Qory Sandioriva: Bangkit dari Autoimun, Siap Kembali Bersinar di Dunia Hiburan!
Selasa, 29 April 2025 - 09:18 WIB
loading...
Puteri Indonesia 2009 dan Duta Autoimun NKRI, Qory Sandioriva.
A
A
A
JAKARTA - Puteri Indonesia 2009 dan Duta Autoimun NKRI, Qory Sandioriva membagikan pengalaman hidupnya dalam menangani penyakit autoimun serta pentingnya pentingnya pemeriksaan kesehatan, khususnya terkait autoimun, bagi perempuan
Dalam talkshow offline yang bertajuk #DengarkanTubuhmu: Medical Check Up dalam Berbagai Fase Kehidupan Perempuan", Qory membuka diri tentang awal dirinya menyadari adanya gangguan autoimun dalam tubuhnya.
Dia menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi sejak diagnosis, serta bagaimana kondisi kesehatan tersebut memengaruhi kehidupan sehari-harinya. Dengan penuh semangat, Qory juga berbagi strategi dan upayanya dalam meningkatkan kualitas hidup, meskipun hidup disertai dengan autoimun.
“Awalnya terasa berat dan penuh kedinginan, namun dengan pemahaman yang benar dan dukungan yang tepat, kita bisa belajar untuk hidup berdampingan dengan autoimun dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik,” ungkap Qory dalam keterangannya, belum lama ini.
Qory sendiri mengaku bahwa dia telah hidup berdampingan dengan tiga penyakit autoimun sejak usia 16 tahun: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Sjogren's syndrome, dan Inflammatory Bowel Disease (IBD).
"Saya sudah mengidap penyakit ini selama 17 tahun, dari usia saya 16 tahun hingga sekarang 33 tahun. Mungkin di sini sebagai sesama perempuan, saya juga ingin mengingatkan kepada ibu-ibu semua, kakak-kakak semua yang ada di sini bahwa mungkin di Indonesia belum ada datanya, ya, pemerintah kita belum mendata berapa banyak orang yang mengidap penyakit autoimun," kenang Qory.
"Tapi di Inggris sendiri itu sudah 15 persen orang terkena penyakit autoimun, bahkan sampai kehilangan pekerjaannya. Jadi menurut saya penyakit autoimun ini salah satu hal yang menjadi konsentrasi kita semua karena satu, bisa menghalangi kegiatan dan aktivitas kita setiap hari, bisa merusak mental health kita juga," imbuhnya menambahkan.
Penyakit autoimun tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tapi juga mental dan sosial. Qory mengisahkan bagaimana dirinya sempat kesulitan memiliki anak, mengalami masalah kulit hingga hampir kehilangan semangat hidup. "Autoimun itu seperti mati-hidup-mati-hidup, kadang kita sehat, tapi tiba-tiba bisa sakit parah hanya dalam hitungan jam," jelasnya.
Qory juga mengungkapkan bahwa di masa awal diagnosis, banyak masyarakat yang tidak memahami apa itu autoimun. Bahkan, lupus sempat disalahpahami sebagai penyakit menular layaknya HIV/AIDS. Hal ini membuat banyak penyintas enggan membuka diri dan menutup-nutupi kondisinya karena stigma.
Oleh karenanya, lewat pengalamannya, Qory menekankan betapa pentingnya melakukan pemeriksaan autoimun secara rutin, terutama bagi perempuan usia produktif. "Autoimun bisa menyerang siapa saja, bahkan bayi sekalipun. Tapi dengan pemeriksaan dini, kita bisa mencegah kerusakan organ lebih lanjut," jelasnya.
Qory mengaku pada awalnya menjalani hidup dengan autoimun ini dia sempat insecure di komplain orang lain karena badan gemuk dan dikomplain setiap kerjaan selalu sakit pada akhirnya coba melepaskan mindset itu hingga sharing dokter membuat dirinya tampil apa adanya lebih mudah.
“Ternyata memang diri kita butuh diterima diri sendiri yang akhirnya membuat aku sadar butuh kompromi saja sehingga memiliki mindset yang positif ketika mengalami sesuatu sehingga tampil apa adanya bisa cepet kurus yang membantu untuk comeback,”ungkapnya
Menurut Qory, dukungan dari tim medis, keluarga, serta mindset positif sangat membantu dalam menjalani kehidupan sebagai penyintas autoimun. "Dicerdaskan imunnya, bukan ditidurkan. Bukan dikasih obat ditidurin, tapi dicerdaskan," tutur Qory.
