Review Film Marry Me: Sejujurnya, Menikah Butuh Uang!
Rabu, 07 Februari 2024 - 13:11 WIB
loading...
Film pendek Marry Me menggambarkan betapa gilanya pengorbanan atas nama cinta. Foto/Joni Astin Film
A
A
A
JAKARTA - Cukup dua hari produksi dan berdurasi lima menit, penonton akan tahu bahwa makna film pendek ini sungguh mendalam. Adegan per adegan sangat sistematis dan jelas dalam mengungkap alur cerita.
Beres menonton, film ini memberi rasa seakan dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama pasangan yang punya keinginan menikah. Tanpa dialog, narator membeberkan setiap maksud dengan apik.
Tokoh utama, dipanggil a Man, adalah seorang pria muda yang ingin meminang kekasihnya tetapi kekurangan uang untuk membeli cincin. Ia digambarkan sebagai seorang lelaki yang bersedia melakukan apa pun demi memberikan kebahagiaan pada kekasihnya, a Girl.
Baca Juga: CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang
Sosok a Girl hanya keluar sesekali sebagai manifestasi dari hasil perenungan a Man tentang sosok perempuan impiannya. Ia berwajah Asia dan sangat cantik. Dia menjadi alasan mengapa a Man mampu melakukan hal di luar nalar.
Sempat berpikir bagaimana si penulis naskah mengambil ide ceritanya. Apa ada seseorang yang mampu melakukan kegilaan seperti a Man di dunia nyata?
![Review Film Marry Me: Sejujurnya, Menikah Butuh Uang!]()
Foto:Joni Astin Film
Rasanya sulit menemukan film serupa yang bisa disandingkan dengan Marry Me. Kebanyakan dari yang sudah ada, tema-tema percintaan sebelum menikah lebih bertema sulit menikah karena terhadang restu, atau perbedaan kasta, seperti Silariang: Cinta yang Tak Direstui (2018), Lamaran (2015), Di Bawah Lindungan Kabah (2011), dan Agen Dunia (2021). Tepat rasanya jika mengatakan premis cerita Marry Me sebagai satu ide yang segar.
Marry Me punya sisi kelam mengenai perdagangan organ manusia yang biasanya hanya ada dalam film-film dengan genre thriller. Penulis cerita dan produser film ini, Joni Astin Ariadi, hanya perlu dua jam menulis ceritanya dan dua belas jam mengurasinya.
Alur cerita Marry Me ternyata menjadi sangat kaya makna dengan mengambil sisi cinta di luar nalar. Ini membuat bulu kuduk merinding dengan cara yang tidak biasa, bukan menakut-nakuti seram selayaknya genre serupa yang sudah ada.
Dilansir dari hindustantimes.com, kejadian pada 2017, seorang perempuan berusia 21 tahun asal Bihar datang ke New Delhi untuk menjual satu ginjalnya supaya bisa membayar utang nikah pada pacarnya.
Dia mengatakan bahwa saat itu dia adalah seorang janda dan sekarang memiliki seorang kekasih. Karena tidak direstui orang tua, kini dia mengikuti sang kekasih pindah ke Moradabad.
Sang kekasih mau menikahinya asalkan si perempuan bisa memberikan uang sebesar Rs1,8 laks, atau sekitar Rp35 juta dengan kurs rupiah saat ini. Tentunya niatan ini ditolak oleh pihak rumah sakit tempat dia meminta perawatan tersebut.
Beres menonton, film ini memberi rasa seakan dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama pasangan yang punya keinginan menikah. Tanpa dialog, narator membeberkan setiap maksud dengan apik.
Tokoh utama, dipanggil a Man, adalah seorang pria muda yang ingin meminang kekasihnya tetapi kekurangan uang untuk membeli cincin. Ia digambarkan sebagai seorang lelaki yang bersedia melakukan apa pun demi memberikan kebahagiaan pada kekasihnya, a Girl.
Baca Juga: CERMIN: Mereka yang Terbuang Jauh di Seberang
Sosok a Girl hanya keluar sesekali sebagai manifestasi dari hasil perenungan a Man tentang sosok perempuan impiannya. Ia berwajah Asia dan sangat cantik. Dia menjadi alasan mengapa a Man mampu melakukan hal di luar nalar.
Sempat berpikir bagaimana si penulis naskah mengambil ide ceritanya. Apa ada seseorang yang mampu melakukan kegilaan seperti a Man di dunia nyata?

Foto:Joni Astin Film
Rasanya sulit menemukan film serupa yang bisa disandingkan dengan Marry Me. Kebanyakan dari yang sudah ada, tema-tema percintaan sebelum menikah lebih bertema sulit menikah karena terhadang restu, atau perbedaan kasta, seperti Silariang: Cinta yang Tak Direstui (2018), Lamaran (2015), Di Bawah Lindungan Kabah (2011), dan Agen Dunia (2021). Tepat rasanya jika mengatakan premis cerita Marry Me sebagai satu ide yang segar.
Marry Me punya sisi kelam mengenai perdagangan organ manusia yang biasanya hanya ada dalam film-film dengan genre thriller. Penulis cerita dan produser film ini, Joni Astin Ariadi, hanya perlu dua jam menulis ceritanya dan dua belas jam mengurasinya.
Alur cerita Marry Me ternyata menjadi sangat kaya makna dengan mengambil sisi cinta di luar nalar. Ini membuat bulu kuduk merinding dengan cara yang tidak biasa, bukan menakut-nakuti seram selayaknya genre serupa yang sudah ada.
Pengorbanan Cinta di Luar Nalar
Sejauh apa seseorang mampu berkorban demi cinta?Dilansir dari hindustantimes.com, kejadian pada 2017, seorang perempuan berusia 21 tahun asal Bihar datang ke New Delhi untuk menjual satu ginjalnya supaya bisa membayar utang nikah pada pacarnya.
Dia mengatakan bahwa saat itu dia adalah seorang janda dan sekarang memiliki seorang kekasih. Karena tidak direstui orang tua, kini dia mengikuti sang kekasih pindah ke Moradabad.
Sang kekasih mau menikahinya asalkan si perempuan bisa memberikan uang sebesar Rs1,8 laks, atau sekitar Rp35 juta dengan kurs rupiah saat ini. Tentunya niatan ini ditolak oleh pihak rumah sakit tempat dia meminta perawatan tersebut.
Lihat Juga :