CERMIN: Keluar Main 1994 dan Surat Cinta untuk Sinema Makassar
Jum'at, 29 Maret 2024 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Jadinya saya sungguh mengapresiasi Bilal dan tim bekerja ekstra keras untuk menghadirkan Makassar dengan latar tahun ketika saya baru saja duduk di bangku SMA. Seperti Ardi, saya memanggil Bilal dengan panggilan akrab karena ia juga terlibat dalam departemen artistik yang dikomandoi Ezra Tampubolon dalam film SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui yang saya produseri pada 2018.
Hanya saja sinema Makassar, sebagaimana kebanyakan film nasional sekalipun, hampir selalu bertumpu pada skenario yang tak sepenuhnya matang.
Di atas kertas, ide cerita yang dirakit penulis Elvin Miradi punya potensi untuk melampaui film-film produksi rumah produksi besar (nasional) yang semakin lama terasa semakin generik. Kelemahan yang hampir selalu tak disadari oleh penulis adalah bahwa tokoh utama terlalu punya banyak keinginan.
Ini yang akhirnya mengalirkan subplot-subplot yang sering kali terasa berusaha mengambil alih fokus utama cerita. Akhirnya membuat terlalu banyak hal yang ingin disampaikan dalam filmnya.
Hasilnya adalah film baru terasa dimulai setelah 40 menit durasi berjalan alias melewati babak 1 ketika Pak Amrizal mengumumkan Lomba Football ala Amrizal (Futzal).
Yang juga menjadi catatan dari film bergenre komedi adalah keinginan untuk berusaha melucu terlalu keras tanpa memikirkan terlebih dahulu untuk membangun pondasi cerita yang solid. Padahal seharusnya logikanya di balik, perlu skenario solid terlebih dahulu dan setelahnya barulah kelucuan demi kelucuan bisa dihadirkan dengan tepat.
Mau pemain sekaliber Arif Brata dan Arie Kriting sekalipun, tak bisa menolong skenario yang loyo di banyak titik untuk memunculkan tawa.
![CERMIN: Keluar Main 1994 dan Surat Cinta untuk Sinema Makassar]()
Foto: DL Entertainment
Padahal pendekatan untuk menjadikan film ini terasa komikal adalah pendekatan yang menarik dan berani. Seperti adegan sperma yang berkejar-kejaran demi mendapatkan Alisha Mellong itu absurd, lucu, dan segar.
Sayangnya pendekatan ini tak berani didorong hingga ke titik maksimal dan dihadirkan dalam banyak adegan, agar sekalian saja menghadirkan kelucuan yang absurd dan terasa tak setengah hati.
Hanya saja sinema Makassar, sebagaimana kebanyakan film nasional sekalipun, hampir selalu bertumpu pada skenario yang tak sepenuhnya matang.
Di atas kertas, ide cerita yang dirakit penulis Elvin Miradi punya potensi untuk melampaui film-film produksi rumah produksi besar (nasional) yang semakin lama terasa semakin generik. Kelemahan yang hampir selalu tak disadari oleh penulis adalah bahwa tokoh utama terlalu punya banyak keinginan.
Ini yang akhirnya mengalirkan subplot-subplot yang sering kali terasa berusaha mengambil alih fokus utama cerita. Akhirnya membuat terlalu banyak hal yang ingin disampaikan dalam filmnya.
Hasilnya adalah film baru terasa dimulai setelah 40 menit durasi berjalan alias melewati babak 1 ketika Pak Amrizal mengumumkan Lomba Football ala Amrizal (Futzal).
Yang juga menjadi catatan dari film bergenre komedi adalah keinginan untuk berusaha melucu terlalu keras tanpa memikirkan terlebih dahulu untuk membangun pondasi cerita yang solid. Padahal seharusnya logikanya di balik, perlu skenario solid terlebih dahulu dan setelahnya barulah kelucuan demi kelucuan bisa dihadirkan dengan tepat.
Mau pemain sekaliber Arif Brata dan Arie Kriting sekalipun, tak bisa menolong skenario yang loyo di banyak titik untuk memunculkan tawa.

Foto: DL Entertainment
Padahal pendekatan untuk menjadikan film ini terasa komikal adalah pendekatan yang menarik dan berani. Seperti adegan sperma yang berkejar-kejaran demi mendapatkan Alisha Mellong itu absurd, lucu, dan segar.
Sayangnya pendekatan ini tak berani didorong hingga ke titik maksimal dan dihadirkan dalam banyak adegan, agar sekalian saja menghadirkan kelucuan yang absurd dan terasa tak setengah hati.
Lihat Juga :