CERMIN: Hubungan Cinta-Benci Bob Marley dengan Tanah Tumpah Darahnya, Jamaika
Jum'at, 23 Februari 2024 - 13:10 WIB
loading...
Film biopik Bob Marley: One Love menggambarkan liku kehidupan sang legenda dalam memperjuangkan perdamaian. Foto/Paramount Pictures
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2019. Dalam sebuah tulisan di kolom mingguannya yang terkenal di majalah Tempo, Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad menulis makna “tanah tumpah darah” dengan menarik.
Goenawan menyebut kata “tanah tumpah darah” itu dramatis, menyentuh, dan menambat hati. Seakan-akan ada tali pusar yang suci yang mempertautkan manusia dan tanah ini – dan melepaskan diri adalah sebuah dosa.
Bagi Bob Marley, Jamaika adalah tanah tumpah darahnya. Lahir di sebuah wilayah bernama Nine Mile pada 1945, Bob juga menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Ia mencintainya sepenuh hati tapi pada saat bersamaan juga pernah membencinya sekuat tenaga.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
Ia tak membenci tanah tumpah darahnya sesungguhnya, tapi ia membenci mereka yang hendak menguasainya dan akhirnya menghalalkan kekerasan sebagai jalan menuju puncak kekuasaan. Perang saudara pun berkobar dan membelah Jamaika menjadi berkeping-keping.
Dalam salah satu adegan film Bob Marley: One Love, pesan Bob sungguh jelas dan lantang: perang tengah terjadi. Kita tak bisa memisahkan musik dari pesannya. Dan pesannya adalah tentang perdamaian.
![CERMIN: Hubungan Cinta-Benci Bob Marley dengan Tanah Tumpah Darahnya, Jamaika]()
Foto: Paramount Pictures
Oleh karena itulah lagu-lagu yang lantas keluar dari kerongkongan Bob sekuat lagu-lagu yang pernah ditampilkan The Beatles. Pesan-pesan perdamaian itu terus disampaikannya dalam lagu demi lagu hingga Bob menyadari suatu hal. Bagaimana mungkin saya bisa terus menyebarkan pesan damai jika saya tak bisa berdamai dengan diri saya sendiri?
Bob Marley: One Love memulai ceritanya dari sebuah keinginan sederhana Bob, yaitu ingin membuat konser perdamaian. Ia sudah gerah dengan perang yang tak henti dan terus menelan korban.
Goenawan menyebut kata “tanah tumpah darah” itu dramatis, menyentuh, dan menambat hati. Seakan-akan ada tali pusar yang suci yang mempertautkan manusia dan tanah ini – dan melepaskan diri adalah sebuah dosa.
Bagi Bob Marley, Jamaika adalah tanah tumpah darahnya. Lahir di sebuah wilayah bernama Nine Mile pada 1945, Bob juga menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Ia mencintainya sepenuh hati tapi pada saat bersamaan juga pernah membencinya sekuat tenaga.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
Ia tak membenci tanah tumpah darahnya sesungguhnya, tapi ia membenci mereka yang hendak menguasainya dan akhirnya menghalalkan kekerasan sebagai jalan menuju puncak kekuasaan. Perang saudara pun berkobar dan membelah Jamaika menjadi berkeping-keping.
Dalam salah satu adegan film Bob Marley: One Love, pesan Bob sungguh jelas dan lantang: perang tengah terjadi. Kita tak bisa memisahkan musik dari pesannya. Dan pesannya adalah tentang perdamaian.

Foto: Paramount Pictures
Oleh karena itulah lagu-lagu yang lantas keluar dari kerongkongan Bob sekuat lagu-lagu yang pernah ditampilkan The Beatles. Pesan-pesan perdamaian itu terus disampaikannya dalam lagu demi lagu hingga Bob menyadari suatu hal. Bagaimana mungkin saya bisa terus menyebarkan pesan damai jika saya tak bisa berdamai dengan diri saya sendiri?
Bob Marley: One Love memulai ceritanya dari sebuah keinginan sederhana Bob, yaitu ingin membuat konser perdamaian. Ia sudah gerah dengan perang yang tak henti dan terus menelan korban.
Lihat Juga :