CERMIN: Badarawuhi, Prekuel yang (Mungkin) Tak Perlu Dibuat
Jum'at, 12 April 2024 - 09:12 WIB
loading...
A
A
A
Tak ada upaya lebih untuk memberi informasi baru tentang apa pun yang sesungguhnya terjadi, tak ada niat mengulik apa yang terjadi di tengah tarian kesurupan itu. Badarawuhi dimunculkan begitu saja ke dalam adegan dan tanpa membuat penonton bergidik, merasa terteror atau pun ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Badarawuhi di Desa Penari mengulang premis yang sudah ada di puluhan atau ratusan film horor lokal yang diproduksi sebelumnya. Mila (Maudy Effrosina) ditemani oleh tiga orang laki-laki berangkat ke Desa Penari dengan sebuah misi: mengembalikan sebuah gelang yang dipercaya menjadi milik dari penunggu desa tersebut.
Lalu premis membosankan ini pun masih ditambah dengan seolah twist yang sebenarnya sudah tertebak sejak awal: bahwa kelak gelang tersebut diserahkan oleh Mila ke makhluk yang seharusnya tak memilikinya sejak awal.
![CERMIN: Badarawuhi, Prekuel yang (Mungkin) Tak Perlu Dibuat]()
Foto: MD Pictures
Sepanjang 90 menit durasinya yang terasa berjalan sangat lamban, kita sudah tahu ke mana ceritanya akan bergerak. Saya membayangkan seharusnya skenario memang justru dibuka dari menit ke-90 itu: sebuah desa dilanda bencana besar. Hewan-hewan ternak bergelimpangan di seantero desa, dan mati secara misterius.
Dari sawah hingga ladang jagung mengalami gagal panen karena diserang sesuatu yang misterius, dan cerita atau skenario pun jadi terasa urgensinya. Ini bukan lagi sekadar persoalan personal Mila yang ingin agar ibunya kembali membaik dengan mengembalikan gelang tersebut, ini persoalan besar bagaimana agar desa yang semula tenteram itu kembali ke kondisi semula.
Dengan membuka adegan sedemikian, maka kita sebagai penonton langsung dibawa masuk ke sebuah semesta yang lebih eksploratif dari film pendahulunya. Bahwa segala musibah, segala kejadian aneh yang terjadi di desa itu, berujung pada sosok mitos Badarawuhi.
Dari sinilah Lele Leila bisa memberi pemahaman yang jelas tentang asal muasal sosok ini, bagaimana ia muncul dan apa yang mendorong kemunculannya, apa kaitannya dengan musibah yang menimpa seantero desa, dan seterusnya.
Namunsayangnya memang franchise ini terlalu khawatir untuk menyodorkan informasi baru ke penonton, keluar dari zona nyaman dengan gagah berani, memberi kejutan demi kejutan pada penonton yang sebagiannya mungkin kecewa dengan KKN di Desa Penari. Pola ini juga terjadi pada film produksi MD Pictures sebelumnya, Layangan Putus.
Badarawuhi di Desa Penari mengulang premis yang sudah ada di puluhan atau ratusan film horor lokal yang diproduksi sebelumnya. Mila (Maudy Effrosina) ditemani oleh tiga orang laki-laki berangkat ke Desa Penari dengan sebuah misi: mengembalikan sebuah gelang yang dipercaya menjadi milik dari penunggu desa tersebut.
Lalu premis membosankan ini pun masih ditambah dengan seolah twist yang sebenarnya sudah tertebak sejak awal: bahwa kelak gelang tersebut diserahkan oleh Mila ke makhluk yang seharusnya tak memilikinya sejak awal.

Foto: MD Pictures
Sepanjang 90 menit durasinya yang terasa berjalan sangat lamban, kita sudah tahu ke mana ceritanya akan bergerak. Saya membayangkan seharusnya skenario memang justru dibuka dari menit ke-90 itu: sebuah desa dilanda bencana besar. Hewan-hewan ternak bergelimpangan di seantero desa, dan mati secara misterius.
Dari sawah hingga ladang jagung mengalami gagal panen karena diserang sesuatu yang misterius, dan cerita atau skenario pun jadi terasa urgensinya. Ini bukan lagi sekadar persoalan personal Mila yang ingin agar ibunya kembali membaik dengan mengembalikan gelang tersebut, ini persoalan besar bagaimana agar desa yang semula tenteram itu kembali ke kondisi semula.
Dengan membuka adegan sedemikian, maka kita sebagai penonton langsung dibawa masuk ke sebuah semesta yang lebih eksploratif dari film pendahulunya. Bahwa segala musibah, segala kejadian aneh yang terjadi di desa itu, berujung pada sosok mitos Badarawuhi.
Dari sinilah Lele Leila bisa memberi pemahaman yang jelas tentang asal muasal sosok ini, bagaimana ia muncul dan apa yang mendorong kemunculannya, apa kaitannya dengan musibah yang menimpa seantero desa, dan seterusnya.
Namunsayangnya memang franchise ini terlalu khawatir untuk menyodorkan informasi baru ke penonton, keluar dari zona nyaman dengan gagah berani, memberi kejutan demi kejutan pada penonton yang sebagiannya mungkin kecewa dengan KKN di Desa Penari. Pola ini juga terjadi pada film produksi MD Pictures sebelumnya, Layangan Putus.
Lihat Juga :