CERMIN: George Miller adalah Seorang Feminis
Sabtu, 25 Mei 2024 - 09:54 WIB
loading...
A
A
A
Karena saya adalah laki-laki dan dalam cerita-cerita sejenis berfungsi sebagai pelaku, maka saya perlu berhati-hati menempatkan diri saya. Oleh karena itu saya memberi ruang pada diri sendiri untuk mendengarkan yang pernah dialami perempuan seperti Asya, apa yang mereka harus lalui setelah tragedi mengenaskan itu, dan bagaimana mereka lantas terus mencoba berdamai dengan situasi setelahnya.
Butuh waktu hingga sembilan tahun bagi George untuk menempa kembali sudut pandangnya sebagai seorang feminis untuk melanjutkan kisah Furiosa. Tapi karena kini George sudah paham betul di posisi mana ia berada, maka tak sulit bagi kita melihat betapa besar empati George pada karakter fiktif ini.
Betapa sudut pandangnya sebagai seorang feminis justru membuat karakternya tak sekadar tangguh, tapi ia juga menjelma sebagai seorang pejuang sekaligus seorang penyintas.
![CERMIN: George Miller adalah Seorang Feminis]()
Foto: Warner Bros. Pictures
Dalam Furiosa: a Mad Max Saga, kita bertemu Furiosa pada masa mudanya. Dalam sebuah adegan pembuka yang mengesankan dan bergerak sangat cepat, kita melihat awal mula Furiosa terjebak dalam sebuah dunia yang sangat berbeda dari dunia yang dikenalnya.
Dunia Furiosa sebelumnya adalah dunia yang hijau, dunia yang tenteram dan damai. Tiba-tiba dengan begitu saja ia tersedot ke dalam dunia keras-kasar dan tanpa aturan yang membuatnya seketika beradaptasi superkilat.
Furiosa tak pernah diperlihatkan sebagai korban yang meratapi nasib buruk yang menimpanya. Oleh George dengan sudut pandangnya sebagai seorang feminis, Furiosa diperlihatkan menempuh perjalanan panjang bertahun-tahun untuk bisa bertahan dalam dunia asing tersebut.
Preferensi gender karenanya menjadi kabur dan menjadi tak begitu penting baginya. Furiosa hanya mengetahui satu hal: bertahan hidup demi bisa membalaskan dendam atas kematian tragis ibunya.
Dengan plot setipis ini, George paham bagaimana menggerakkan ceritanya. Ia menggerakkannya dengan maksimal, meniupkan ruh ke dalam karakter-karakter di dalamnya dengan menarik, menggunakan segala elemen aksi yang dimilikinya untuk menghasilkan pertunjukan menggelegar tanpa henti.
Butuh waktu hingga sembilan tahun bagi George untuk menempa kembali sudut pandangnya sebagai seorang feminis untuk melanjutkan kisah Furiosa. Tapi karena kini George sudah paham betul di posisi mana ia berada, maka tak sulit bagi kita melihat betapa besar empati George pada karakter fiktif ini.
Betapa sudut pandangnya sebagai seorang feminis justru membuat karakternya tak sekadar tangguh, tapi ia juga menjelma sebagai seorang pejuang sekaligus seorang penyintas.

Foto: Warner Bros. Pictures
Dalam Furiosa: a Mad Max Saga, kita bertemu Furiosa pada masa mudanya. Dalam sebuah adegan pembuka yang mengesankan dan bergerak sangat cepat, kita melihat awal mula Furiosa terjebak dalam sebuah dunia yang sangat berbeda dari dunia yang dikenalnya.
Dunia Furiosa sebelumnya adalah dunia yang hijau, dunia yang tenteram dan damai. Tiba-tiba dengan begitu saja ia tersedot ke dalam dunia keras-kasar dan tanpa aturan yang membuatnya seketika beradaptasi superkilat.
Furiosa tak pernah diperlihatkan sebagai korban yang meratapi nasib buruk yang menimpanya. Oleh George dengan sudut pandangnya sebagai seorang feminis, Furiosa diperlihatkan menempuh perjalanan panjang bertahun-tahun untuk bisa bertahan dalam dunia asing tersebut.
Preferensi gender karenanya menjadi kabur dan menjadi tak begitu penting baginya. Furiosa hanya mengetahui satu hal: bertahan hidup demi bisa membalaskan dendam atas kematian tragis ibunya.
Dengan plot setipis ini, George paham bagaimana menggerakkan ceritanya. Ia menggerakkannya dengan maksimal, meniupkan ruh ke dalam karakter-karakter di dalamnya dengan menarik, menggunakan segala elemen aksi yang dimilikinya untuk menghasilkan pertunjukan menggelegar tanpa henti.
Lihat Juga :