"Bagaimana cara mencerdaskannya? Adalah dengan kita melatih mindset kita, salah satunya dengan itu (pemeriksaan dini), dengan obat. Obat kita juga akan diremisi. Jadi sekarang pun Indonesia juga dokter sudah pro untuk remisi obat," ucapnya lagi.
Sebagai seorang survivor autoimun, Qory memberikan pendapat mengenai jenis-jenis pemeriksaan kesehatan yang sebaiknya dilakukan perempuan untuk mendeteksi autoimun sedini mungkin dan kini dia pun mantap dan terus berusaha untuk kembali ke dunia entertainment yang membesarkan namanya .
“Aku lagi berusaha comeback dunia entertain ngurusin badan banyak inspirasi orang lain mengenai autoimun lagi aktif dari tahun 2022 lagi kegiatan duta satwa lagi belajar nge mc, intinya performing art mau modeling, akting yang support bisa comeback entertainment,”tuturnya
Untuk adaptasi comeback dunia hiburan ini otomatis dan kebetulan inline sambil sembuh penyakit disuruh diet di putri Indonesia Artika Sari Devi karena gimana pun pas sakit banyak memori kita yang loss, cara kita akui jangan karena senior gak mau belajar. Dengan belajar kita akan menjadi diri yang lebih hebat dan orang percaya sama kita.
Sebagai bagian dari #DengarkanTubuhmu, wanita kelahiran Jakarta, 17 Agustus 1991 ini pun menyerukan kepada seluruh perempuan Indonesia untuk lebih peka terhadap sinyal dari tubuh mereka. Kelelahan ekstrem, gangguan kulit, masalah reproduksi, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem bisa menjadi gejala awal penyakit autoimun.
"Perempuan itu fondasi keluarga dan masa depan bangsa. Jangan abaikan kesehatanmu. Kalau kamu sehat, kamu bisa jadi kuat bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk sekelilingmu," tutur Qory.
Lebih lanjut, Qory pun menekankan bahwa wanita sekarang banyak insecure dan gimana caranya dari insecure jadi percaya diri bukan lah berperang dengan medsos atau opini negatif orang diluar sana tapi yang utama berperang dengan diri sendiri.
“Buat aku yang dibutuhkan wanita sekarang berdamai dan percaya sama diri sendiri jadilah perempuan yang bahagia bukan terkungkung dengan stigma yang sebenarnya sudah bebas,”tutupnya
Dalam talkshow offline yang bertajuk #DengarkanTubuhmu: Medical Check Up dalam Berbagai Fase Kehidupan Perempuan", Qory membuka diri tentang awal dirinya menyadari adanya gangguan autoimun dalam tubuhnya.
Dia menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi sejak diagnosis, serta bagaimana kondisi kesehatan tersebut memengaruhi kehidupan sehari-harinya. Dengan penuh semangat, Qory juga berbagi strategi dan upayanya dalam meningkatkan kualitas hidup, meskipun hidup disertai dengan autoimun.
“Awalnya terasa berat dan penuh kedinginan, namun dengan pemahaman yang benar dan dukungan yang tepat, kita bisa belajar untuk hidup berdampingan dengan autoimun dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik,” ungkap Qory dalam keterangannya, belum lama ini.
Qory sendiri mengaku bahwa dia telah hidup berdampingan dengan tiga penyakit autoimun sejak usia 16 tahun: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Sjogren's syndrome, dan Inflammatory Bowel Disease (IBD).
"Saya sudah mengidap penyakit ini selama 17 tahun, dari usia saya 16 tahun hingga sekarang 33 tahun. Mungkin di sini sebagai sesama perempuan, saya juga ingin mengingatkan kepada ibu-ibu semua, kakak-kakak semua yang ada di sini bahwa mungkin di Indonesia belum ada datanya, ya, pemerintah kita belum mendata berapa banyak orang yang mengidap penyakit autoimun," kenang Qory.
"Tapi di Inggris sendiri itu sudah 15 persen orang terkena penyakit autoimun, bahkan sampai kehilangan pekerjaannya. Jadi menurut saya penyakit autoimun ini salah satu hal yang menjadi konsentrasi kita semua karena satu, bisa menghalangi kegiatan dan aktivitas kita setiap hari, bisa merusak mental health kita juga," imbuhnya menambahkan.
