Mengenal Diabetes Tipe 5, Jenis Baru yang Kini Diakui Dunia Medis
Selasa, 13 Mei 2025 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Pasien-pasien ini tidak menunjukkan gejala khas diabetes tipe 1 atau tipe 2, dan kerap mendapatkan penanganan yang tidak tepat, seperti terapi insulin berlebihan, yang justru berisiko menurunkan kadar gula darah secara ekstrem.
Hingga saat ini, belum ada protokol pengobatan standar untuk diabetes tipe 5. Banyak pasien tidak bertahan lebih dari satu tahun setelah diagnosis karena lambatnya intervensi medis dan kurangnya pemahaman akan kondisi tersebut.
Baca Juga: Tips Berpuasa bagi Penderita Diabetes, Pastikan Gula Darah Terkontrol
Namun, Hawkins menyarankan pola makan tinggi protein dan rendah karbohidrat, serta penanganan intensif terhadap kekurangan zat gizi mikro sebagai langkah awal yang mungkin membantu.
Kini, dengan mandat resmi dari IDF, para peneliti dan praktisi kesehatan global diharapkan bisa menyusun pendekatan pengobatan yang lebih tepat, sekaligus mendorong studi lanjut untuk menyelamatkan jutaan jiwa yang hidup dalam risiko.
“Diabetes tipe 5 tidak hanya lebih umum daripada tuberkulosis, tapi juga mendekati tingkat prevalensi HIV/AIDS di beberapa wilayah. Pengakuan ini sangat diperlukan agar dunia tidak lagi menutup mata,” pungkas Hawkins.
Hingga saat ini, belum ada protokol pengobatan standar untuk diabetes tipe 5. Banyak pasien tidak bertahan lebih dari satu tahun setelah diagnosis karena lambatnya intervensi medis dan kurangnya pemahaman akan kondisi tersebut.
Baca Juga: Tips Berpuasa bagi Penderita Diabetes, Pastikan Gula Darah Terkontrol
Namun, Hawkins menyarankan pola makan tinggi protein dan rendah karbohidrat, serta penanganan intensif terhadap kekurangan zat gizi mikro sebagai langkah awal yang mungkin membantu.
Kini, dengan mandat resmi dari IDF, para peneliti dan praktisi kesehatan global diharapkan bisa menyusun pendekatan pengobatan yang lebih tepat, sekaligus mendorong studi lanjut untuk menyelamatkan jutaan jiwa yang hidup dalam risiko.
“Diabetes tipe 5 tidak hanya lebih umum daripada tuberkulosis, tapi juga mendekati tingkat prevalensi HIV/AIDS di beberapa wilayah. Pengakuan ini sangat diperlukan agar dunia tidak lagi menutup mata,” pungkas Hawkins.
(dra)
Lihat Juga :