Waspada! Narsis Berlebihan Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa
Kamis, 24 April 2025 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Konsep ini kemudian diangkat oleh Sigmund Freud, pelopor psikoanalisis modern, sebagai dasar pembentukan istilah "narsisme" dalam dunia psikologi.
Menurut psikologi, narsis merupakan sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membutuhkan pengakuan diri terus-menerus. Konsep ini berasal dari tokoh mitologi Yunani, Narkissos, yang akhirnya tenggelam karena terlalu terobsesi dengan bayangan dirinya sendiri.
Salah kaprah umum yang sering terjadi adalah menyamakan narsis dengan percaya diri. Padahal, keduanya sangat berbeda. Kepercayaan diri lahir dari pencapaian nyata, kerja keras, dan rasa syukur atas hasil yang diraih, serta tetap menghargai orang lain dalam prosesnya.
Sementara itu, narsisme sering kali dilandasi oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik dari orang lain. Ini menjadikan penderitanya sulit berempati dan cenderung meremehkan orang lain.
Baca Juga: Studi: Orang Narsis Cenderung Abaikan Pedoman Pandemi
Menurut psikologi, narsis merupakan sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membutuhkan pengakuan diri terus-menerus. Konsep ini berasal dari tokoh mitologi Yunani, Narkissos, yang akhirnya tenggelam karena terlalu terobsesi dengan bayangan dirinya sendiri.
Narsis Bukan Percaya Diri
Salah kaprah umum yang sering terjadi adalah menyamakan narsis dengan percaya diri. Padahal, keduanya sangat berbeda. Kepercayaan diri lahir dari pencapaian nyata, kerja keras, dan rasa syukur atas hasil yang diraih, serta tetap menghargai orang lain dalam prosesnya.
Sementara itu, narsisme sering kali dilandasi oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik dari orang lain. Ini menjadikan penderitanya sulit berempati dan cenderung meremehkan orang lain.
Baca Juga: Studi: Orang Narsis Cenderung Abaikan Pedoman Pandemi
Lihat Juga :