengan tragis dan membuat kita semakin paham betapa berbahayanya kamera dan media sosial di tangan mereka yang tak paham soal literasi digital.
Budi Pekertimemberi efek serupa sepertiJohn Denver Trending. Kita sadar bahwa kehausan kita soal viralitas akhirnya menjadi senjata yang memangsa kita sendiri. Ketika kita begitu mudah menghakimi orang yang tak kita kenal di media sosial, apa sesungguhnya yang kita dapatkan?
Lihat Juga :