Lawan Propaganda Ektrimis tentang Pekerja Migran melalui Film Dokumenter
Sabtu, 20 April 2024 - 22:22 WIB
loading...
Ruang Migran (RUMI) merilis film dokumenter berjudul Pilihan untuk melawan narasi dan propaganda ekstrimis tentang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terus berkembang melalui komunikasi digital. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ruang Migran (RUMI) merilis film dokumenter berjudul Pilihan untuk melawan narasi dan propaganda ekstrimis tentang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terus berkembang melalui komunikasi digital.
Peraih Piala Citra 2011 yang juga pernah menjadi pekerja migran, Ani Ema Susanti, menjadi sutradara film Pilihan yang mengangkat kisah PMI yang saling bertolak belakang. Mereka adalah Listyowati dan Masyitoh, dua pekerja migran di Singapura.
Pendiri Ruang Migran (RUMI) Noor Huda Ismail mengatakan, pembuatan film Pilihan memang ditujukan kepada PMI. Film ini akan diputar oleh kementerian/lembaga terkait, seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), untuk disaksikan oleh PMI sebelum diberi pelatihan yang dibutuhkan.
Pihaknya sengaja fokus untuk menceritakan masalah media sosial dan bagaimana para pekerja migran menggunakannya secara bijak. Oleh sebab itu, PMI yang terjebak radikalisme turut dilibatkan dalam pembuatan film.
"Pendekatan kita adalah bagaimana mantan teroris bisa bercerita dan dikemas dengan baik. Rata-rata kampanye negara kan menunjukkan negara sudah melakukan ini, dan kita tahu bahwa kita tidak tertarik pada hal itu. Kita tertarik kepada cerita, proses, dan apa langkah selanjutnya," kata Huda.
Peraih Piala Citra 2011 yang juga pernah menjadi pekerja migran, Ani Ema Susanti, menjadi sutradara film Pilihan yang mengangkat kisah PMI yang saling bertolak belakang. Mereka adalah Listyowati dan Masyitoh, dua pekerja migran di Singapura.
Pendiri Ruang Migran (RUMI) Noor Huda Ismail mengatakan, pembuatan film Pilihan memang ditujukan kepada PMI. Film ini akan diputar oleh kementerian/lembaga terkait, seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), untuk disaksikan oleh PMI sebelum diberi pelatihan yang dibutuhkan.
Pihaknya sengaja fokus untuk menceritakan masalah media sosial dan bagaimana para pekerja migran menggunakannya secara bijak. Oleh sebab itu, PMI yang terjebak radikalisme turut dilibatkan dalam pembuatan film.
"Pendekatan kita adalah bagaimana mantan teroris bisa bercerita dan dikemas dengan baik. Rata-rata kampanye negara kan menunjukkan negara sudah melakukan ini, dan kita tahu bahwa kita tidak tertarik pada hal itu. Kita tertarik kepada cerita, proses, dan apa langkah selanjutnya," kata Huda.
Lihat Juga :