12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO
Sabtu, 23 November 2024 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya kaya akan sumber daya alam, Desa Tamansari juga mencetak prestasi sebagai juara pertama kategori Desa Digital dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Pengunjung yang ingin menikmati keindahan dan keunikan desa ini cukup membayar tiket masuk Rp20 ribu - Rp 25 ribu per orang.
![12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO]()
Foto/Wikipedia
Desa Naga, yang terletak di Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan desa yang masih sangat menjaga tradisi adat Sunda khas Jawa Barat. Desa ini dikenal dengan pemandangan alam yang asri dan rumah-rumah tradisional yang memperkuat suasana perdesaan yang tenang dan alami.
Keunikan desa ini terletak pada mitos yang beredar mengenai larangan memasuki kawasan hutan keramat yang ada di sekitarnya. Meski tidak ada biaya untuk memasuki desa ini, pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu wisata dengan biaya sekitar Rp150 ribu per rombongan, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam tentang budaya dan sejarah lokal.
![12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO]()
Foto/Wikipedia
Desa Sade, yang terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan sebuah desa yang memadukan tradisi dan kemajuan teknologi. Meskipun teknologi modern telah masuk ke desa ini, masyarakat Desa Sade tetap menjaga budaya leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi yang menarik perhatian wisatawan adalah praktik menculik pengantin wanita sebelum pernikahan, serta rumah-rumah dengan lantai yang terbuat dari kotoran sapi. Desa ini menjadi daya tarik wisata dengan biaya masuk sebesar Rp10 ribu - Rp15 ribu per orang, memberikan pengalaman yang unik bagi pengunjung yang ingin melihat keaslian budaya Sasak.
![12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO]()
Foto/Indonesia Travel
Desa Kete Kesu, yang terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu desa wisata yang kaya akan sejarah dan kebudayaan. Desa ini menyimpan berbagai barang peninggalan nenek moyang yang telah ada sejak 500 tahun lalu, menjadikannya daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang warisan Toraja.
Rumah-rumah tradisional di desa ini tetap mempertahankan bentuk atap khasnya yang panjang menyerupai perahu, dengan hiasan tanduk kerbau yang menjadi simbol budaya. Untuk menikmati keindahan dan warisan desa ini, wisatawan hanya perlu membayar biaya masuk sebesar Rp15 ribu per orang.
![12 Desa Wisata Unik di Indonesia, Nomor 3 Situs Kekayaan Dunia UNESCO]()
Foto/Jadesta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Desa Tablanusu, yang terletak di Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, menawarkan daya tarik alam yang unik dengan keindahan batu koral hitam yang tersebar di wilayahnya. Berjarak sekitar 60 km atau 2 jam perjalanan dari Kota Jayapura, desa ini dikenal dengan batu koral yang, konon, menghasilkan suara menyerupai isak tangis ketika diinjak.
Karena fenomena ini, desa ini sering disebut sebagai Desa Batu Menangis. Selain menikmati pemandangan alam, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan seperti memancing, berenang di pantai, hingga pijat refleksi alami dengan batu koral. Meskipun tidak ada biaya masuk untuk berkunjung, pengunjung yang ingin menginap akan dikenakan biaya sekitar Rp450 ribu hingga Rp700 ribu per malam.
MG / Devina
Baca Juga: Mengenal Wae Rebo, Desa Adat Terpencil di Labuan Bajo NTT yang Jadi Destinasi Favorit
9. Desa Naga

Foto/Wikipedia
Desa Naga, yang terletak di Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan desa yang masih sangat menjaga tradisi adat Sunda khas Jawa Barat. Desa ini dikenal dengan pemandangan alam yang asri dan rumah-rumah tradisional yang memperkuat suasana perdesaan yang tenang dan alami.
Keunikan desa ini terletak pada mitos yang beredar mengenai larangan memasuki kawasan hutan keramat yang ada di sekitarnya. Meski tidak ada biaya untuk memasuki desa ini, pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu wisata dengan biaya sekitar Rp150 ribu per rombongan, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam tentang budaya dan sejarah lokal.
10. Desa Sade

Foto/Wikipedia
Desa Sade, yang terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan sebuah desa yang memadukan tradisi dan kemajuan teknologi. Meskipun teknologi modern telah masuk ke desa ini, masyarakat Desa Sade tetap menjaga budaya leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi yang menarik perhatian wisatawan adalah praktik menculik pengantin wanita sebelum pernikahan, serta rumah-rumah dengan lantai yang terbuat dari kotoran sapi. Desa ini menjadi daya tarik wisata dengan biaya masuk sebesar Rp10 ribu - Rp15 ribu per orang, memberikan pengalaman yang unik bagi pengunjung yang ingin melihat keaslian budaya Sasak.
11. Desa Kete Kesu

Foto/Indonesia Travel
Desa Kete Kesu, yang terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu desa wisata yang kaya akan sejarah dan kebudayaan. Desa ini menyimpan berbagai barang peninggalan nenek moyang yang telah ada sejak 500 tahun lalu, menjadikannya daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang warisan Toraja.
Rumah-rumah tradisional di desa ini tetap mempertahankan bentuk atap khasnya yang panjang menyerupai perahu, dengan hiasan tanduk kerbau yang menjadi simbol budaya. Untuk menikmati keindahan dan warisan desa ini, wisatawan hanya perlu membayar biaya masuk sebesar Rp15 ribu per orang.
12. Desa Tablanusu

Foto/Jadesta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Desa Tablanusu, yang terletak di Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, menawarkan daya tarik alam yang unik dengan keindahan batu koral hitam yang tersebar di wilayahnya. Berjarak sekitar 60 km atau 2 jam perjalanan dari Kota Jayapura, desa ini dikenal dengan batu koral yang, konon, menghasilkan suara menyerupai isak tangis ketika diinjak.
Karena fenomena ini, desa ini sering disebut sebagai Desa Batu Menangis. Selain menikmati pemandangan alam, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan seperti memancing, berenang di pantai, hingga pijat refleksi alami dengan batu koral. Meskipun tidak ada biaya masuk untuk berkunjung, pengunjung yang ingin menginap akan dikenakan biaya sekitar Rp450 ribu hingga Rp700 ribu per malam.
MG / Devina
Baca Juga: Mengenal Wae Rebo, Desa Adat Terpencil di Labuan Bajo NTT yang Jadi Destinasi Favorit
(dra)
Lihat Juga :