Nutrisi Esok Hari Inisiasi Layanan Pendampingan untuk Hadirkan Menu Ramah Iklim

Sabtu, 06 Juli 2024 - 17:55 WIB
loading...
Nutrisi Esok Hari Inisiasi...
Nutrisi Esok Hari menawarkan alternatif bagi lembaga publik dalam mengurangi jejak karbon mereka dengan menyajikan makanan berbasis nabati. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Perubahan iklim menimbulkan tantangan besar terhadap ketahanan pangan, khususnya di negara-negara rentan seperti Indonesia. Meningkatnya suhu, cuaca ekstrem, dan perubahan pola curah hujan akan mengancam dan memperburuk berbagai dampak tersebut.

Dalam menghadapi tantangan ini, program seperti Nutrisi Esok Hari menawarkan alternatif bagi lembaga publik dalam mengurangi jejak karbon mereka.

“Mengatasi perubahan iklim memerlukan implementasi pola makan yang ramah iklim dan transformasi sistem pangan. Inisiatif kami menawarkan penerapan menu berbasis nabati berkelanjutan di institusi publik seperti sekolah, universitas, dan komunitas, dengan pendampingan ahli gizi profesional. Semua layanan inil gratis, tanpa biaya,” kata Yohana Sadeli, Pengelola program Nutrisi Esok Hari, inisiatif kolaboratif Animal Friends Jogja dan NGO Internasional Sinergia Animal.

Sejak didirikan pada 2021, Nutrisi Esok Hari telah memiliki 15 komitmen dengan berbagai institusi di Indonesia. Melalui inisiatif ini, pemilik bisnis makanan, institusi nirlaba menerima dukungan dan panduan gratis untuk mengganti produk berbasis hewani dengan alternatif nabati, yang dapat meningkatkan kesehatan dan menurunkan dampak lingkungan.

Saat ini, Nutrisi Esok Hari berpotensi mengubah 300.000 makanan yang disajikan menjadi 100% berbasis nabati setiap tahun. Menurut program tersebut, selain manfaat lingkungan dan kesehatan, perubahan menu juga membantu mempertahankan atau bahkan mengurangi biaya yang dikeluarkan.

“Mulai tahun ini, Nutrisi Esok Hari juga memperluas programnya untuk Posyandu dan usaha katering yang bertujuan menyajikan makanan lezat kaya akan protein dengan memanfaatkan protein nabati lokal untuk komunitasnya,” ujar Yohana.

Beberapa contoh dari penerima program ini adalah Dreama Kitchen dan Rella’s Kitchen. Keduanya merupakan usaha katering dan Kader Posyandu di Jepitu dan Kemadang, dua kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Sementara itu, PBB telah menerbitkan kajian mengenai perubahan iklim pada awal 2024. Ketahanan pangan menjadi perhatian utama, akibat cuaca ekstrem dan bencana iklim yang dapat mempengaruhi siklus tanaman dan pertanian di negara-negara Asia, naiknya harga dan meningkatnya kelaparan.

“Kita bergantung pada sistem pangan yang tidak memadai dan terlalu bergantung pada protein hewani, penghasil emisi utama CO2 dan gas rumah kaca dalam produksi pangan. Peternakan dan penangkapan ikan bertanggung jawab pada 61% emisi yang berasal dari sektor agrikultur, tanpa mempertimbangkan rantai pasokan lainnya, namun hanya menyediakan 37% protein dan 18% kalori untuk dikonsumsi di seluruh dunia," jelas Yohana.

Menurut laporan Komisi EAT-Lancet, sistem pangan yang selaras dengan tujuan lingkungan dan gizi terdiri dari lebih dari 90% makanan berbasis nabati.

"Kami menginisiasi salah satu diskusi penting untuk isu krisis iklim, peningkatan kesadaran mengenai dampak pilihan pangan serta memfasilitasi perubahan yang kita perlukan di lembaga nasional kita. Kami mendorong institusi dan pemerintah daerah di Indonesia untuk ikut serta dalam upaya ini, mengambil inspirasi dari Kota Cali dan Chaparral, keduanya di Kolombia, yang sudah menjalankan program kami di sana," pungkas Yohana.
(tsa)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Susu Kedelai vs Susu...
Susu Kedelai vs Susu Almond, Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh?
5 Sumber Protein Nabati...
5 Sumber Protein Nabati Terbaik untuk Vegetarian, Lezat dan Bergizi Tinggi
7 Makanan Kaya Protein...
7 Makanan Kaya Protein yang Harus Dihindari, Salah Satunya Memicu Kanker
Protein Hewani vs Nabati,...
Protein Hewani vs Nabati, Mana yang Lebih Baik?
Protein Nabati Bikin...
Protein Nabati Bikin Wanita Terhindar Penyakit Kronis saat Lansia
Protein Nabati Bikin...
Protein Nabati Bikin Proses Penuaan Wanita Lebih Sehat, dari Sayuran hingga Kacang-kacangan
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
Rekomendasi
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Berita Terkini
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
MSIN Paparkan Strategi...
MSIN Paparkan Strategi Streaming Global di APOS 2026, V+Short Tembus 5 Juta Unduhan
Miss Indonesia Audrey...
Miss Indonesia Audrey Bianca Ungkap Perjuangan Perdana Jalankan Proyek BWAP di Luar Jawa
Road to Kilau Raya Mojokerto...
Road to Kilau Raya Mojokerto : MNCTV Hadir Meriahkan Hari Jadi Kota Mojokerto ke-108
MNC Licensing Ajak Keluarga...
MNC Licensing Ajak Keluarga Merayakan Liburan Sekolah Bersama Shaun the Sheep Holiday in My Hometown di Pakuwon Mall Solo
Garap Proyek Listrik...
Garap Proyek Listrik di Sumba, Liliana Tanoesoedibjo Optimistis Indonesia Bersinar di Miss World 2026
Infografis
Jepang Uji Coba 4 Hari...
Jepang Uji Coba 4 Hari Kerja untuk Ubah Stigma Negara Pekerja Keras
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved