Anak Muda Korea Selatan Semakin Takut Menikah dan Melahirkan
loading...
A
A
A
Sedangkan untuk topik cuti orang tua, ditemukan bahwa 37,8 persen unggahan berfokus pada pembagian peran dalam keluarga, 24,4 persen menyinggung sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan. Serta 19,6 persen mengangkat masalah praktis dan sosial terkait pelaksanaan cuti itu sendiri, menunjukkan bahwa meskipun kebijakan sudah tersedia, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan yang signifikan di lapangan.
KPPIF menegaskan bahwa peningkatan angka fertilitas total sebesar 0,75 pada 2024 kemungkinan besar disebabkan oleh pernikahan dan kelahiran yang tertunda akibat pandemi, dan bukan merupakan indikasi dari perubahan positif dalam pola pikir jangka panjang generasi muda terhadap pembentukan keluarga.
Oleh karena itu, lembaga ini menekankan bahwa perbaikan statistik fertilitas yang bersifat teknis belum cukup menjawab krisis demografi yang terjadi tanpa perubahan persepsi yang lebih fundamental.
Direktur Pusat Penelitian Populasi KPPIF Yoo Hye-jung, menyampaikan bahwa pemerintah dan sektor swasta perlu secara serius mempertimbangkan pendekatan yang lebih komprehensif dan manusiawi dalam mengembangkan kebijakan yang mendukung kehidupan keluarga.
Mulai dari menciptakan lingkungan kerja yang ramah terhadap keluarga hingga memperbaiki sistem cuti orang tua. Serta yang tak kalah penting, memastikan stabilitas perumahan dan bantuan nyata dalam pengasuhan anak agar generasi muda merasa lebih aman dan optimis dalam mengambil keputusan besar seperti menikah dan memiliki anak.
"Meskipun angka kelahiran meningkat secara statistik, persepsi kaum muda tentang pernikahan, kelahiran anak, dan pengasuhan anak tetap sangat negatif," kata Yoo Hye-jung.
KPPIF menegaskan bahwa peningkatan angka fertilitas total sebesar 0,75 pada 2024 kemungkinan besar disebabkan oleh pernikahan dan kelahiran yang tertunda akibat pandemi, dan bukan merupakan indikasi dari perubahan positif dalam pola pikir jangka panjang generasi muda terhadap pembentukan keluarga.
Oleh karena itu, lembaga ini menekankan bahwa perbaikan statistik fertilitas yang bersifat teknis belum cukup menjawab krisis demografi yang terjadi tanpa perubahan persepsi yang lebih fundamental.
Direktur Pusat Penelitian Populasi KPPIF Yoo Hye-jung, menyampaikan bahwa pemerintah dan sektor swasta perlu secara serius mempertimbangkan pendekatan yang lebih komprehensif dan manusiawi dalam mengembangkan kebijakan yang mendukung kehidupan keluarga.
Mulai dari menciptakan lingkungan kerja yang ramah terhadap keluarga hingga memperbaiki sistem cuti orang tua. Serta yang tak kalah penting, memastikan stabilitas perumahan dan bantuan nyata dalam pengasuhan anak agar generasi muda merasa lebih aman dan optimis dalam mengambil keputusan besar seperti menikah dan memiliki anak.
"Meskipun angka kelahiran meningkat secara statistik, persepsi kaum muda tentang pernikahan, kelahiran anak, dan pengasuhan anak tetap sangat negatif," kata Yoo Hye-jung.
(dra)
Lihat Juga :