Review Film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta: Kunang-Kunang, Joko Pinurbo, dan Etnis Tionghoa
Rabu, 29 November 2023 - 14:34 WIB
loading...
Film pendek Seribu Kunang-Kunang mengadopsi kisah dari puisi Joko Pinurbo. Foto/Tomat
A
A
A
JAKARTA - Setidaknya ada tiga puisi dari penyair Joko Pinurbo yang menyertakan soal kunang-kunang sebagai pusat semestanya bercerita.
Gadis kecil jalan seorang
dengan payung hitam.
Tangannya gemetar
menjinjing bulan
dalam keranjang.
Dalam puisi berjudul Kunang-Kunang, Joko menyertakan kunang-kunang sebagai medium untuk menyimpan kenangan, juga sebagai pembawa cahaya.
Baca Juga: CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup
Dalam puisinya yang lain yang berjudul Tahi Lalat, Joko bercerita soal hubungan ibu dan anak, dan menggunakan kunang-kunang sebagai kata ganti untuk mengidentifikasi sesuatu yang disayangi si anak pada ibunya. Dan tentu saja pada puisi berjudul Seribu Kunang-Kunang di Jakarta, saat ia bermain-main dengan metafora yang menarik untuk ditafsirkan.
Kehadiran kunang-kunang bisa dimaknai dari beragam sudut pandang. Saat memproduseri film SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui, kami juga menyentil soal kehadiran kunang-kunang sebagai pembawa harapan dalam sebuah dialog: “Menurut kepercayaan kuno, kunang-kunang hanya mau muncul di depan orang yang masih punya harapan”.
Dialog itu seakan memberi energi baru pada Zulaikha yang letih setelah mengikuti kekasihnya, Yusuf, melarikan diri dari keluarganya setelah tak merestui pernikahan siri mereka.
![Review Film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta: Kunang-Kunang, Joko Pinurbo, dan Etnis Tionghoa]()
Foto: Tomat
Gadis kecil jalan seorang
dengan payung hitam.
Tangannya gemetar
menjinjing bulan
dalam keranjang.
Dalam puisi berjudul Kunang-Kunang, Joko menyertakan kunang-kunang sebagai medium untuk menyimpan kenangan, juga sebagai pembawa cahaya.
Baca Juga: CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup
Dalam puisinya yang lain yang berjudul Tahi Lalat, Joko bercerita soal hubungan ibu dan anak, dan menggunakan kunang-kunang sebagai kata ganti untuk mengidentifikasi sesuatu yang disayangi si anak pada ibunya. Dan tentu saja pada puisi berjudul Seribu Kunang-Kunang di Jakarta, saat ia bermain-main dengan metafora yang menarik untuk ditafsirkan.
Kehadiran kunang-kunang bisa dimaknai dari beragam sudut pandang. Saat memproduseri film SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui, kami juga menyentil soal kehadiran kunang-kunang sebagai pembawa harapan dalam sebuah dialog: “Menurut kepercayaan kuno, kunang-kunang hanya mau muncul di depan orang yang masih punya harapan”.
Dialog itu seakan memberi energi baru pada Zulaikha yang letih setelah mengikuti kekasihnya, Yusuf, melarikan diri dari keluarganya setelah tak merestui pernikahan siri mereka.

Foto: Tomat
Lihat Juga :