CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang
Jum'at, 15 Desember 2023 - 13:28 WIB
loading...
A
A
A
Hampir 20 tahun setelah Klayaban dirilis, kita kembali bertemu dengan para eksil dalam film dokumenter panjang karya Lola Amaria berjudul Eksil. Film yang baru saja meraih Piala Citra kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2023 itu memperlihatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang apa saja yang dilewati para eksil, dari mana semuanya berawal, bagaimana mereka mengarungi hidup terombang-ambing tanpa identitas, dan akhirnya memutuskan memulai hidup baru sebagai yang terbuang jauh di seberang. Eksil menjadi dokumen penting dari kelamnya sejarah yang mencoreng negara ini pada masa lalu.
Pada Oktober 2015, Tom Iljas, seorang eksil dari Swedia, dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas I Padang ketika hendak berziarah ke makam ibunya di Kampung Salido, kecamatan Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tom adalah salah seorang mahasiswa Teknik Pertanian yang dikirim dari kampungnya untuk melanjutkan kuliah.
Tom dideportasi dan ditangkal dari Indonesia karena dianggap melanggar pasal 122 huruf a Undang-Undang No 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian karena melakukan kegiatan yang tak sesuai dengan izin yang dimilikinya. Pasca peristiwa 1965, Tom menjadi eksil di Swedia yang menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun.
![CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang]()
Foto: Lola Amaria Production
Apa yang dialami Tom memang tak dialami Asahan, tapi juga tak membuatnya kurang kritis terhadap apa yang sudah menimpa mereka pada masa lalu. “Kami ini orang Indonesia, jadi orang asing bukan atas kemauan kami. Kami, kan, harus punya kewarganegaraan, kalau nggak kami nggak bisa hidup, dong, “ ujar Asahan Aidit dalam film berdurasi 119 menit itu.
Sebagaimana dikutip dari Tirto, Asahan lahir di Tangjungpandan, Belitung, pada Desember 1938. Setelah menyelesaikan SMA, ia mendaftar di jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Tahun 1961, Asahan mendapat beasiswa dari Universitas Persahabatan Patrice Lumumba di Moskow. Gelar Magister Humaniora ia raih pada 1966. Artinya, saat terjadi peristiwa 1965 yang menewaskan kakak sulungnya, DN Aidit, juga kemudian menyeret beberapa kakaknya yang lain ke dalam tahanan Orde Baru, Asahan tengah tinggal di Moskow. Ia tentu saja tak memilih pulang ke Indonesia atas alasan keamanan.
Tom dan Asahan menjadi salah dua dari sekian narasumber yang bersedia kehidupannya pada masa lalu dikulik kembali. Ia diikuti gerak-geriknya selama beberapa waktu, dan akhirnya bersedia menceritakan segala keresahan, kegalauan juga terutama kerinduan pada kampung halaman di depan kamera.
Pada Oktober 2015, Tom Iljas, seorang eksil dari Swedia, dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas I Padang ketika hendak berziarah ke makam ibunya di Kampung Salido, kecamatan Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tom adalah salah seorang mahasiswa Teknik Pertanian yang dikirim dari kampungnya untuk melanjutkan kuliah.
Tom dideportasi dan ditangkal dari Indonesia karena dianggap melanggar pasal 122 huruf a Undang-Undang No 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian karena melakukan kegiatan yang tak sesuai dengan izin yang dimilikinya. Pasca peristiwa 1965, Tom menjadi eksil di Swedia yang menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun.

Foto: Lola Amaria Production
Apa yang dialami Tom memang tak dialami Asahan, tapi juga tak membuatnya kurang kritis terhadap apa yang sudah menimpa mereka pada masa lalu. “Kami ini orang Indonesia, jadi orang asing bukan atas kemauan kami. Kami, kan, harus punya kewarganegaraan, kalau nggak kami nggak bisa hidup, dong, “ ujar Asahan Aidit dalam film berdurasi 119 menit itu.
Sebagaimana dikutip dari Tirto, Asahan lahir di Tangjungpandan, Belitung, pada Desember 1938. Setelah menyelesaikan SMA, ia mendaftar di jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Tahun 1961, Asahan mendapat beasiswa dari Universitas Persahabatan Patrice Lumumba di Moskow. Gelar Magister Humaniora ia raih pada 1966. Artinya, saat terjadi peristiwa 1965 yang menewaskan kakak sulungnya, DN Aidit, juga kemudian menyeret beberapa kakaknya yang lain ke dalam tahanan Orde Baru, Asahan tengah tinggal di Moskow. Ia tentu saja tak memilih pulang ke Indonesia atas alasan keamanan.
Tom dan Asahan menjadi salah dua dari sekian narasumber yang bersedia kehidupannya pada masa lalu dikulik kembali. Ia diikuti gerak-geriknya selama beberapa waktu, dan akhirnya bersedia menceritakan segala keresahan, kegalauan juga terutama kerinduan pada kampung halaman di depan kamera.
Lihat Juga :