Waspada! Narsis Berlebihan Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa
Kamis, 24 April 2025 - 14:00 WIB
loading...
Kata narsis kini menjadi istilah umum di media sosial, menggambarkan orang yang gemar menampilkan dirinya. Narsis bisa berkembang menjadi gangguan jiwa. Foto/iStock Photo
A
A
A
JAKARTA - Kata narsis kini menjadi istilah umum di media sosial, menggambarkan orang yang gemar menampilkan dirinya secara berlebihan di dunia maya. Namun secara psikologis, narsis berbeda makna dan bahkan bisa berkembang menjadi gangguan jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.
Meski terlihat sepele, dorongan terus-menerus untuk tampil dan mendapatkan validasi publik bisa berdampak pada kesehatan mental. Bahkan, dalam dunia psikologi, perilaku semacam ini bisa mengarah pada gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Baca Juga: 3 Zodiak Ini Hobi Memuji Diri Sendiri, Narsis Banget!
Menuru Psikolog Bipi Consulting, Arnita, secara psikologis, narsis merujuk pada perilaku mencintai diri sendiri secara berlebihan hingga meragukan penilaian positif dari orang lain. Orang yang narsis kerap merasa dirinya paling benar dan hebat, yang mana pengakuan atas kehebatannya hanya boleh datang dari dirinya sendiri.
Istilah ini berasal dari mitologi Yunani, dari kisah tragis Narkissos, seorang pemuda yang terpesona pada bayangan dirinya sendiri di permukaan air hingga akhirnya tenggelam karena terlalu larut dalam kekaguman terhadap dirinya.
Konsep ini kemudian diangkat oleh Sigmund Freud, pelopor psikoanalisis modern, sebagai dasar pembentukan istilah "narsisme" dalam dunia psikologi.
Menurut psikologi, narsis merupakan sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membutuhkan pengakuan diri terus-menerus. Konsep ini berasal dari tokoh mitologi Yunani, Narkissos, yang akhirnya tenggelam karena terlalu terobsesi dengan bayangan dirinya sendiri.
Salah kaprah umum yang sering terjadi adalah menyamakan narsis dengan percaya diri. Padahal, keduanya sangat berbeda. Kepercayaan diri lahir dari pencapaian nyata, kerja keras, dan rasa syukur atas hasil yang diraih, serta tetap menghargai orang lain dalam prosesnya.
Sementara itu, narsisme sering kali dilandasi oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik dari orang lain. Ini menjadikan penderitanya sulit berempati dan cenderung meremehkan orang lain.
Baca Juga: Studi: Orang Narsis Cenderung Abaikan Pedoman Pandemi
Narsistik bukan sekadar kebiasaan pamer atau ingin tampil sempurna. Jika terus berlanjut, sifat ini bisa berubah menjadi NPD, sebuah kondisi psikologis yang membuat seseorang memiliki pandangan tidak realistis terhadap kehebatan dirinya. Berikut ciri-cirinya.
1. Merasa dirinya paling penting.
2. Merasa dirinya hebat, meskipun tanpa prestasi.
3. Membual tentang kehebatan dirinya di segala bidang.
4. Menganggap dirinya hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu saja.
5, Haus akan pujian. Contoh di media sosial adalah jika mereka memasang foto (baik foto sedang bergaya atau foto sedang beraktivitas), mereka ingin dikomentari dengan pujian atau di like sebanyak-banyaknya.
6. Memiliki jiwa oportunis.
7. Tidak memiliki rasa empati sama sekali.
8. Bersikap cemburu dan iri terhadap orang lain, dan menganggap orang lain juga bersikap begitu terhadap dirinya.
Meskipun begitu, tidak semua perilaku narsistik langsung menandakan gangguan jiwa. Namun, jika sudah mengganggu kehidupan sosial dan emosional, kondisi ini perlu penanganan psikologis yang tepat agar tidak berkembang menjadi masalah kejiwaan serius.
Baca Juga: Pakar Seks Sebut Foto Narsis Bugil Mampu Tingkatkan Kesehatan Seksual
Meski terlihat sepele, dorongan terus-menerus untuk tampil dan mendapatkan validasi publik bisa berdampak pada kesehatan mental. Bahkan, dalam dunia psikologi, perilaku semacam ini bisa mengarah pada gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Apa Itu Narsis dan Bagaimana Asalnya?
Baca Juga: 3 Zodiak Ini Hobi Memuji Diri Sendiri, Narsis Banget!
Menuru Psikolog Bipi Consulting, Arnita, secara psikologis, narsis merujuk pada perilaku mencintai diri sendiri secara berlebihan hingga meragukan penilaian positif dari orang lain. Orang yang narsis kerap merasa dirinya paling benar dan hebat, yang mana pengakuan atas kehebatannya hanya boleh datang dari dirinya sendiri.
Istilah ini berasal dari mitologi Yunani, dari kisah tragis Narkissos, seorang pemuda yang terpesona pada bayangan dirinya sendiri di permukaan air hingga akhirnya tenggelam karena terlalu larut dalam kekaguman terhadap dirinya.
Konsep ini kemudian diangkat oleh Sigmund Freud, pelopor psikoanalisis modern, sebagai dasar pembentukan istilah "narsisme" dalam dunia psikologi.
Menurut psikologi, narsis merupakan sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membutuhkan pengakuan diri terus-menerus. Konsep ini berasal dari tokoh mitologi Yunani, Narkissos, yang akhirnya tenggelam karena terlalu terobsesi dengan bayangan dirinya sendiri.
Narsis Bukan Percaya Diri
Salah kaprah umum yang sering terjadi adalah menyamakan narsis dengan percaya diri. Padahal, keduanya sangat berbeda. Kepercayaan diri lahir dari pencapaian nyata, kerja keras, dan rasa syukur atas hasil yang diraih, serta tetap menghargai orang lain dalam prosesnya.
Sementara itu, narsisme sering kali dilandasi oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik dari orang lain. Ini menjadikan penderitanya sulit berempati dan cenderung meremehkan orang lain.
Baca Juga: Studi: Orang Narsis Cenderung Abaikan Pedoman Pandemi
Narsisme Berkembang Menjadi Gangguan Kepribadian
Narsistik bukan sekadar kebiasaan pamer atau ingin tampil sempurna. Jika terus berlanjut, sifat ini bisa berubah menjadi NPD, sebuah kondisi psikologis yang membuat seseorang memiliki pandangan tidak realistis terhadap kehebatan dirinya. Berikut ciri-cirinya.
1. Merasa dirinya paling penting.
2. Merasa dirinya hebat, meskipun tanpa prestasi.
3. Membual tentang kehebatan dirinya di segala bidang.
4. Menganggap dirinya hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu saja.
5, Haus akan pujian. Contoh di media sosial adalah jika mereka memasang foto (baik foto sedang bergaya atau foto sedang beraktivitas), mereka ingin dikomentari dengan pujian atau di like sebanyak-banyaknya.
6. Memiliki jiwa oportunis.
7. Tidak memiliki rasa empati sama sekali.
8. Bersikap cemburu dan iri terhadap orang lain, dan menganggap orang lain juga bersikap begitu terhadap dirinya.
Meskipun begitu, tidak semua perilaku narsistik langsung menandakan gangguan jiwa. Namun, jika sudah mengganggu kehidupan sosial dan emosional, kondisi ini perlu penanganan psikologis yang tepat agar tidak berkembang menjadi masalah kejiwaan serius.
Baca Juga: Pakar Seks Sebut Foto Narsis Bugil Mampu Tingkatkan Kesehatan Seksual
(dra)
Lihat Juga :