CERMIN: Dalam Hidup Kita Perlu Menang Sekali Saja
Sabtu, 20 April 2024 - 12:48 WIB
loading...
Film China YOLO menggambarkan transformasi perempuan pemalas bermental pecundang menjadi petinju mental pemenang. Foto/Shanghai Taopiaopiao Film and Television
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2014. Jepang mendaftarkan film 100 Yen Love sebagai official entry untuk berkompetisi dengan film-film internasional terbaik dari seluruh dunia dalam ajang Academy Awards.
Dari sini pun kita tahu bahwa 100 Yen Love memang sebuah film yang istimewa. Sekaligus memperlihatkan perkembangan terkini dari sinema Asia saat film semakin berani mengetengahkan protagonis dengan kehidupan menyedihkan, tak punya harapan apa pun, dan dengan sebuah jalan kelak mereka mengubah drastis hidupnya.
Dalam 100 Yen Love, protagonis menyedihkan itu adalah Saito Ichiko, perempuan berusia 32 tahun yang tak punya tujuan apa pun dalam hidupnya, dan masih tinggal bersama orang tuanya. Hingga semesta memberinya kejutan dengan memperkenalkannya pada olahraga tinju yang akan mengubah drastis hidupnya setelahnya.
Baca Juga: CERMIN: Dua Hati Biru, Belajar soal Pengasuhan Anak lewat Film
Dengan premis sedemikian menarik rasanya memang sulit untuk tak mengindahkan 100 Yen Love. Terlebih di tangan sutradara Take Masahiru.
Meski berjalan dengan tempo lambat (yang mungkin memang dibutuhkan oleh ceritanya), perlahan kita melihat bagaimana sinema juga bisa mencerahkan. Sebagaimana Saito, sebagian dari kita pun ingin melakukan perubahan dalam hidup kita, tapi bisa jadi terlalu takut untuk melakukannya.
![CERMIN: Dalam Hidup Kita Perlu Menang Sekali Saja]()
Foto: Shanghai Taopiaopiao Film and Television
Beberapa tahun setelahnya, sutradara perempuan sekaligus aktris China, Ling Jia, terkesan betul dengan cerita 100 Yen Love dan memutuskan untuk membuat ulang film tersebut. Tak sekadar membuat ulang, Ling Jia berupaya melakukan perbaikan sana-sini di departemen skenario dan terutama mendorong penceritaan ke titik yang lebih maksimal.
Sebagaimana kita yang jatuh hati pada perjuangan dan determinasi Ichiko, Ling Jia memutuskan untuk memainkan sendiri peran tersebut. Kini Ichiko berubah menjadi Le Ying, perempuan superpemalas yang hanya menjadi benalu dalam hidup kedua orang tuanya.
Semuanya berubah ketika pertengkaran terjadi antara Le Ying dan adiknya yang membuatnya memutuskan hengkang dari rumah.
Dari sini pun kita tahu bahwa 100 Yen Love memang sebuah film yang istimewa. Sekaligus memperlihatkan perkembangan terkini dari sinema Asia saat film semakin berani mengetengahkan protagonis dengan kehidupan menyedihkan, tak punya harapan apa pun, dan dengan sebuah jalan kelak mereka mengubah drastis hidupnya.
Dalam 100 Yen Love, protagonis menyedihkan itu adalah Saito Ichiko, perempuan berusia 32 tahun yang tak punya tujuan apa pun dalam hidupnya, dan masih tinggal bersama orang tuanya. Hingga semesta memberinya kejutan dengan memperkenalkannya pada olahraga tinju yang akan mengubah drastis hidupnya setelahnya.
Baca Juga: CERMIN: Dua Hati Biru, Belajar soal Pengasuhan Anak lewat Film
Dengan premis sedemikian menarik rasanya memang sulit untuk tak mengindahkan 100 Yen Love. Terlebih di tangan sutradara Take Masahiru.
Meski berjalan dengan tempo lambat (yang mungkin memang dibutuhkan oleh ceritanya), perlahan kita melihat bagaimana sinema juga bisa mencerahkan. Sebagaimana Saito, sebagian dari kita pun ingin melakukan perubahan dalam hidup kita, tapi bisa jadi terlalu takut untuk melakukannya.

Foto: Shanghai Taopiaopiao Film and Television
Beberapa tahun setelahnya, sutradara perempuan sekaligus aktris China, Ling Jia, terkesan betul dengan cerita 100 Yen Love dan memutuskan untuk membuat ulang film tersebut. Tak sekadar membuat ulang, Ling Jia berupaya melakukan perbaikan sana-sini di departemen skenario dan terutama mendorong penceritaan ke titik yang lebih maksimal.
Sebagaimana kita yang jatuh hati pada perjuangan dan determinasi Ichiko, Ling Jia memutuskan untuk memainkan sendiri peran tersebut. Kini Ichiko berubah menjadi Le Ying, perempuan superpemalas yang hanya menjadi benalu dalam hidup kedua orang tuanya.
Semuanya berubah ketika pertengkaran terjadi antara Le Ying dan adiknya yang membuatnya memutuskan hengkang dari rumah.
Lihat Juga :