CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang
Jum'at, 15 Desember 2023 - 13:28 WIB
loading...
Film dokumenter Eksil karya Lola Amaria mengisahkan orang-orang yang tak bisa pulang karena tragedi 1965. Foto/Lola Amaria Production
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2004. Farishad Latjuba merilis film pendek berjudul Klayaban dan menjadi awal bagi saya untuk mengenali dan memahami arti kata “eksil”.
Klayaban bercerita tentang sebuah restoran di kota Praha, dimiliki oleh seorang eksil korban peristiwa 1965 yang tak bisa pulang dan kehilangan kewarganegaraannya. Tiba-tiba suatu malam datang seorang pengunjung, yang mengorek luka lama yang telah lama terkubur.
Dikutip dari Historia yang ditulis oleh aktivis Kontras, Jane Rosalina Rumpia, pada tahun 1960-an, pada masa kepresidenan Sukarno—yang dicap sebagai Orde Lama—pernah mengirimkan ribuan pemuda dalam rangka program beasiswa atau program pertukaran pelajar pemerintah (Mahasiswa Ikatan Dinas) melalui Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.
Baca Juga: CERMIN: Belajar soal Kemenangan dan Kebahagiaan dari Tim Sepak Bola Terburuk Sedunia
Di samping itu, ada pula yang dikirim sebagai delegasi ke acara khusus seperti Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober 1965, Konferensi Tiga Benua 1966 di Havana, Konferensi Organisasi Jurnalis Internasional 1965 di Santiago, Cile, atau Konferensi Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Aljazair 1965 dan lainnya.
Peristiwa 1965 juga mengorbankan para pemuda tersebut sehingga akhirnya tak bisa pulang ke Tanah Airnya hingga puluhan tahun. Mereka adalah para eksil, orang yang diasingkan secara paksa. Eksil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “terpinggirkan”.
![CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang]()
Foto:Lola Amaria Production
Istilah tersebut merupakan serapan kata exile dalam bahasa Inggris yang artinya terasing, atau seseorang yang dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumah yang ia tempati di Indonesia. Mantan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid, turut menamai para eksil sebagai “orang yang terhalang pulang” atau orang klayaban.
Klayaban bercerita tentang sebuah restoran di kota Praha, dimiliki oleh seorang eksil korban peristiwa 1965 yang tak bisa pulang dan kehilangan kewarganegaraannya. Tiba-tiba suatu malam datang seorang pengunjung, yang mengorek luka lama yang telah lama terkubur.
Dikutip dari Historia yang ditulis oleh aktivis Kontras, Jane Rosalina Rumpia, pada tahun 1960-an, pada masa kepresidenan Sukarno—yang dicap sebagai Orde Lama—pernah mengirimkan ribuan pemuda dalam rangka program beasiswa atau program pertukaran pelajar pemerintah (Mahasiswa Ikatan Dinas) melalui Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan.
Baca Juga: CERMIN: Belajar soal Kemenangan dan Kebahagiaan dari Tim Sepak Bola Terburuk Sedunia
Di samping itu, ada pula yang dikirim sebagai delegasi ke acara khusus seperti Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober 1965, Konferensi Tiga Benua 1966 di Havana, Konferensi Organisasi Jurnalis Internasional 1965 di Santiago, Cile, atau Konferensi Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Aljazair 1965 dan lainnya.
Peristiwa 1965 juga mengorbankan para pemuda tersebut sehingga akhirnya tak bisa pulang ke Tanah Airnya hingga puluhan tahun. Mereka adalah para eksil, orang yang diasingkan secara paksa. Eksil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “terpinggirkan”.

Foto:Lola Amaria Production
Istilah tersebut merupakan serapan kata exile dalam bahasa Inggris yang artinya terasing, atau seseorang yang dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumah yang ia tempati di Indonesia. Mantan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid, turut menamai para eksil sebagai “orang yang terhalang pulang” atau orang klayaban.
Lihat Juga :