CERMIN: Joko Anwar Membuat Kita (Kembali) Percaya pada Film Horor Lokal
Sabtu, 13 April 2024 - 08:42 WIB
loading...
A
A
A
Siksa Kubur membuka ceritanya dengan sangat menarik dan meletakkan pondasi ceritanya dengan sangat baik sejak awal. Kita melihat Sita dan Adil kecil (diperankan dengan menarik oleh duet Widuri Puteri dan Muzakki Ramdhan) berhadapan dengan sebuah peristiwa yang kelak mengguncang hidup dan apa pun yang mereka yakini sebelumnya.
Peristiwa itu begitu membekas, menggores luka batin teramat dalam terutama bagi Sita. Ia tak lagi percaya pada agama yang mengajarkan kebaikan.
Peristiwa semasa kecil yang terjadi di depan matanya itu memperlihatkan bahwa keyakinan agama seseorang nyatanya membuat kedua orang tua yang disayanginya direnggut hidupnya. Pengalaman traumatis itu membentuk Sita dan Adil (kini dilanjutkan Faradina Mufti dan Reza Rahadian) menjalani hidupnya sekarang.
![CERMIN: Joko Anwar Membuat Kita (Kembali) Percaya pada Film Horor Lokal]()
Foto: Come and See Pictures
Lalu Joko membawa kita memasuki sebuah wilayah abu-abu sekaligus menantang pemikiran dan apa pun yang kita yakini: betulkah siksa kubur itu ada?
Jika memang ada, bisakah ia memberi pelajaran pada seseorang yang menghancurkan hidup kakaknya dan puluhan anak laki-laki lain dengan memangsa mereka yang tak berdaya?
Joko tak sekadar menantang pemikiran kita. Ia juga memprovokasi kita untuk meruntuhkan segala yang kita percayai dengan mudah sebelumnya atas nama iman. Namun sebagai pembuat film dengan integritas yang baik, Joko tahu betul untuk tak mencoba mempermainkan simbol agama mana pun.
Joko juga menahan diri untuk tak berceramah moral yang pedas kepada penonton. Joko menjadi Sita yang mempertanyakan nilai-nilai yang banyak dari kita yakini hingga hari ini.
Siksa Kubur berjalan sangat efektif terutama karena skenario yang dirakit dengan sangat efisien meski memunculkan banyak karakter yang berlalu lalang sepanjang durasi filmnya. Namun karakter demi karakter itu tak sekadar muncul, satu per satu dari mereka punya tujuannya masing-masing.
Dengan pengalamannya menulis skenario filmnya sendiri sejak Janji Joni (2005), Joko paham bagaimana mengalirkan cerita dengan asyik. Ia memberi sentuhan multidimensi bagi karakter-karakternya untuk bertumbuh di depan mata kita dengan segala kesalahan yang dilakukannya.
Juga memberi ruang lebar bagi segenap departemen untuk memberikan sentuhan terbaik. Oleh karena itu kita perlu bertepuk tangan terutama pada departemen suara dan ilustrasi musik yang hadir sejak awal untuk memberi kesan tak nyaman yang bekerja di alam bawah sadar penonton.
Peristiwa itu begitu membekas, menggores luka batin teramat dalam terutama bagi Sita. Ia tak lagi percaya pada agama yang mengajarkan kebaikan.
Peristiwa semasa kecil yang terjadi di depan matanya itu memperlihatkan bahwa keyakinan agama seseorang nyatanya membuat kedua orang tua yang disayanginya direnggut hidupnya. Pengalaman traumatis itu membentuk Sita dan Adil (kini dilanjutkan Faradina Mufti dan Reza Rahadian) menjalani hidupnya sekarang.

Foto: Come and See Pictures
Lalu Joko membawa kita memasuki sebuah wilayah abu-abu sekaligus menantang pemikiran dan apa pun yang kita yakini: betulkah siksa kubur itu ada?
Jika memang ada, bisakah ia memberi pelajaran pada seseorang yang menghancurkan hidup kakaknya dan puluhan anak laki-laki lain dengan memangsa mereka yang tak berdaya?
Joko tak sekadar menantang pemikiran kita. Ia juga memprovokasi kita untuk meruntuhkan segala yang kita percayai dengan mudah sebelumnya atas nama iman. Namun sebagai pembuat film dengan integritas yang baik, Joko tahu betul untuk tak mencoba mempermainkan simbol agama mana pun.
Joko juga menahan diri untuk tak berceramah moral yang pedas kepada penonton. Joko menjadi Sita yang mempertanyakan nilai-nilai yang banyak dari kita yakini hingga hari ini.
Siksa Kubur berjalan sangat efektif terutama karena skenario yang dirakit dengan sangat efisien meski memunculkan banyak karakter yang berlalu lalang sepanjang durasi filmnya. Namun karakter demi karakter itu tak sekadar muncul, satu per satu dari mereka punya tujuannya masing-masing.
Dengan pengalamannya menulis skenario filmnya sendiri sejak Janji Joni (2005), Joko paham bagaimana mengalirkan cerita dengan asyik. Ia memberi sentuhan multidimensi bagi karakter-karakternya untuk bertumbuh di depan mata kita dengan segala kesalahan yang dilakukannya.
Juga memberi ruang lebar bagi segenap departemen untuk memberikan sentuhan terbaik. Oleh karena itu kita perlu bertepuk tangan terutama pada departemen suara dan ilustrasi musik yang hadir sejak awal untuk memberi kesan tak nyaman yang bekerja di alam bawah sadar penonton.
Lihat Juga :