CERMIN: Hidup yang Kita Alami Memang Tak Seperti dalam Film-Film
Jum'at, 01 Desember 2023 - 13:39 WIB
loading...
Film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia yang temanya mulai monoton. Foto/Imajinari
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2045. Saat Indonesia berhasil menggapai Indonesia Emas yang sudah diimpikan puluhan tahun sebelumnya, saya malah tak bisa memisahkan antara hidup yang saya tulis dan sutradarai dalam film dan hidup yang saya jalani keseharian.
Dalam usia 60-an tahun, saya masih berkarya dengan menjadi sutradara, sesekali memproduseri sutradara-sutradara muda cemerlang, sesekali pula menulis sendiri skenario yang entah kelak saya sutradarai sendiri atau malah diminati sutradara-sutradara muda lainnya.
Tapi yang menjadi masalah besar bagi saya, mungkin juga semacam kutukan bagi saya, ketika mencoba-coba menulis skenario adalah saya semakin tak bisa memisahkan antara hidup dalam film dan hidup yang saya jalani sehari-hari. Batasnya semakin kabur dan saya terjebak dalam dunia meta-realitas.
Baca Juga: CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup
Pada 2023, saya sempat menyaksikan film garapan sutradara muda yang sama-sama berasal dari Makassar seperti saya, Yandy Laurens. Filmnya berjudul unik, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film dan tiba-tiba saya dibawa Yandy memasuki sebuah dunia meta-realitas yang meyakinkan saya kelak, mungkin saya bisa bernasib seperti ketakutan saya di atas. Tapi Yandy meyakinkan saya bahwa sering kali hidup memang tak semudah (juga mungkin tak sesulit?) seperti dalam film-film.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film hadir bak oase di tengah gurun tandus perfilman nasional. Ketika semakin banyak dari kami, para sineas, yang terpaksa mengerjakan cerita yang begitu-begitu saja, berkutat pada genre yang itu-itu saja karena dianggap selalu laku dan akhirnya terkurung dalam lingkaran setan kehidupan yang begitu-begitu saja.
![CERMIN: Hidup yang Kita Alami Memang Tak Seperti dalam Film-Film]()
Foto: Imajinari
Tapi Yandy datang dengan sebuah cerita yang meyakinkan saya, juga saya yakin banyak orang, bahwa film Indonesia tak seragam, film Indonesia tak harus diproduksi satu warna. Karena itulah Jatuh Cinta Seperti di Film-Film tak sekadar berani menyodorkan cerita yang belum pernah dibuat di negeri ini, tapi juga pendekatan sinematik berupa pewarnaan hitam putih hampir sepanjang durasi film.
Yandy membawa kita memasuki semesta berpikir cerita yang ada dalam film-film. Kita diajak berkenalan dengan Bagus (Ringgo Agus Rahman, yang semakin matang berakting), seorang penulis skenario. Sepanjang kariernya, Bagus menulis skenario adaptasi, entah dari sinetron sukses atau materi-materi lainnya.
Dalam usia 60-an tahun, saya masih berkarya dengan menjadi sutradara, sesekali memproduseri sutradara-sutradara muda cemerlang, sesekali pula menulis sendiri skenario yang entah kelak saya sutradarai sendiri atau malah diminati sutradara-sutradara muda lainnya.
Tapi yang menjadi masalah besar bagi saya, mungkin juga semacam kutukan bagi saya, ketika mencoba-coba menulis skenario adalah saya semakin tak bisa memisahkan antara hidup dalam film dan hidup yang saya jalani sehari-hari. Batasnya semakin kabur dan saya terjebak dalam dunia meta-realitas.
Baca Juga: CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup
Pada 2023, saya sempat menyaksikan film garapan sutradara muda yang sama-sama berasal dari Makassar seperti saya, Yandy Laurens. Filmnya berjudul unik, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film dan tiba-tiba saya dibawa Yandy memasuki sebuah dunia meta-realitas yang meyakinkan saya kelak, mungkin saya bisa bernasib seperti ketakutan saya di atas. Tapi Yandy meyakinkan saya bahwa sering kali hidup memang tak semudah (juga mungkin tak sesulit?) seperti dalam film-film.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film hadir bak oase di tengah gurun tandus perfilman nasional. Ketika semakin banyak dari kami, para sineas, yang terpaksa mengerjakan cerita yang begitu-begitu saja, berkutat pada genre yang itu-itu saja karena dianggap selalu laku dan akhirnya terkurung dalam lingkaran setan kehidupan yang begitu-begitu saja.

Foto: Imajinari
Tapi Yandy datang dengan sebuah cerita yang meyakinkan saya, juga saya yakin banyak orang, bahwa film Indonesia tak seragam, film Indonesia tak harus diproduksi satu warna. Karena itulah Jatuh Cinta Seperti di Film-Film tak sekadar berani menyodorkan cerita yang belum pernah dibuat di negeri ini, tapi juga pendekatan sinematik berupa pewarnaan hitam putih hampir sepanjang durasi film.
Yandy membawa kita memasuki semesta berpikir cerita yang ada dalam film-film. Kita diajak berkenalan dengan Bagus (Ringgo Agus Rahman, yang semakin matang berakting), seorang penulis skenario. Sepanjang kariernya, Bagus menulis skenario adaptasi, entah dari sinetron sukses atau materi-materi lainnya.
Lihat Juga :