CERMIN: Malam Pencabut Nyawa, Film Horor yang Lebih Berhasil sebagai Drama
Jum'at, 24 Mei 2024 - 09:44 WIB
loading...
A
A
A
Kebetulan demi kebetulan kembali tak terhindarkan dalam film horor yang sesungguhnya tak perlu terjadi jika tim produksi memberi waktu lebih untuk melihat kembali cerita secara keseluruhan, mencermati segala kelemahan, dan memperbaikinya sebelum skenario dinyatakan final draft dan siap syuting.
Namun'keajaiban' terjadi pada Malam Pencabut Nyawa sebagaimana halnya yang dialami Mirror. Ia lebih berhasil sebagai drama. Respati dengan segala trauma yang terus menghantuinya menjadi pintu masuk yang asyik untuk membongkar dinamika relasi dalam sebuah keluarga.
Ditinggal kedua orang tua dan dibesarkan kakeknya seorang diri, Respati merasa sendirian. Ia merasa kakeknya tak pernah bisa mengerti dirinya. Ada jurang menganga bernama komunikasi yang macet di antara mereka.
![CERMIN: Malam Pencabut Nyawa, Film Horor yang Lebih Berhasil sebagai Drama]()
Foto: BASE Entertainment
Sayangnya memang skenario terlalu sibuk membuat jumpscare hingga sightings yang lebih banyak gagal dibanding sukses. Padahal sisi dramatik ini jika digarap lebih ketat akan bisa tampil semenarik Mirror.
Mirror mengukuhkan keberadaan Nirina sebagai aktris brilian, dan Malam Pencabut Nyawa terasa seperti melahirkan kembali Devano Danendra sebagai seorang aktor. Devano yang biasanya diserahi peran remeh temeh dalam film hingga serial, kali ini kejatuhan beban sebagai remaja problematik dengan sisi-sisi menarik pada dirinya untuk diulik lebih tajam.
Sebagai Respati, Devano meniupkan ruh ke dalam dirinya sehingga menjelma sebagai seorang pemuda yang sering kali tak memahami yang sesungguhnya terjadi pada dirinya. Berkat olah tubuh hingga penghayatannya, kita bisa merasakan betapa tak enaknya menjadi Respati dengan segala beban dan trauma yang terus membuntutinya ke mana pun, bahkan hingga ke alam mimpi.
Malam Pencabut Nyawa juga mungkin akan lebih menarik jika skenarionya tak melulu berkutat pada unsur klenik dan berani membentur-benturkan soal alam mimpi dengan sains. Tentu saja pendekatan ini akan menjadi sesuatu yang segar dan menarik, dan kita pun bisa terhindar dari bombardir film horor lokal yang semakin lama terasa semakin menjemukan.
Ini karena premis ceritanya sangat mungkin untuk diutak-atik dan didorong ke arah tak terbayangkan, alih-alih sekadar mengulang-ulang hal-hal yang sudah puluhan atau ratusan kali dibahas dalam film horor lokal.
Namun'keajaiban' terjadi pada Malam Pencabut Nyawa sebagaimana halnya yang dialami Mirror. Ia lebih berhasil sebagai drama. Respati dengan segala trauma yang terus menghantuinya menjadi pintu masuk yang asyik untuk membongkar dinamika relasi dalam sebuah keluarga.
Ditinggal kedua orang tua dan dibesarkan kakeknya seorang diri, Respati merasa sendirian. Ia merasa kakeknya tak pernah bisa mengerti dirinya. Ada jurang menganga bernama komunikasi yang macet di antara mereka.

Foto: BASE Entertainment
Sayangnya memang skenario terlalu sibuk membuat jumpscare hingga sightings yang lebih banyak gagal dibanding sukses. Padahal sisi dramatik ini jika digarap lebih ketat akan bisa tampil semenarik Mirror.
Mirror mengukuhkan keberadaan Nirina sebagai aktris brilian, dan Malam Pencabut Nyawa terasa seperti melahirkan kembali Devano Danendra sebagai seorang aktor. Devano yang biasanya diserahi peran remeh temeh dalam film hingga serial, kali ini kejatuhan beban sebagai remaja problematik dengan sisi-sisi menarik pada dirinya untuk diulik lebih tajam.
Sebagai Respati, Devano meniupkan ruh ke dalam dirinya sehingga menjelma sebagai seorang pemuda yang sering kali tak memahami yang sesungguhnya terjadi pada dirinya. Berkat olah tubuh hingga penghayatannya, kita bisa merasakan betapa tak enaknya menjadi Respati dengan segala beban dan trauma yang terus membuntutinya ke mana pun, bahkan hingga ke alam mimpi.
Malam Pencabut Nyawa juga mungkin akan lebih menarik jika skenarionya tak melulu berkutat pada unsur klenik dan berani membentur-benturkan soal alam mimpi dengan sains. Tentu saja pendekatan ini akan menjadi sesuatu yang segar dan menarik, dan kita pun bisa terhindar dari bombardir film horor lokal yang semakin lama terasa semakin menjemukan.
Ini karena premis ceritanya sangat mungkin untuk diutak-atik dan didorong ke arah tak terbayangkan, alih-alih sekadar mengulang-ulang hal-hal yang sudah puluhan atau ratusan kali dibahas dalam film horor lokal.
Lihat Juga :