CERMIN: Dari Cowok Pemberontak, Ali Topan Kini Jadi Anak Skena
Jum'at, 16 Februari 2024 - 12:05 WIB
loading...
Film Ali Topan (2024) yang dibintangi Jefri Nichol mengubah sosok pemuda pemberontak yang ikonis menjadi sekadar anak skena penuh privilege. Foto/Visinema Pictures
A
A
A
JAKARTA - Tahun 1972. Teguh Esha pertama kali memperkenalkan tokoh Ali Topan melalui cerita bersambung di majalah Stop. Dan Indonesia pun punya ikon pemuda pemberontak meski fiktif.
Dalam bukunya Suara Pancaran Cita (1983), Korrie Layun Rampan menyatakan bahwa tokoh Ali Topan merupakan prototipe remaja tahun 1970-an. Tokoh ini ekspresif, brutal, genius, bahkan kadang-kadang tampak superhuman atau superman. Sementara dalam bukunya yang lain, Perjalanan Sastra Indonesia (1983), Korrie menyatakan bahwa karya Teguh ini berbentuk kritik sosial yang tajam.
Lalu 52 tahun sejak pertama kali diperkenalkan, di tangan sutradara Sidharta Tata, tokoh Ali Topan direduksi dan bertransformasi menjadi sekadar anak skena. Dalam film Ali Topanyang kini diperankan Jefri Nichol, hilang sudah semangat pemberontakan menggebu-gebu ala anak muda darinya.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
Sejak pertama kali tampil di layar, yang bisa langsung kita lihat memang adalah dandanan Topan yang skena banget: pakaian yang modis dengan gaya rambut mullet yang selalu tampak berminyak. Dengan tampilan seperti itu maka kita pun tahu bahwa sosok Ali Topan dicoba dilahirkan kembali. Tapi kita juga ingin tahu pemberontakan seperti apa yang akan dilakukannya dalam film berdurasi 115 menit itu.
Kita tak pernah benar-benar diperlihatkan apa yang sesungguhnya dilakukan Ali Topan di sebuah tongkrongan yang disebut “warung seni” itu. Kita tak pernah benar-benar tahu apa saja yang dilakukan ia dan kawanannya di sana kecuali menggelar konser musik yang lantas rusuh.
![CERMIN: Dari Cowok Pemberontak, Ali Topan Kini Jadi Anak Skena]()
Foto: Visinema Pictures
Tapi yang tiba-tiba kita lihat adalah bagaimana Ali Topan kabur dari sebuah situasi yang sebenarnya tak mengharuskannya kabur 'hanya' demi menyelamatkan perempuan cantik yang belum lama dikenalnya bernama Anna Karenina.
Tak ada urgensi apa pun yang mengharuskan Topan lari begitu saja dari Jakarta dan lantas menyusuri sudut demi sudut sepanjang Jawa hanya untuk dikejar-kejar seorang anak menteri yang juga tak jelas statusnya dengan Anna. Karena semuanya serba kabur, kita pun susah untuk dibuat bersimpati dengan perjalanan keduanya. Seperti yang diutarakan Topan sendiri dalam sebuah dialog bahwa ia hanyalah 'anak orang kaya yang bikin repot semua orang'.
Dalam bukunya Suara Pancaran Cita (1983), Korrie Layun Rampan menyatakan bahwa tokoh Ali Topan merupakan prototipe remaja tahun 1970-an. Tokoh ini ekspresif, brutal, genius, bahkan kadang-kadang tampak superhuman atau superman. Sementara dalam bukunya yang lain, Perjalanan Sastra Indonesia (1983), Korrie menyatakan bahwa karya Teguh ini berbentuk kritik sosial yang tajam.
Lalu 52 tahun sejak pertama kali diperkenalkan, di tangan sutradara Sidharta Tata, tokoh Ali Topan direduksi dan bertransformasi menjadi sekadar anak skena. Dalam film Ali Topanyang kini diperankan Jefri Nichol, hilang sudah semangat pemberontakan menggebu-gebu ala anak muda darinya.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
Sejak pertama kali tampil di layar, yang bisa langsung kita lihat memang adalah dandanan Topan yang skena banget: pakaian yang modis dengan gaya rambut mullet yang selalu tampak berminyak. Dengan tampilan seperti itu maka kita pun tahu bahwa sosok Ali Topan dicoba dilahirkan kembali. Tapi kita juga ingin tahu pemberontakan seperti apa yang akan dilakukannya dalam film berdurasi 115 menit itu.
Kita tak pernah benar-benar diperlihatkan apa yang sesungguhnya dilakukan Ali Topan di sebuah tongkrongan yang disebut “warung seni” itu. Kita tak pernah benar-benar tahu apa saja yang dilakukan ia dan kawanannya di sana kecuali menggelar konser musik yang lantas rusuh.

Foto: Visinema Pictures
Tapi yang tiba-tiba kita lihat adalah bagaimana Ali Topan kabur dari sebuah situasi yang sebenarnya tak mengharuskannya kabur 'hanya' demi menyelamatkan perempuan cantik yang belum lama dikenalnya bernama Anna Karenina.
Tak ada urgensi apa pun yang mengharuskan Topan lari begitu saja dari Jakarta dan lantas menyusuri sudut demi sudut sepanjang Jawa hanya untuk dikejar-kejar seorang anak menteri yang juga tak jelas statusnya dengan Anna. Karena semuanya serba kabur, kita pun susah untuk dibuat bersimpati dengan perjalanan keduanya. Seperti yang diutarakan Topan sendiri dalam sebuah dialog bahwa ia hanyalah 'anak orang kaya yang bikin repot semua orang'.
Lihat Juga :