Komplikasi Hipertensi Sebabkan Beban Ekonomi Tinggi, InaSH Ingatkan Pentingnya Pencegahan

Jum'at, 23 Februari 2024 - 22:33 WIB
loading...
Komplikasi Hipertensi...
Beban ekonomi akibat komplikasi hipertensi di Indonesia masih tinggi. Foto Ilustrasi/iStock
A A A
JAKARTA - Indonesian Society of Hypertension (InaSH) menggelar 18th Scientific Meeting yang mengangkat tema Beban Ekonomi Akibat Komplikasi Hipertensi.

Untuk diketahui, beban ekonomi akibat komplikasi hipertensi di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan penelitian di 15 negara berkembang termasuk Indonesia, beban biaya penyakit ini tercatat mencapai USD1.497,36 per orang per tahun.

Ketua Panitia The 18th Annual Scientific Meeting of InaSH 2024 dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) mengungkapkan, berdasarkan data dari BPJS, klaim terbesar di tahun 2023 dipegang oleh penyakit jantung dengan besaran Rp17,63 triliun.

"Berdasarkan laporan BPJS di tahun 2023, dari 23 juta peserta JKN yang telah menjalani skrining riwayat kesehatan, sekitar 8 persen di antaranya berisiko menderita hipertensi,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/2/2024).

Menurut dr. Ario, hipertensi yang tidak tertangani akan menimbulkan kerusakan pada organ lain, termasuk otak dan ginjal.

"Bisa dibayangkan biaya kesehatan yang akan sangat membengkak apabila sampai terjadi gangguan di tiga organ sekaligus. Harus diingat juga bahwa penyakit jantung, ginjal, dan otak termasuk penyakit katastropik dengan klaim BPJS terbesar di Indonesia. Dengan demikian, pencegahan adalah salah satu langkah tepat agar pasien tetap sehat, dapat produktif, serta tidak memberikan beban kepada keluarga, masyarakat, dan negara," bebernya.

Sementara itu, Wakil Ketua InaSH dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S menegaskan, tanpa disadari hipertensi dapat merusak organ
selama bertahun-tahun sebelum ada gejala. Apabila tidak diobati, hipertensi dapat menyebabkan disabilitas, kualitas hidup buruk, hingga kematian karena kerusakan organ target seperti otak, jantung, dan ginjal.

Hipertensi juga dapat menyebabkan stroke minor yang terjadi karena terganggunya aliran darah ke otak dalam waktu singkat akibat penyumbatan di pembuluh darah.
Komplikasi Hipertensi Sebabkan Beban Ekonomi Tinggi, InaSH Ingatkan Pentingnya Pencegahan

InaSH menggelar 18th Scientific Meeting dengan tema Beban Ekonomi Akibat Komplikasi Hipertensi. Foto/Istimewa

"Selain itu, hipertensi merupakan faktor risiko utama penyebab stroke. Menurut berbagai penelitian hipertensi ditemukan pada 60%-70% kasus stroke," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua InaSH dr. Erwinanto, Sp.JP(K), FIHA menjelaskan, diagnosis hipertensi ditegakkan jika tekanan darah yang diukur di klinik mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

"Tidak semua dari mereka yang tekanan darahnya terukur ≥140/90 mmHg di klinik mempunyai peningkatan tekanan darah jika diukur di luar klinik. Pengukuran tekanan darah di luar klinik dapat menggunakan Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) atau pengukuran tekanan darah di rumah menggunakan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM)," terang dr. Erwinanto.

"Diagnosis hipertensi disebut akurat jika baik pengukuran tekanan darah di klinik maupun di luar klinik menunjukkan tekanan darah yang meningkat dan disebut sebagai true hypertension. Individu yang mempunyai tekanan darah meningkat ketika diukur di klinik tetapi mempunyai tekanan darah normal ketika diukur di luar klinik disebut hipertensi jas putih (whitecoat hypertension)," lanjutnya.

Individu dengan true hypertension, kata dr. Erwinanto, memerlukan terapi obat antihipertensi. Sementara individu dengan whitecoat hypertension, yang jumlahnya dapat mencapai 30% dari mereka yang terdeteksi hipertensi di klinik, tidak perlu terapi obat.

"Pada saat ini belum ada bukti bahwa terapi obat yang diberikan pada penyandang whitecoat hypertension dapat mencegah penyakit akibat hipertensi seperti penyakit kardiovaskular, stroke atau penyakit ginjal,” pungkas dr. Erwinanto.
(tsa)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Berat Badan...
Mengapa Berat Badan Ideal Bisa Menurunkan Risiko Hipertensi? Ini Kata Dokter
Dokter Ungkap Cara Lepas...
Dokter Ungkap Cara Lepas dari Obat Darah Tinggi, Begini Caranya!
Daging Kambing Dituding...
Daging Kambing Dituding Picu Kolesterol dan Hipertensi, Ini Kata Menkes
Hipertensi Mulai Serang...
Hipertensi Mulai Serang Usia Muda, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya
Kemenkes Akan Upgrade...
Kemenkes Akan Upgrade Cek Kesehatan Gratis 2026, Kanker Payudara Masuk Prioritas
RSUD Dr. Soetomo Ungkap...
RSUD Dr. Soetomo Ungkap Penyakit yang Perlu Diwaspadai Saat Natal dan Tahun Baru, Apa Saja?
Dirut BPJS Kesehatan...
Dirut BPJS Kesehatan Dorong Generasi Muda Cegah DM dan Hipertensi melalui Fun Run 2026
Cek Kesehatan Gratis,...
Cek Kesehatan Gratis, Hipertensi dan Masalah Gigi Mulai Muncul pada Anak Sekolah
Waspada 8 Gejala Awal...
Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Jangan Dianggap Sepele
Rekomendasi
Prabowo Ucapkan Selamat...
Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-65 untuk Jokowi
Mitsubishi Pajero Targetkan...
Mitsubishi Pajero Targetkan Segmen yang Sama dengan Toyota Land Cruiser
Piala Dunia 2026: Jepang...
Piala Dunia 2026: Jepang 2 Kali Koyak Gawang Tunisia di Babak Pertama
Berita Terkini
Sarwendah Bantah Rugi...
Sarwendah Bantah Rugi Rp20 Miliar, Sebut Masih Banyak Brand yang Bekerja Sama
Sarwendah Akhirnya Buka...
Sarwendah Akhirnya Buka Suara, Tegas Bantah Halangi Ruben Onsu Bertemu Anak
Kekasih Sarwendah Jadi...
Kekasih Sarwendah Jadi Sorotan, Giorgio Antonio Diduga Kenakan Jam Tangan Palsu Audemars Piguet
Jakarta Night Market...
Jakarta Night Market Glodok Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Raup Untung Besar
Pria Mudah Lelah dan...
Pria Mudah Lelah dan Mengantuk Meski Cukup Tidur? Bisa Jadi Tanda Testosteron Rendah
Dokter Ungkap Penyebab...
Dokter Ungkap Penyebab Bau Kaki yang Sebenarnya, Ternyata Bukan Karena Keringat
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved