Penting Mengenali Gejala ADHD pada Anak
Rabu, 12 Agustus 2020 - 23:41 WIB
loading...
A
A
A
“Kami sadar bahwa orangtua tersebut membutuhkan dukungan lebih, dalam hal informasi yang jelas dan benar untuk membantu mereka menjaga anak selama masa pandemi,” ujar Devy.
Hingga saat ini penyebab ADHD belum diketahui secara pasti, namun menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, sejumlah kasus ADHD menunjukkan adanya beberapa bagian otak berukuran lebih kecil dan metabolisme di otaknya mengalami penurunan di daerah tertentu. Selain itu juga mengalami kekurangan beberapa bahan kimia di otak, seperti dopamin atau norepinefrin dan serotonin.
Keterlambatan maturasi otak dan disfungsi pada sirkuit otak tertentu juga merupakan salah satu penyebab utamanya sehingga dapat mengganggu kognitif, perhatian, dan fungsi eksekutif. (Baca Juga: Studi: Obesitas Bisa Membuat Vaksin Covid-19 Tak Efektif )
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang memiliki ADHD adalah genetik dan lingkungan. Intervensi perilaku beserta farmakoterapi merupakan terapi yang baik bagi ADHD. Sementara intervensi perilaku yang dilakukan dengan mengoreksi perilaku bermasalah melalui pelatihan, dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki fungsi sehari-hari dan sosial.
Sebaliknya, jika anak ADHD tidak dirawat atau diberikan tatalaksana yang tepat, dapat menyebabkan anak tersebut menderita luka berat saat masa kanak-kanak, kemungkinan menyalahgunakan obat/alkohol atau merokok, dan lebih dari satu kali kejadian dengan polisi saat remaja.
Hingga saat ini penyebab ADHD belum diketahui secara pasti, namun menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, sejumlah kasus ADHD menunjukkan adanya beberapa bagian otak berukuran lebih kecil dan metabolisme di otaknya mengalami penurunan di daerah tertentu. Selain itu juga mengalami kekurangan beberapa bahan kimia di otak, seperti dopamin atau norepinefrin dan serotonin.
Keterlambatan maturasi otak dan disfungsi pada sirkuit otak tertentu juga merupakan salah satu penyebab utamanya sehingga dapat mengganggu kognitif, perhatian, dan fungsi eksekutif. (Baca Juga: Studi: Obesitas Bisa Membuat Vaksin Covid-19 Tak Efektif )
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang memiliki ADHD adalah genetik dan lingkungan. Intervensi perilaku beserta farmakoterapi merupakan terapi yang baik bagi ADHD. Sementara intervensi perilaku yang dilakukan dengan mengoreksi perilaku bermasalah melalui pelatihan, dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki fungsi sehari-hari dan sosial.
Sebaliknya, jika anak ADHD tidak dirawat atau diberikan tatalaksana yang tepat, dapat menyebabkan anak tersebut menderita luka berat saat masa kanak-kanak, kemungkinan menyalahgunakan obat/alkohol atau merokok, dan lebih dari satu kali kejadian dengan polisi saat remaja.
(tsa)
Lihat Juga :