13 Hotel Saksi Bisu Sejarah Indonesia, Nomor 10 Pernah Jadi Markas Jenderal Sudirman
Sabtu, 02 November 2024 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun telah mengalami banyak perubahan, hotel ini tetap mempertahankan bagian depan bangunan asli yang mencerminkan arsitektur dari era awal berdirinya. Sehingga tetap menyimpan pesona sejarah yang khas di tengah perkembangan modern.
![13 Hotel Saksi Bisu Sejarah Indonesia, Nomor 10 Pernah Jadi Markas Jenderal Sudirman]()
Foto/Antara
Grand Inna Malioboro yang terletak di Jalan Malioboro No. 60, Yogyakarta, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan Indonesia. Awalnya dikenal sebagai Grand Hotel de Djokdja, hotel ini melayani tamu-tamu Gubernur Hindia Belanda dan militer selama masa kolonialisasi.
Selama penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama menjadi Asahi, sebelum akhirnya disebut Hotel Merdeka dan kemudian Grand Inna setelah Indonesia meraih kemerdekaan. Hotel yang kini menjadi cagar budaya itu pun pernah menjadi markas Jenderal Sudirman.
![13 Hotel Saksi Bisu Sejarah Indonesia, Nomor 10 Pernah Jadi Markas Jenderal Sudirman]()
Foto/Google Maps Hotel Pelangi
Hotel yang terletak di Jalan Merdeka Selatan, No. 3, Klojen, Malang, Jawa Timur ini memiliki sejarah yang panjang sejak didirikan pada 1916 dengan nama awal Palace Hotel. Selama penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Asoma.
Kemudian pada 1953, namanya berubah lagi menjadi Hotel Pelangi, yang dikenal hingga saat ini. Daya tarik utama hotel ini terletak pada kemampuannya untuk mempertahankan arsitektur asli dari berbagai periode, menjadikannya salah satu bangunan tua bersejarah di kota Malang yang menarik bagi para pengunjung.
![13 Hotel Saksi Bisu Sejarah Indonesia, Nomor 10 Pernah Jadi Markas Jenderal Sudirman]()
Foto/Google Maps Sriwijaya Hotel
Hotel yang terletak di Jalan Veteran No. 1, Gambir, Jakarta Pusat ini memiliki sejarah yang menarik sebagai bekas restoran yang dimiliki oleh Conrad Alexander William Cavadino. Pada masanya, restoran ini meraih kesuksesan besar, yang mendorong Cavadino untuk memperluas bisnisnya dengan membangun Hotel Cavadino, yang beroperasi dari 1898 hingga 1899.
Setelah itu, hotel ini berganti nama menjadi Lion d'Or, lalu Park Hotel pada 1941, dan lebih dikenal sebagai Hotel Sriwijaya pada 1950-an. Perubahan nama-nama ini mencerminkan perjalanan panjang dan transformasi hotel yang terus menjadi bagian dari sejarah Jakarta.
![13 Hotel Saksi Bisu Sejarah Indonesia, Nomor 10 Pernah Jadi Markas Jenderal Sudirman]()
Foto/Booking.com
Hotel Tjampuhan, salah satu hotel mewah tertua yang masih beroperasi di Bali terletak di Jalan Raya Tjampuhan, Ubud, Sayan. Awalnya, hotel ini dibangun sebagai wisma tamu kerajaan di Istana Ubud pada 1928 dan dibangun di bawah instruksi Raja Tjokorda Gede Sukawati.
Namun, pada 1970-an, hotel ini dibuka untuk umum. Daya tarik hotel ini semakin meningkat karena pernah disinggahi oleh pelukis asal Jerman, Walter Spies, yang menjadi tamu putra bungsu raja, Pangeran Tjokorda Gde Agung Sukawati. Hotel ini kini menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kombinasi kemewahan dan sejarah budaya Bali.
Baca Juga: 8 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan saat Menginap di Hotel
MG / Devina Natalia
10. Grand Inna Malioboro, Yogyakarta

Foto/Antara
Grand Inna Malioboro yang terletak di Jalan Malioboro No. 60, Yogyakarta, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan Indonesia. Awalnya dikenal sebagai Grand Hotel de Djokdja, hotel ini melayani tamu-tamu Gubernur Hindia Belanda dan militer selama masa kolonialisasi.
Selama penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama menjadi Asahi, sebelum akhirnya disebut Hotel Merdeka dan kemudian Grand Inna setelah Indonesia meraih kemerdekaan. Hotel yang kini menjadi cagar budaya itu pun pernah menjadi markas Jenderal Sudirman.
11. Hotel Pelangi, Malang

Foto/Google Maps Hotel Pelangi
Hotel yang terletak di Jalan Merdeka Selatan, No. 3, Klojen, Malang, Jawa Timur ini memiliki sejarah yang panjang sejak didirikan pada 1916 dengan nama awal Palace Hotel. Selama penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Asoma.
Kemudian pada 1953, namanya berubah lagi menjadi Hotel Pelangi, yang dikenal hingga saat ini. Daya tarik utama hotel ini terletak pada kemampuannya untuk mempertahankan arsitektur asli dari berbagai periode, menjadikannya salah satu bangunan tua bersejarah di kota Malang yang menarik bagi para pengunjung.
12. Hotel Sriwijaya, Jakarta

Foto/Google Maps Sriwijaya Hotel
Hotel yang terletak di Jalan Veteran No. 1, Gambir, Jakarta Pusat ini memiliki sejarah yang menarik sebagai bekas restoran yang dimiliki oleh Conrad Alexander William Cavadino. Pada masanya, restoran ini meraih kesuksesan besar, yang mendorong Cavadino untuk memperluas bisnisnya dengan membangun Hotel Cavadino, yang beroperasi dari 1898 hingga 1899.
Setelah itu, hotel ini berganti nama menjadi Lion d'Or, lalu Park Hotel pada 1941, dan lebih dikenal sebagai Hotel Sriwijaya pada 1950-an. Perubahan nama-nama ini mencerminkan perjalanan panjang dan transformasi hotel yang terus menjadi bagian dari sejarah Jakarta.
13. Hotel Tjampuhan, Bali

Foto/Booking.com
Hotel Tjampuhan, salah satu hotel mewah tertua yang masih beroperasi di Bali terletak di Jalan Raya Tjampuhan, Ubud, Sayan. Awalnya, hotel ini dibangun sebagai wisma tamu kerajaan di Istana Ubud pada 1928 dan dibangun di bawah instruksi Raja Tjokorda Gede Sukawati.
Namun, pada 1970-an, hotel ini dibuka untuk umum. Daya tarik hotel ini semakin meningkat karena pernah disinggahi oleh pelukis asal Jerman, Walter Spies, yang menjadi tamu putra bungsu raja, Pangeran Tjokorda Gde Agung Sukawati. Hotel ini kini menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kombinasi kemewahan dan sejarah budaya Bali.
Baca Juga: 8 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan saat Menginap di Hotel
MG / Devina Natalia
(dra)
Lihat Juga :