Review Film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta: Kunang-Kunang, Joko Pinurbo, dan Etnis Tionghoa

Rabu, 29 November 2023 - 14:34 WIB
loading...
A A A
Ketika dialihwahanakan menjadi film pendek, Seribu Kunang-Kunang di Jakarta didorong untuk memenuhi sejumlah visi dari pembuatnya. Gadis kecil yang dihadirkan dari etnis Tionghoa dan latar belakang tahun 1998 tentu saja dipilih dengan cermat untuk menyampaikan pesan tertentu.

Di atas kertas menarik untuk melihat pilihan kreatif dari pembuat filmnya, tapi perlu diingat bahwa film adalah medium visual. Untuk menekankan pesan agar sampai dengan baik ke benak penonton, maka perlu untuk memperlihatkan, bukan sekadar mendialogkannya.

Keterkaitan antara tahun 1998 dan etnis Tionghoa tentu selalu menarik untuk dibahas. Kita mengingat tahun itu menjadi salah satu peristiwa paling kelam di negeri ini, ketika negeri sedang berubah, menuju porak poranda, dan banyak orang di dalamnya yang terseret tak tentu arah. Termasuk saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa yang harus menyelamatkan diri, melakukan segala untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga mereka.

Review Film Seribu Kunang-Kunang di Jakarta: Kunang-Kunang, Joko Pinurbo, dan Etnis Tionghoa

Foto: Tomat

Tapi menyajikannya hanya lewat petikan siaran radio dan dari sudut pandang seorang gadis kecil tentu saja tak cukup. Dua hal itu terlalu besar untuk disederhanakan dalam sebuah pilihan kreatif yang diambil pembuatnya. Jadinya justru membuat film ini terlihat terlalu ambisius untuk membawa gagasan-gagasan besar, tapi kehilangan daya kreatif untuk mengeksekusinya agar gagasan-gagasan itu tak mengalami erosi.

Juga pendekatan kreatif untuk menjadikan tokoh utama seorang penyair membuat film pendekSeribu Kunang-Kunang di Jakarta terasa tak berusaha mencelat keluar lebih jauh dari pemaknaannya sebagai puisi. Bisa jadi membuat filmnya memberi jarak tertentu kepada penonton.

Kita melihat penyair bukan sebagai “seseorang dari kita”, kita melihatnya sebagai “seseorang yang lain”. Padahal ketika melakukan alih wahana, si pembuat tak punya utang apa pun kepada materi aslinya.

Payung hitam diubahnya menjadi merah untuk lebih menegaskan soal negeri yang diamuk kemarahan pun sesungguhnya tak masalah. Atau soal menjinjing bulan yang juga bisa diterjemahkan lebih kreatif daripada sekadar menyamakannya dengan yang tertulis dalam puisi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Rekomendasi
Kunker ke Jatim, Komut...
Kunker ke Jatim, Komut Pertamina Tekankan Pentingnya Keselamatan Kerja
Sisir TKP Kasus Penganiayaan,...
Sisir TKP Kasus Penganiayaan, Polda Jabar Ungkap Taufik Hidayat Pukul YTR dengan Helm dan Besi
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Berita Terkini
Aldi Taher Semprot Baskara...
Aldi Taher Semprot Baskara Putra usai Sebut Kameramen 'Tolol', Tantang Debat Terbuka
Unggahan Nana Mirdad...
Unggahan Nana Mirdad soal Vonis Nadiem Makarim Tuai Kritik, Ini Penyebabnya
Lisa Mariana Buka Suara...
Lisa Mariana Buka Suara usai Dituding Tipu Klien Endorsement, Singgung Judi Online
MNC Life Dukung Berikan...
MNC Life Dukung Berikan Perlindungan Asuransi bagi Ribuan Penonton Koplove Fest Vol. 4
Sidang Gugatan Hak Asuh...
Sidang Gugatan Hak Asuh Anak Ruben Onsu Akan Digelar Tertutup, Ini Alasannya
Hadapi Gugatan Ruben...
Hadapi Gugatan Ruben Onsu, Sarwendah Klaim Simpan Fakta yang Belum Pernah Diungkap
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved