Dokter Tirta Ungkap Sisi Gelap di Lingkungan Profesinya: Sengsara
Rabu, 21 Agustus 2024 - 22:56 WIB
loading...
A
A
A
“Uang duduk aja (saat itu) masih 100-150 ribu sehari. Uang duduk itu di dalam dokter ada yang jaga. Kalau kita jaga duduk doang itu sehari segitu,” katanya.
Namun, di sisi lain, masyarakat dan sejumlah pihak justru berdalih bahwa profesi dokter adalah sebuah pengabdian yang semestinya mereka lakukan dengan ikhlas.
“Lebih ke waktu yang harus dikorbankan, ternyata mendapatkan ganjaran uang segitu. Ketika kita komplain soal uang, masyarakat bilang, kan ini pengabdian. Tapi kan aku butuh duit untuk makan,” ungkap Dokter Tirta.
Mengetahui anggapan masyarakat yang salah tentang profesi dokter itu membuatnya miris sekaligus kesal. Pasalnya, Dokter Tirta menilai, dokter juga manusia yang butuh makan dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
“Itu tuh hatiku yang kayak, waduh. Kita kan butuh uang buat makan ya. Kita tuh profesi kan ya. Tapi ketika kita komplain soal uang, selalu ada defence, ya kamu kan pengabdian, kalau nggak siap kenapa jadi dokter,” bebernya.
Dokter Tirta lantas menyimpulkan bahwa profesi guru dan dokter di Indonesia memang kerap dianggap harus dibayar murah. Padahal, menurutnya, yang menentukan harga layanan kesehatan murah atau mahal adalah kebijakan rumah sakit, bukan dokter.
“Bagi mereka, dipikir-pikir guru dan dokter harus dibayar murah. Yang nentuin mahal apa nggak tuh rumah sakit. Aku nggak peduli di situ,” tutupnya.
Namun, di sisi lain, masyarakat dan sejumlah pihak justru berdalih bahwa profesi dokter adalah sebuah pengabdian yang semestinya mereka lakukan dengan ikhlas.
“Lebih ke waktu yang harus dikorbankan, ternyata mendapatkan ganjaran uang segitu. Ketika kita komplain soal uang, masyarakat bilang, kan ini pengabdian. Tapi kan aku butuh duit untuk makan,” ungkap Dokter Tirta.
Mengetahui anggapan masyarakat yang salah tentang profesi dokter itu membuatnya miris sekaligus kesal. Pasalnya, Dokter Tirta menilai, dokter juga manusia yang butuh makan dan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
“Itu tuh hatiku yang kayak, waduh. Kita kan butuh uang buat makan ya. Kita tuh profesi kan ya. Tapi ketika kita komplain soal uang, selalu ada defence, ya kamu kan pengabdian, kalau nggak siap kenapa jadi dokter,” bebernya.
Dokter Tirta lantas menyimpulkan bahwa profesi guru dan dokter di Indonesia memang kerap dianggap harus dibayar murah. Padahal, menurutnya, yang menentukan harga layanan kesehatan murah atau mahal adalah kebijakan rumah sakit, bukan dokter.
“Bagi mereka, dipikir-pikir guru dan dokter harus dibayar murah. Yang nentuin mahal apa nggak tuh rumah sakit. Aku nggak peduli di situ,” tutupnya.
(tsa)
Lihat Juga :