alexametrics

Membentuk Karakter Anak sejak Usia Dini Melalui Olahraga

loading...
Membentuk Karakter Anak sejak Usia Dini Melalui Olahraga
Usia dini merupakan masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. / Foto: istimewa
A+ A-
JAKARTA - Sejauh ini, tidak bisa dipungkiri jika usia dini merupakan peluang emas dalam membentuk sebuah karakter seseorang. Pasalnya, usia dini merupakan masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk.

Sementara, dalam dunia olahraga, guna mengasah mental dan mematangkan skill, perlu dilakukan pembinaan atlet sejak usia dini. Langkah itu cukup penting untuk sang anak dalam merintis sebuah karier ke depannya.

Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh SD Ar-Rahman Motik, Jakarta. Selain berupaya membentuk karakter seseorang sejak dini, mereka juga ingin melakukan regenerasi untuk pemain bola basket Tanah Air dengan menggelar kompetisi basket 3x3 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 7-8 November.

Kompetisi tersebut melibatkan sebanyak 25 tim dari berbagai Sekolah Dasar se-DKI Jakarta. Agar para atlet cilik ini benar-benar lebih terasah, kompetisi "3x3 Ar-Rahman Motik Basket Ball Competition 2018" menghadirkan wasit dan panitia langsung dari Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia). Hal ini bisa terjadi, karena turnamen ini mendapat pengakuan langsung dari Perbasi.

"Event ini berawal dari keprihatinan. Keprihatinan anak-anak sekarang itu fisik aktivitas fisik kurang. Lebih lama main gadget ketimbang yang lainnya. Makanya kita berpikir untuk bikin event ini, tapi bagaimana mereka datang bukan hanya main basket dan berkompetisi? Tapi juga ada edukasinya," ungkap Ketua Pelaksana, Catur Prastyo dalam pernyataan tertulisnya.

Sebagai edukasi, panitia mendatangkan para pebasket Tim Nasional Indonesia, seperti Prastawa Andakara Dhyaksa, Ponsianus Nyoman Indrawan, Adhi Pratama Prasetyo Putra, dan Valentino Wuwungan. Bahkan hadir pula pelatih Timnas, Fictor Gideon Roring (Ito) dan Johannis Winar atau panggilan akrabnya Coach Ahang.

"Jadi kita menghadirkan pebasket idola mereka untuk hadir. Mereka berbicara, apa korelasi antara pentingnya sekolah dan main basket? Kenapa sekolahnya musti pinter agar main basketnya bisa bagus. Sejauh ini sih tidak ada kendala. Kendala memang tidak ada, karena memang usia mereka usia bermain. Jadi ajang ini untuk ajang mereka bermain. Pulang sekolah mereka punya memori dan kesan," jelas Catur.

Seluruh peserta baik menang atau kalah akan dapat medali sebagai kenang-kenangan. Harapannya, ke depannya, mereka bukan hanya jago basket, tapi edukasinya juga bagus dan sekolahnya beres agar mereka bisa mengatur masa depannya dengan baik.

Meski mengadopsi regulasi Perbasi, terdapat modifikasi dalam sistem pertandingan. Apabila normalnya untuk usia dewasa main 10 menit bersih, di sini hanya tujuh menit kotor. Aturan pertandingannya pada dasarnya sama, hanya dimodifikasi waktunya.

Rencananya, kompetisi olahraga dengan tema utama edukasi seperti basket 3x3 akan menjadi agenda tahunan SD Ar-Rahman Motik. Bahkan terbuka kemungkinan terdapat cabang olahraga lainnya.

Sementara itu, Coach Ito menyambut gembira turnamen ini, karena dirinya bisa bertemu dengan anak-anak sekolah, dan bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan. "Di usia dini mereka sudah berlatih basket, bisa mengembangkan bakat-bakatnya. Bagi saya sebagai pelatih, saya sudah punya pemain-pemain muda yang basic dan fundamentalnya solid," ungkapnya.
(nug)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak