5 Negara di Asia Ini Alami Resesi Seks Gegara Warganya Ogah Punya Anak
Kamis, 27 Juni 2024 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 5 Alasan Wanita yang Lebih Cerdas Sulit Menemukan Pasangan
Selain itu, Thailand juga memiliki tingkat kesuburan yang tergolong rendah, yakni berada di 1,08 kelahiran sepanjang 2023. Jika kondisi tersebut tak segera diatasi, maka populasi di Negeri Gajah Putih bisa berkurang setengahnya dalam kurun waktu 60 tahun ke depan.
Pada 2022 hingga 2023, populasi di China dilaporkan menyusut. Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat, hanya ada 6,39 kelahiran per 1.000 orang pada tahun lalu. Jumlah tersebut menurun, di mana ada sebanyak 9,02 juta bayi lahir dari 1.000 orang pada 2022.
Profesor Mu Zheng dari departemen sosiologi dan antropologi Universitas Nasional Singapura pernah mengatakan pada tahun lalu, resesi seks di China disebabkan oleh semakin banyaknya wanita yang memilih fokus pada karier dan tujuan pribadi mereka daripada memulai sebuah keluarga. Hal itu diperburuk dengan kondisi pandemi pada 2020 hingga 2022 lalu.
"Covid terus memiliki banyak dampak negatif dan telah menyebabkan rasa ketidakpastian secara keseluruhan terhadap masa depan. Ada rasa tidak berdaya yang melarang banyak wanita ingin punya anak," katanya.
4. Thailand
Thailand menjadi negara Asia Tenggara kedua yang mengalami resesi seks. Survei National Institute of Development Administration (NIDA) Thailand pada September 2023 menunjukkan, 44 persen responden mengaku kurang berminat memiliki anak. Alasan utamanya karena biaya pengasuhan anak yang semakin tinggi dan ketidakinginan terbebani dengan kewajiban mengasuh anak.Selain itu, Thailand juga memiliki tingkat kesuburan yang tergolong rendah, yakni berada di 1,08 kelahiran sepanjang 2023. Jika kondisi tersebut tak segera diatasi, maka populasi di Negeri Gajah Putih bisa berkurang setengahnya dalam kurun waktu 60 tahun ke depan.
5. China
Pernah menjadi negara dengan populasi terbanyak di dunia, China rupanya saat ini juga tengah mengalami resesi seks.Pada 2022 hingga 2023, populasi di China dilaporkan menyusut. Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat, hanya ada 6,39 kelahiran per 1.000 orang pada tahun lalu. Jumlah tersebut menurun, di mana ada sebanyak 9,02 juta bayi lahir dari 1.000 orang pada 2022.
Profesor Mu Zheng dari departemen sosiologi dan antropologi Universitas Nasional Singapura pernah mengatakan pada tahun lalu, resesi seks di China disebabkan oleh semakin banyaknya wanita yang memilih fokus pada karier dan tujuan pribadi mereka daripada memulai sebuah keluarga. Hal itu diperburuk dengan kondisi pandemi pada 2020 hingga 2022 lalu.
"Covid terus memiliki banyak dampak negatif dan telah menyebabkan rasa ketidakpastian secara keseluruhan terhadap masa depan. Ada rasa tidak berdaya yang melarang banyak wanita ingin punya anak," katanya.
(tsa)
Lihat Juga :