Penyakit autoimun tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tapi juga mental dan sosial. Qory mengisahkan bagaimana dirinya sempat kesulitan memiliki anak, mengalami masalah kulit hingga hampir kehilangan semangat hidup. "Autoimun itu seperti mati-hidup-mati-hidup, kadang kita sehat, tapi tiba-tiba bisa sakit parah hanya dalam hitungan jam," jelasnya.
Qory juga mengungkapkan bahwa di masa awal diagnosis, banyak masyarakat yang tidak memahami apa itu autoimun. Bahkan, lupus sempat disalahpahami sebagai penyakit menular layaknya HIV/AIDS. Hal ini membuat banyak penyintas enggan membuka diri dan menutup-nutupi kondisinya karena stigma.
Oleh karenanya, lewat pengalamannya, Qory menekankan betapa pentingnya melakukan pemeriksaan autoimun secara rutin, terutama bagi perempuan usia produktif. "Autoimun bisa menyerang siapa saja, bahkan bayi sekalipun. Tapi dengan pemeriksaan dini, kita bisa mencegah kerusakan organ lebih lanjut," jelasnya.
Qory mengaku pada awalnya menjalani hidup dengan autoimun ini dia sempat insecure di komplain orang lain karena badan gemuk dan dikomplain setiap kerjaan selalu sakit pada akhirnya coba melepaskan mindset itu hingga sharing dokter membuat dirinya tampil apa adanya lebih mudah.
“Ternyata memang diri kita butuh diterima diri sendiri yang akhirnya membuat aku sadar butuh kompromi saja sehingga memiliki mindset yang positif ketika mengalami sesuatu sehingga tampil apa adanya bisa cepet kurus yang membantu untuk comeback,”ungkapnya
Menurut Qory, dukungan dari tim medis, keluarga, serta mindset positif sangat membantu dalam menjalani kehidupan sebagai penyintas autoimun. "Dicerdaskan imunnya, bukan ditidurkan. Bukan dikasih obat ditidurin, tapi dicerdaskan," tutur Qory.
"Bagaimana cara mencerdaskannya? Adalah dengan kita melatih mindset kita, salah satunya dengan itu (pemeriksaan dini), dengan obat. Obat kita juga akan diremisi. Jadi sekarang pun Indonesia juga dokter sudah pro untuk remisi obat," ucapnya lagi.
Sebagai seorang survivor autoimun, Qory memberikan pendapat mengenai jenis-jenis pemeriksaan kesehatan yang sebaiknya dilakukan perempuan untuk mendeteksi autoimun sedini mungkin dan kini dia pun mantap dan terus berusaha untuk kembali ke dunia entertainment yang membesarkan namanya .
“Aku lagi berusaha comeback dunia entertain ngurusin badan banyak inspirasi orang lain mengenai autoimun lagi aktif dari tahun 2022 lagi kegiatan duta satwa lagi belajar nge mc, intinya performing art mau modeling, akting yang support bisa comeback entertainment,”tuturnya
Untuk adaptasi comeback dunia hiburan ini otomatis dan kebetulan inline sambil sembuh penyakit disuruh diet di putri Indonesia Artika Sari Devi karena gimana pun pas sakit banyak memori kita yang loss, cara kita akui jangan karena senior gak mau belajar. Dengan belajar kita akan menjadi diri yang lebih hebat dan orang percaya sama kita.
Sebagai bagian dari #DengarkanTubuhmu, wanita kelahiran Jakarta, 17 Agustus 1991 ini pun menyerukan kepada seluruh perempuan Indonesia untuk lebih peka terhadap sinyal dari tubuh mereka. Kelelahan ekstrem, gangguan kulit, masalah reproduksi, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem bisa menjadi gejala awal penyakit autoimun.
"Perempuan itu fondasi keluarga dan masa depan bangsa. Jangan abaikan kesehatanmu. Kalau kamu sehat, kamu bisa jadi kuat bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk sekelilingmu," tutur Qory.
Lebih lanjut, Qory pun menekankan bahwa wanita sekarang banyak insecure dan gimana caranya dari insecure jadi percaya diri bukan lah berperang dengan medsos atau opini negatif orang diluar sana tapi yang utama berperang dengan diri sendiri.
“Buat aku yang dibutuhkan wanita sekarang berdamai dan percaya sama diri sendiri jadilah perempuan yang bahagia bukan terkungkung dengan stigma yang sebenarnya sudah bebas,”tutupnya
(tar)
Lihat Juga :