Arakan Karnaval Authentic Purbalingga Ki Arsantaka
Minggu, 01 September 2024 - 17:50 WIB
loading...
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 bernuansa berbeda dalam sebuah penampilan arakan Karnaval Kecamatan Kaligondang Purbalingga Jawa Tengah. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 bernuansa berbeda dalam sebuah penampilan arakan Karnaval Kecamatan Kaligondang Purbalingga Jawa Tengah pada tanggal 31 Agustus 2024 lalu. Menjadi Arakan yang terpanjang dari seluruh peserta grup di hari itu dengan jumlah pasukan sekitar 200-an orang yang terdiri dari perwakilan 18 Desa yang ada di Kecamatan Kaligondang Purbalingga.
Bukan tanpa sebab arakan terpanjang ini memiliki dasar yang kuat, karena arakan panjang ini merupakan sebuah reka ulang peristiwa sejarah Pejuang Lokal Purbalingga dengan nuansa peperangan antara pasukan Mangkubumi dan pasukan Paku Buwono II dalam perang Jenar.
Gagasan ini dipaparkan oleh Slamet Santosa sebagai pegiat Seni Kie Art yang disambut hangat oleh Bapak Camat Sugeng Riyadi, SH yang sangat mengapresiasi dan mensupport perkembangan seni dan budaya khususnya di Kecamatan Kaligondang. Pemuda Kie Seni dipercayakan oleh Bapak Camat sebagai perwakilan Kecamatan Kaligondang untuk menampilkan gagasan tersebut dalam sebuah arakan karnaval yang dibalut dengan pertunjukkan seni.
Pengenalan kembali sejarah masa lalu ini bertujuan untuk dapat memperkenalkan kembali kepada generasi muda dan mengapresiasi leluhur kita. Atraksi yang dilakukan oleh Pemuda Kie Seni yang menggambarkan Reka Ulang dari Peperangan Jenar ini memiliki tujuan besar, yaitu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, terpecah belah dalam sebuah perang saudara, untuk tidak mudah di adu domba dan selalu waspada terhadap penjajah yang kini hadir dalam berbagai bentuk di jaman yang serba modern ini terlebih penjajahan saat ini dapat datang dari bangsa sendiri, papar apt. Gita Yohanna Thomdean, S Farm selaku art director dan pegiat Kie Art bersama suaminya Slamet Santosa.
Baca Juga: Deretan Bangsawan yang Akan Gantikan Posisi Pangeran Harry dan Meghan Markle di Keluarga Kerajaan
Gita Yohanna Pegiat Kie Art juga memaparkan bahwa pihaknya ingin arakan karnaval ini tidak menjadi tontonan semata di hari Kemerdekaan saja tetapi juga dapat menggerakkan masyarakat untuk kembali menghargai sejarah masa lalu , oleh karenanya tampak 2 pemudi desa berkebaya Jawa yang membawa ratusan gulungan surat yang dibagikan ke masyarakat di sekitar arakan. Surat bercerita akan Sejarah Ki Arsantaka sang penggagas Kadipaten Purbalingga di masa lalu dan mengingatkan bahwa tinggi rendahnya derajat suatu bangsa terletak pada budaya bangsanya.
Dalam atraksi peperangan di panggung Penghormatan Bupati, keauthentikan dari seni budaya jawa pun di tampilkan dengan adanya sulukan (kidung jawa) oleh sesepuh desa Admin Budiarjo di mana sulukan tersebut bercerita tentang gagah beraninya Ki Arsantaka dengan sikap kepemimpinan yang bijaksana dan menjadi tauladan rakyatnya. Selain itu Slamet Santosa selaku art director juga mengemukakan bahwa beberapa iringan gending perang merupakan hasil karya sendiri dari Pemuda Kie Seni dimana pemain karawitannya juga sangat bervariasai mulai dari anak SD, remaja dan juga pemuda.
Bukan tanpa sebab arakan terpanjang ini memiliki dasar yang kuat, karena arakan panjang ini merupakan sebuah reka ulang peristiwa sejarah Pejuang Lokal Purbalingga dengan nuansa peperangan antara pasukan Mangkubumi dan pasukan Paku Buwono II dalam perang Jenar.
Gagasan ini dipaparkan oleh Slamet Santosa sebagai pegiat Seni Kie Art yang disambut hangat oleh Bapak Camat Sugeng Riyadi, SH yang sangat mengapresiasi dan mensupport perkembangan seni dan budaya khususnya di Kecamatan Kaligondang. Pemuda Kie Seni dipercayakan oleh Bapak Camat sebagai perwakilan Kecamatan Kaligondang untuk menampilkan gagasan tersebut dalam sebuah arakan karnaval yang dibalut dengan pertunjukkan seni.
Pengenalan kembali sejarah masa lalu ini bertujuan untuk dapat memperkenalkan kembali kepada generasi muda dan mengapresiasi leluhur kita. Atraksi yang dilakukan oleh Pemuda Kie Seni yang menggambarkan Reka Ulang dari Peperangan Jenar ini memiliki tujuan besar, yaitu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, terpecah belah dalam sebuah perang saudara, untuk tidak mudah di adu domba dan selalu waspada terhadap penjajah yang kini hadir dalam berbagai bentuk di jaman yang serba modern ini terlebih penjajahan saat ini dapat datang dari bangsa sendiri, papar apt. Gita Yohanna Thomdean, S Farm selaku art director dan pegiat Kie Art bersama suaminya Slamet Santosa.
Baca Juga: Deretan Bangsawan yang Akan Gantikan Posisi Pangeran Harry dan Meghan Markle di Keluarga Kerajaan
Gita Yohanna Pegiat Kie Art juga memaparkan bahwa pihaknya ingin arakan karnaval ini tidak menjadi tontonan semata di hari Kemerdekaan saja tetapi juga dapat menggerakkan masyarakat untuk kembali menghargai sejarah masa lalu , oleh karenanya tampak 2 pemudi desa berkebaya Jawa yang membawa ratusan gulungan surat yang dibagikan ke masyarakat di sekitar arakan. Surat bercerita akan Sejarah Ki Arsantaka sang penggagas Kadipaten Purbalingga di masa lalu dan mengingatkan bahwa tinggi rendahnya derajat suatu bangsa terletak pada budaya bangsanya.
Dalam atraksi peperangan di panggung Penghormatan Bupati, keauthentikan dari seni budaya jawa pun di tampilkan dengan adanya sulukan (kidung jawa) oleh sesepuh desa Admin Budiarjo di mana sulukan tersebut bercerita tentang gagah beraninya Ki Arsantaka dengan sikap kepemimpinan yang bijaksana dan menjadi tauladan rakyatnya. Selain itu Slamet Santosa selaku art director juga mengemukakan bahwa beberapa iringan gending perang merupakan hasil karya sendiri dari Pemuda Kie Seni dimana pemain karawitannya juga sangat bervariasai mulai dari anak SD, remaja dan juga pemuda.
Lihat Juga :