Sentuhan Murni Ibu: Abadikan Keajaiban ASI dalam Perhiasan yang Memukau
Sabtu, 03 Mei 2025 - 19:42 WIB
loading...
A
A
A
Dengan modal awal hanya Rp351.000, kini Abreena mampu meraup omzet bulanan hingga Rp80 juta. Mereka memproduksi sekitar 70–130 perhiasan per bulan. Harga produknya pun beragam, mulai dari Rp279.000 hingga lebih dari Rp2 juta, tergantung bahan seperti titanium, stainless steel, perak, hingga emas. Produk rosario menjadi salah satu favorit pelanggan, dengan harga hingga Rp2,9 juta.
“Kita memastikan, meskipun barang termurah yang dijual di Abreena, itu semua sudah berbahan anti karat. Kita ingin memberikan yang terbaik buat pelanggan. Kita tidak ingin membebani, karena para ibu berhak untuk mendapat penghargaan dari memberikan ASI kepada anak-anaknya,” tambah Febrina.
Dalam distribusinya, mereka mengandalkan TIKI, khususnya layanan SERLOK, yang menawarkan diskon ongkir, pick-up gratis, dan pelatihan bisnis. Ini memudahkan pengiriman ASI dari pelanggan yang ingin membuat perhiasan personal mereka.
Tak hanya soal omzet, Abreena juga membawa dampak sosial. Mereka mempekerjakan perempuan dan bahkan membantu pendidikan lanjut sebagian karyawan. “Kita lebih ingin punya dampak. Kalau ditanya bisnis ingin jadi lebih besar, akan sebesar apa? Sepertinya kita akan tetap bertahan produksi di rumah sendiri, tetapi ingin punya impact lebih banyak ke perempuan dan anak-anak,” tutup Febrina
“Kita memastikan, meskipun barang termurah yang dijual di Abreena, itu semua sudah berbahan anti karat. Kita ingin memberikan yang terbaik buat pelanggan. Kita tidak ingin membebani, karena para ibu berhak untuk mendapat penghargaan dari memberikan ASI kepada anak-anaknya,” tambah Febrina.
Dalam distribusinya, mereka mengandalkan TIKI, khususnya layanan SERLOK, yang menawarkan diskon ongkir, pick-up gratis, dan pelatihan bisnis. Ini memudahkan pengiriman ASI dari pelanggan yang ingin membuat perhiasan personal mereka.
Tak hanya soal omzet, Abreena juga membawa dampak sosial. Mereka mempekerjakan perempuan dan bahkan membantu pendidikan lanjut sebagian karyawan. “Kita lebih ingin punya dampak. Kalau ditanya bisnis ingin jadi lebih besar, akan sebesar apa? Sepertinya kita akan tetap bertahan produksi di rumah sendiri, tetapi ingin punya impact lebih banyak ke perempuan dan anak-anak,” tutup Febrina
(tar)
Lihat Juga :