alexametrics

Mengenal Masalah Makan Anak dan Bagaimana Solusinya

loading...
Mengenal Masalah Makan Anak dan Bagaimana Solusinya
Mengenal Masalah Makan Anak dan Bagaimana Solusinya
A+ A-
ISU malnutrisi anak, baik pada dua tahun pertama kehidupan atau seterusnya, masih menjadi tantangan bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Terlebih, tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan sulitnya memberi makan anak. Padahal, pola dan jenis makanan yang dikonsumsi anak menjadi faktor penting untuk pemenuhan nutrisi dan kesehatannya. Sebanyak 50%- 60% orang tua mengeluhkan adanya masalah makan pada anak.

Studi di Chicago melaporkan bahwa masalah perilaku makan yang paling sering dijumpai pada batita adalah tidak selalu lapar saat jam makan (52%), mencoba mengakhiri makan setelah beberapa suapan (42%), picky eating (35%), dan kuatnya preferensi makanan tertentu (33%). Sedangkan, masalah makan berdampak buruk terhadap kesehatan anak, seperti gangguan pertumbuhan, rentan terhadap infeksi, bahkan kematian.



“Tumbuh kembang anak sejak lahir sampai usia 2 tahun sangat pesat. Anak memerlukan pemberian makanan yang mengandung zat gizi mikro (protein, lemak, karbohidrat) dan makro (vitamin dan mineral) untuk mencapai tumbuh kembang optimal,” ujar dr Nur Aisiyah Widjaja SpA(K), dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan metabolik, dalam acara Bicara Gizi yang digelar Nutricia Advanced Medical Nutrition.

Dr Nur melanjutkan, tidak hanya jenis makanan, banyak yang belum paham bahwa pola pemberian dan perilaku makan juga berperan penting dalam menentukan masa depan anak. Selain jenis makanan yang salah, perilaku makan juga tidak kalah penting.

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa masalah makan dapat diklasifikasikan menjadi inappropriate feeding practice, small eaters, dan parental misperception. Inappropriate feeding practice adalah masalah makan yang disebabkan perilaku makan yang salah atau pemberian makanan yang tidak sesuai usia. Small eaters adalah terminologi yang dipakai untuk anak dengan keluhan makan sedikit, status gizi kurang, dan feeding rules benar.

Sedangkan, food preference merupakan terminologi yang dipakai untuk mencakup keluhan pilih-pilih makan atau penolakan terhadap makanan tertentu. Dr Nur Aisyah menyampaikan, ketiga masalah tersebut sering disepelekan dan perlu mendapatkan intervensi karena dapat memengaruhi asupan nutrisi dan kondisi kesehatan anak.

“Jika terjadi secara berkelanjutan, terlebih pada usia optimal hingga 2 tahun, anak terancam menderita malnutrisi yang berujung pada stunting,” bebernya. Terdapat tiga aspek tata laksana untuk mengatasi masalah makan, yaitu identifikasi faktor penyebab, evaluasi faktor dan dampak nutrisi, serta upaya perbaikan.

Pada inappropriate feeding practice, orang tua perlu memperhatikan jadwal, lingkungan, dan prosedur pemberian makan. Sedangkan, pada kasus small eater diperlukan penerapan aplikasi food rules yang benar serta melakukan boosting kalori melalui makanan padat yang difortifikasi serta susu densitas kalori tinggi 0,9-1,2 kkal/ml atau densitas kalori 1,5 kkal/ml.

Melalui Bicara Gizi, Nutricia Advanced Medical Nutrition mengajak orang tua mengenali jenis masalah perilaku makan pada batita, penyebab, dan penanggulangannya.

Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, mengatakan, pihaknya berharap kegiatan Bicara Gizi, khususnya mengenai masalah perilaku makan pada anak, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong penanganan nutrisi yang tepat bagi anak demi tumbuh dan kembang optimal dan masa depan yang cerah.
(don)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak